Wah.. akibat menunda sedikit menulis Blog, tak terasa ini sudah masuk Ramadhan yang ke sembilan.. Okelah, tak apa-apa.. tinggal flash back sedikit, apa saja ya yang aku lalui saat 7 Ramadhan.. :-)
***
Oh iya, barusan aku lihat FB ku di Fatmah Ramadhani Ginting.. aku baru ingat, waktu hari selasa itu lagi berkesan banget baca tulisannya ustadz Arief B. Iskandar. Let's check it out :-)
#Doa
Suatu ketika, dalam Perang Badar, Rasulullah saw. pernah
meminta pertolongan kepada Allah Swt. dan berdoa kepada-Nya begitu lama,
begitu khusyuk dan sungguh-sungguh hingga baju luar Beliau jatuh. Lalu
Abu Bakar ra. berkata kepada Beliau, “Wahai Rasulullah, sudah cukup
doamu kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia akan menunaikan apa yang telah Dia janjikan kepadamu.” (HR Muslim, at-Tirmidzi dan Ahmad).
Abu Bakar benar. Allah Swt. kemudian memberikan kemenangan kepada
Rasulullah saw. dan kaum Muslim dalam Perang Badar atas orang-orang
kafir.
Ketika hijrah, Rasulullah saw. melepaskan ‘panah’ doa
kepada Suraqah. Tiba-tiba, kuda Suraqah terperosok ke tanah setiap kali
terkena ‘panah’ doa Rasulullah saw. Suraqah baru berhenti dari
kesalahannya setelah berjanji kepada Rasulullah saw. dan Abu Bakar ra.
bahwa ia akan membiarkan keduanya meneruskan perjalanan (HR al-Bukhari,
Muslim dan Ahmad).
Dengan doa pula, Nabi Nuh as. beserta kaum
Mukmin diselamatkan oleh Allah Swt., sementara orang-orang kafir
ditenggelamkan (QS al-Qamar [54]: 10-14); Nabi Yunus as. diselamatkan
oleh Allah dari perut ikan paus (QS al-Anbiya’ [21]: 87-88); Nabi Ayyub
as. diangkat musibahnya oleh Allah (QS al-Anbiya’ [21]: 83-84); Nabi
Musa as. diselamatkan oleh Allah dari kejaran Fir’aun dan pasukannya (QS
al-Qashash [28]: 21).
Contoh-contoh semisal ini sangat banyak.
Karena itu, doa tidak bisa dianggap sepele. Para nabi dan rasul,
termasuk Baginda Rasulullah saw. sendiri biasa berdoa, bahkan dengan
kadar yang sangat luar biasa. Sebab, selain merupakan bentuk ibadah
kepada Allah, doa juga merupakan faktor penting bagi datangnya kebaikan,
hilangnya keburukan, turunnya rahmat, sirnanya penderitaan dan
tercapainya kemenangan.
Karena itu, setiap aktivis Islam
hendaknya terbiasa memanjatkan doa dan memohon kemenangan kepada Allah
Swt. demi kejayaan Islam dan kemuliaan kaum Muslim. Jika ia ingin
mengajak seseorang untuk berkomitmen dengan Islam, hendaknya ia berdoa
kepada Allah agar memberinya hidayah melalui perantara dirinya. Jika ia
telah membuat suatu rencana dakwah, hendaklah ia memperbanyak berdoa
kepada Allah agar rencana dakwahnya sukses dan penuh berkah.
Sungguh aneh kalau ada aktivis Islam yang jarang berdoa untuk kemuliaan
Islam dan kemenangan dakwahnya. Sama anehnya jika ia tidak pernah
mendoakan kedua orangtuanya, saudara-saudaranya, para sahabatnya dan
kaum Muslim secara umum.
Yang juga aneh, ada aktivis Islam yang
tidak pernah sekalipun mendoakan atau memintakan ampunan untuk amir atau
qiyâdah-nya, guru atau ustadznya—yang selama ini mengajarinya ilmu-ilmu
agama dan membinanya—baik saat mereka hidup maupun setelah mereka
meninggal dunia.
Padahal, lihatlah Imam Ahmad, yang selalu
mendoakan Imam Syafii, gurunya, setiap usai shalat. Suatu ketika ia
berkata kepada putra Imam Syafii, “Ayahmu adalah salah seorang dari enam
orang yang selalu aku doakan setiap usai shalat.”
Setiap
aktivis Islam hendaknya mengingat di dalam doanya siapa saja yang pernah
berkontribusi besar untuk Islam; misalnya mereka yang pertama kali
berdakwah ke jalan Allah di daerahnya, kampusnya atau negaranya. Dulu
Kaab bin Malik ra. sering mendoakan Saad bin Zurarah ra. dan memintakan
ampunan kepada Allah Swt. untuknya setiap kali mendengar azan shalat
Jumat. Putra Kaab bin Malik sampai bertanya, “Ayah, mengapa setiap kali
mendengar azan shalat Jumat, Ayah mendoakan Saad bin Zurarah?” Kaab bin
Malik berkata, “Anakku, Saad bin Zurarah adalah orang yang pertama kali
menyelenggarakan shalat Jumat di Madinah.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan
al-Hakim).
Setiap aktivis Islam sejatinya membiasakan diri
mendoakan pendiri sekaligus perintis gerakan dakwahnya; para
pendahulunya dalam jamaah dakwahnya yang telah meninggal dunia; amir dan
qiyâdah-nya; para pengurus, musyrif dan para dâris-nya; juga mendoakan
seluruh aktivis Islam yang berjuang untuk menolong Islam dan kaum
Muslim.
Aktivis Islam juga hendaknya rutin mendoakan para
tawanan Muslim di seluruh dunia. Mereka lebih berhak didoakan. Sebab,
mereka banyak yang menderita dan mengalami berbagai macam kesulitan yang
tiada henti; mereka berada di tangan musuh yang dapat berbuat apa saja
terhadap mereka.
Rasulullah saw. pernah melakukan doa qunut
selama sebulan penuh ‘hanya’ untuk mendoakan tiga tawanan Muslim di
Makkah. Ketika itu orang-orang musyrik menyiksa mereka dan merayu mereka
untuk murtad dari Islam. (HR al-Bukhari, Muslim dan Nasa’i).
Setiap aktivis Islam juga hendaknya biasa mendoakan keburukan atas
musuh-musuh Islam dan kaum Muslim yang memerangi Islam serta
menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. Mereka juga harus mendoakan
keburukan atas gembong-gembong kafir, tokoh-tokoh sekular dan
kroni-kroni mereka; sebagaimana dulu dilakukan oleh Rasulullah saw.
Beliau melakukan doa qunut sebulan penuh guna mendoakan keburukan atas
Ri’il, Dzakwan dan Ushaiyyah yang membunuh para Sahabat Beliau di Sumur
Ma’unah (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ahmad). Beliau
juga mendoakan keburukan atas Kisra Raja Persia, yang merobek-robek
surat Beliau. Beliau berdoa kepada Allah agar merobek-robek Kerajaan
Kisra hingga hancur (HR al-Bukhari dan Ahmad).
Setiap aktivis
Islam juga hendaknya tidak lupa mendoakan orang-orang awam kaum Muslim
agar mereka mendapat hidayah dan taufik serta kembali pada kebenaran dan
jalan lurus; lebih khusus lagi mendoakan generasi muda kaum Muslim. Hal
ini penting dilakukan demi meniru Rasulullah saw. yang berdoa, “Ya
Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak tahu.” (HR
al-Bukhari, Ibnu Majah dan Ahmad).
Semua itu Beliau lakukan
demi semakin banyaknya manusia yang mendapatkan hidayah dan taufik
hingga mereka masuk Islam, sekaligus menjadi pendukung dakwahnya, agar
agama Allah ini cepat menyebar; hukum-hukum-Nya segera tegak; dan ‘izzah
al-Islâm wa al-Muslimîn segera terwujud.
Semoga kita pun
terbiasa memanjatkan doa sebagaimana doa-doa yang biasa Rasulullah saw.
panjatkan. Wa mâ tawfîqî illâ billâh. [Arief B. Iskandar]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar