Home Republika Online Koran » Dialog Jumat
Jumat, 18 Februari 2011 pukul 08:21:00
LAPORAN UTAMA
Oleh Indah Wulandari
Mereka menanggalkan cara konvensional agar dakwah lebih menarik.
Semangat dakwah bukan monopoli kaum dai. Keinginan untuk berislam dan menyebarkan nilai-nilai Islam juga menjangkiti anak-anak muda Muslim. Di tengah godaan zaman, mereka mengancang tekad melangkah bersama untuk berdakwah, mengajak teman-teman sebayanya bergabung dalam satu barisan.
Di kampus perguruan tinggi, mereka tergabung dalam lembaga dakwah kampus (LDK) dan di masjid-masjid mereka berkegiatan melalui ikatan pemuda masjid atau ikatan remaja masjid. Saat meniti jalan dakwah, mereka juga berbenturan dengan tantangan meski ada hikmah dari lahirnya tantangan itu.
Mereka tergerak untuk tetap eksis dengan mengembangkan kreativitas dalam menemukan cara yang tepat menarik teman sebayanya bersama mendalami Islam. Ketua Jamaah Shalahuddin Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta Akhmad Arwyn Imamur Rozi mengatakan, lembaganya melakukan upaya itu.
Ada upaya mengombinasikan antara kultur budaya dan keilmuan dalam syiar dakwah yang dilakukan Jamaah Shalahuddin. Sebab, kultur Yogyakarta sangat kental mewarnai kehidupan mahasiswa dan masyarakat. Kondisi masyarakat yang sedemikian unik membuat Jamaah Shalahuddin tak merasa tabu membahas nilai-nilai budaya.
Nilai itu kemudian dipenetrasikan bersama nilai-nilai keislaman. Selanjutnya, kedua nilai itu dirancang dalam konsep keilmuan khas mahasiswa Kampus Biru ini. Misalnya, kata Arwyn, di internal pengurus Jamaah Shalahuddin ada kegiatan membuat paper mengenai hal tersebut.
"Setiap pengurus dan anggota Jamaah Shalahuddin membuat tulisan sesuai bidang ilmunya lalu diterjemahkan dalam perspektif Islam untuk dibahas bersama," kata Arwyn kepada Republika, Selasa (15/2). Dan hal itu tak sia-sia, sebab media tersebut dijadikan ajang diskusi dan berbagi ilmu antarmahasiswa lintas fakultas.
Untuk menjembatani interaksi dengan mahasiswa yang bukan anggota, lembaga dakwah kampus ini berupaya membuat terobosan pendekatan. Langkah tersebut, ungkap Arwyn, didasarkan pada penelitian kecil yang dilakukan timnya. Terungkap bahwa mereka yang tak mau bergabung dalam kajian Islam disebabkan oleh kemasannya yang tak cocok.
Mahasiswa UGM cenderung tertarik mempelajari agama dari sisi keilmuan. Maka, pengurus lembaga dakwah ini menekankan sisi keilmuan dengan cara diskusi dan pembuatan paper. Ia menuturkan, dari penelitian tersingkap pula bahwa keengganan mereka karena muncul monopoli mazhab tertentu dalam syiar Jamaah Shalahuddin.
Temuan ini langsung direspons dengan membuat rencana strategis untuk menjembatani pandangan berbagai mazhab dalam kegiatan dakwah Jamaah Shalahuddin. "Kami tak ingin muncul monopoli mazhab agar bisa cair pada teman-teman lainnya," kata Arwyn menjelaskan.
Dengan mempertimbangkan kondisi ini, Jamaah Shalahuddin memperkuat tekadnya, yaitu "Mengayun Dzikir Menantang Pikir". Optimisme pun tumbuh di benak Arwyn, apalagi langkah dakwah mereka didukung oleh para alumnus, yang juga memberikan dukungan dana. Bahkan, sebanyak 70 persen dana berasal dari mereka.
Sisanya, diperoleh dari infak, sedekah, dan wirausaha yang dikembangkan Jamaah Shalahuddin. Sementara itu, di Universitas Indonesia ada Forum Remaja Masjid Ukhuwah Islamiyah Universitas Indonesia (FRM UI). Ini merupakan forum mahasiswa di bawah DKM Masjid Ukhuwah Islamiyah UI.
Salah satu pengurus FRM UI Betie Febriana mengatakan, dalam rangka syiar Islam pihaknya melakukan beragam kegiatan. Seperti kajian bulanan, peringatan hari besar Islam, penyambutan mahasiswa baru, gathering, pelatihan, peringatan Idul Adha, kegiatan bulan Ramadhan, dan mentoring.
Dalam syiarnya, FRM memanfaatkan jejaring sosial seperti facebook dan blog. "Kami meng-update status facebook dengan tausiah-tausiah, pemberitahuan acara kajian kontemporer, maupun kajian Muslimah. Ini untuk menarik orang belajar agama," kata Betie.
Adaptasi
Badan Kerohanian Islam Mahasiswa (BKIM) Institut Pertanian Bogor mempunyai tim khusus untuk menggandeng rekan-rekan mahasiswanya untuk mengenal Islam.
Lembaga ini berusaha menyesuaikan dengan kegemaran anak-anak muda masa kini. "Kami mengamati, mahasiswa cenderung tak mau belajar agama secara konvensional. Kami bentuk tim event organizer yang merancang kajian agama semenarik mungkin," kata Ketua Departemen Keputrian BKIM IPB Lina Najwatur Rusydi.
Tak jarang, BKIM menggelar audiensi berkala dengan Badan Eksekutif Mahasiswa dan unit kegiatan mahasiswa lainnya. Tujuannya untuk menampung aspirasi mahasiswa. Hasilnya, banyak seminar dan talkshow yang diadakan dengan mengangkat beragam tema mulai pergaulan pemuda, politik, sosial, dan kajian keilmuan.
"Kami melihat target dakwah, apakah kegiatan itu untuk para aktivis atau mahasiswa yang tujuannya having fun. Pola pendekatannya sesuai kebutuhan," jelas Najwa. Ia menggambarkan, saat ini di IPB sedang tren perkumpulan dan pertunjukan teater. Tim event organizer BKIM pun mulai merancang kegiatan terkait kesenian Islam.
Ia mengakui, cara adaptasi terhadap kebutuhan mahasiswa ini menimbulkan pro dan kontra. Pihak pengurus, kata dia, memahami kondisi tersebut dan terus berupaya memperbaiki program-programnya. Kini, banyak masukan dan permintaan untuk melakukan kajian intensif.
Selain itu, Najwa mengatakan bahwa keunikan BKIM terletak pada dakwah pemikirannya sehingga program-program BKIM tak sebatas pada kajian bahasa Arab atau tafsir. "Kami membahas bagaimana Islam mengatur semua aspek kehidupan," jelasnya.
BKIM pun tak khawatir jalan dakwahnya terhambat dana sebab, alumni lembaga ini tergerak untuk menafkahkan sebagian rezekinya guna menopang dakwah. Ia mengungkapkan, selain memperoleh dana dari kampus BKIM juga membangun jaringan alumni untuk mendukung operasional dakwah. ed: ferry kisihandi
http://koran.republika.co.id/koran/52/129360/Jalan_Dakwah_Anak_Anak_Muda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar