Kamis, 21 Januari 2021

Kuatlah Wahai Anakku



Sayang.. ini postingan pertama ummi di tahun 2021, tulisan pertama ummi tentang kamu di blog ini setelah 6 bulan kamu tumbuh dan berkembang dengan nyaman di rahim ummi..

Sayang, ummi mau sampaikan kalau ummi dan ayah sudah menanti kamu sejak lama. Setiap hari, setiap bulan hingga hampir dua tahun, penantian itu dijawab dengan indah oleh Allah SWT. Kamu hadir di perut ummi, setiap perubahan kondisi tubuh ummi sejak kehadiran mu selalu ummi ingat bagaimana rasanya.. sebuah rasa yang tidak nyaman memang, tapi ummi bahagia karena dibalik rasa mual, pusing, dan serba tidak nyaman itu ada tanda sayang dari Allah atas kehadiran kamu... MasyaAllah.. tabarakallah...

Sayang ku.. dokter bilang kamu bayi laki-laki, ummi terharu mendengarnya, segera ummi kabarkan pada ayah tentang kamu karena saat itu qodarullah ayah sedang berhalangan mendampingi USG yang pertama.. ayah titip pesan supaya proses USG diabadikan dalam bentuk video, masyaAllah.. betapa ayahmu ingin berada di samping ummi waktu itu...

Anak ku sayang.. tahu kah kamu nak, Agustus 2020 pertama kali ummi dan ayah memastikan kamu benar ada di rahim ummi merupakan tahun yang berat.. bukan hanya bagi kami orangtua mu, tapi tahun yang berat bagi seluruh umat manusia. 

Allah sedang menguji dunia dengan kehadiran wabah Covid-19, suatu kejadian luar biasa yang melebihi kegawatan wabah sehingga hampir seluruh dunia diselimuti pandemik Covid-19. Hari ini sudah hampir setahun pandemik berlangsung, belum juga menunjukkan akan berakhir, tapi penyebarannya kian meluas hingga ke lingkaran yang lebih kecil dan sempit. Sudah jutaan korban dunia, bahkan diantaranya banyak yang berasal dari teman, saudara, juga sahabat ummi dan ayah. 

Sayangku.. sehat dan kuatlah kamu nak di rahim ummi.. segala keterbatasan ummi dan ayah dalam memenuhi kebutuhan mu di masa yang sulit ini, semoga menjadikan dirimu kuat dan tangguh.. bila ada kesalahan dan kekeliruan dari ummi dan ayah dalam menjagamu selama di rahim hingga kamu lahir dan besar nanti.. semoga kamu memaafkan dan Allah pun berkenan memberikan ampunan..

Sayangku.. cintaku.. buah hatiku.. tak berubah harapan ummi dan ayah padamu nak. Agar sehat badan mu, tak kurang satu apapun. Agar indah paras mu yang membawa kesejukan bagi tiap orang yang memandang. Agar sempurna pula akalmu, yang kelak kau gunakan untuk sebaik-baiknya memikirkan umat serta berjuang dan jalan Allah. Agar kelak kau jadi ahli ibadah, penghafal Al Qur'an, pejuang Islam, juga menjadi orang yang bermanfaat bagi keluarga dan ummat dengan ilmu yang kau miliki. Menjadi tabungan kebaikan ayah dan ummi, juga kakek nenek, serta orang-orang yang merasakan manfaat kebaikan dari hadirmu dan amal sholih mu.. masyaAllah.. mampukanlah aku dan suamiku ya Allah untuk melayakkan diri menjadi sebaik-baik orangtua bagi mu, sayang ku....  






Depok, siang hari di tengah mendung dan gerimis..

Catatan kegundahan hati dari calon ibu yang berharap belas dan kasih sayang Allah agar senantiasa melindungi buah hatinya, keluarganya, serta saudara-saudaranya sesama muslim... amiiin

Rabu, 13 Mei 2020

Berempatilah! Jangan Tolak Jenazah Korban COVID-19

Telah dimuat di SuaraIslam 
Pada tanggal 14 April 2020 
Link : https://suaraislam.id/berempatilah-jangan-tolak-jenazah-korban-covid-19/



Membaca perkembangan berita pandemi Covid-19 di tanah air semakin membuat sesak di dada. Betapa tidak, semakin hari perbandingan jumlah pasien positif Covid-19 dengan yang sembuh sangat jauh berbeda. Wallahu’alam, apakah kita semua akan mampu bertahan sampai akhir.

Mereka yang meninggal karena tertular virus SARSCov-2 ini tidak hanya dari masyarakat, petugas medis yang berada di garda terdepan dengan alat pelindung diri seadanya (Menggunakan jas hujan dari kantong plastik seharga sepuluh ribuan) juga turut menjadi korban. Yang paling mengiris hati, jenazah petugas medis pun ditolak oleh masyarakat untuk dimakamkan di pemakaman sekitar.

Adalah Ibu Nuria Kurniasih, perawat berusia 38 tahun di RSUP dr. Kariadi Semarang gugur pada Kamis, 9 April 2020 karena terinveksi Covid-19 saat sedang mengemban tugas. Belum lagi usai kesedihan yang menimpa keluarga karena kehilangan istri dan ibu bagi anak-anaknya, jenazah Ibu Nuria Kurniasih ditolak warga karena takut tertular virus. Padahal sudah dilakukan penanganan jenazah Covid-19 sesuai prosedur yang berlaku.
 
Innalillahi wa innailaihi roajiuun… Sepatutnya kita menaruh bela sungkawa yang sedalam-dalamnya pada beliau dan keluarga, juga penghormatan atas komitmen dan dedikasi tinggi yang telah beliau berikan. Respon berlebihan dari masyarakat di lokasi pemakaman tentu tidak akan terjadi bila memang pemerintah sekitar melakukan edukasi terkait Covid-19.

Kita semua kiranya wajib memahami bahwa jenazah korban Covid-19 yang telah ditangani sesuai prosedur khusus tidak akan menularkan virus kepada yang masih hidup. Justru dengan menguburkan jenazah tersebut secepat mungkin akan membantu memutus rantai penularan, sebab virus tidak akan bisa hidup dan menyebar melalui tanah apalagi melalui udara.

Islam sebagai agama yang mulia telah mengajarkan kita untuk memuliakan jenazah dengan pelaksanaan syariat fardhu kifayah jenazah. Bila jenazah korban Covid-19 ditolak untuk dimakamkan, lalu bagaimana kita akan menghadap Allah nanti di hari pertanggungjawaban karena melalaikan kewajiban mulia ini?

Semoga rasa takut dan khawatir berlebihan yang menghinggapi hati tidak membuat kita kehilangan kepedulian, empati dan kasih sayang. Juga tidak membuat kita kehilangan kejernihan akal untuk berpikir waras. Jangan lagi ada penolakan pemakaman jenazah korban Covid-19, apalagi penolakan jenazah para pahlawan medis yang telah berjuang untuk merawat dan mengobati di tengah perang melawan virus corona.

Cukup suster Nuria Kurniasih yang mengalami penolakan. Berempatilah! Jangan tolak korban Covid-19. Mari dukung para pahlawan medis, mulai dari dokter, perawat, apoteker, cleaning service, pegawai administrasi di rumah sakit, sampai tukang gali kubur. Dukung mereka dengan mengurangi beban berat sebagai petugas medis, sehingga kita bisa saling bahu-membahu dan saling menguatkan satu sama lain. Wallahu’alam. []

Fatmah Ramadhani
Ibu Rumah Tangga, tinggal di Depok

Muhasabah Jelang Ramadhan di Tengah Wabah

Oleh: Fatmah Ramadhani
Ibu Rumah Tangga, Depok
emakpeduligenerasi@gmail.com

Telah dimuat di Islampos.com
Link : https://www.islampos.com/muhasabah-jelang-ramadhan-di-tengah-wabah-186684/

KITA tengah memasuki pekan keempat stay at home dan work from home, tetap di rumah dan bekerja dari rumah. Sambil menghitung hari datangnya bulan suci Ramadhan, kita juga sedang menghitung hari menghadapi masa puncak penyebaran Covid-19.

Data terakhir menginfokan hampir 3.000-an orang positif Covid-19 sejak akhir Februari 2020. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sendiri telah memperpanjang status keadaan darurat bencana menjadi 91 hari hingga tanggal 29 Mei nanti.

La hawla wa la quwwata illa billah, sungguh tiada daya dan kekuatan melainkan hanya dari Allah. Kiranya ini yang harus kita lafadzkan setiap hari, memohon kekuatan dan pertolongan Allah SWT agar sudi kiranya mengakhiri penularan virus corona sebelum bulan suci Ramadhan menghampiri. Aamiin, insya Allah.

Mari kita bermuhasabah. Setelah melalui beberapa waktu menjaga diri di rumah sebagai upaya memutus penyebaran virus corona, selayaknya membuat kedekatan kita kepada Allah semakin erat, kepedulian untuk saling berbagi semakin tinggi, serta keharmonisan keluarga semakin syahdu.

Bagaimana tidak, bila sebelum ada pandemi Covid-19 kita sibuk beraktivitas di luar sehingga kurang khusyuk melaksanakan amal ibadah, maka hampir sebulan belakangan sebagian besar waktu kita ada di rumah. Sudah sewajarnya shalat kita semakin khusyuk, Al-Qur’an kembali dibuka untuk meningkatkan bacaan, bahkan bisa ditambah dengan mulai menghafalnya.

Allah SWT berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَ بَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَ الْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan yang di dalamnya -mulai- diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang nyata yang menunjuk kepada kebenaran, yang membedakan antara yang haq dan yang bathil.” (QS Al-Baqarah: 185)

Pandemi Covid-19 melatih kita untuk menggunakan waktu di rumah dengan sebaik-baiknya. Mendekatkan diri kepada Allah melalui Al-Qur’an bisa kita lakukan mulai sekarang agar saat Bulan Ramadhan nanti kita tidak kaget dan tergesa-gesa.

Di sisi lain, bagi sebagian yang masih mendapat penghasilan dari work from home, sekarang adalah waktunya membantu orang-orang di sekitar yang tidak bisa terus di dalam rumah. Bagai mempertaruhkan nyawa tertular virus corona, mereka harus tetap mencari nafkah di luar. Masya Allah, sekali lagi corona mengajarkan kita untuk berbagi kebaikan sebelum Bulan Ramadhan, pastinya agar saat Ramadhan tiba kita makin terbiasa melakukannya.

Firman Allah SWT dalam Surah Ali ‘Imran Ayat 134:
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.“

Semua kalangan saat ini memang sedang mengalami kesulitan dan kesempitan hidup akibat pandemi Covid-19, tapi sungguh mulia ajaran Islam yang menganjurkan umatnya untuk saling berbagi dan saling membantu di kala sempit, bahkan ini termasuk amal utama yang sangat mulia.

Kita tidak hanya memikirkan menyelamatkan diri dan keluarga sendiri, tapi dengan menyelamatkan saudara yang sedang mengalami kesulitan, maka kita berharap di yaumil akhir kelak Allah sudi membantu saat tidak ada pertolongan apapun kecuali dari-Nya.

Dan tentu saja selama kita stay at homesudah semestinya benih-benih cinta kepada pasangan serta anak-anak semakin tumbuh bersemi. Biasanya kita hanya bersua di pagi hari sebelum berangkat kerja atau sesaat sebelum istirahat malam, kini kita punya waktu dari pagi hingga malam berkumpul bersama keluarga.

Mengajarkan rasa sabar dan syukur dalam jiwa keluarga karena masih diberi kesehatan di tengah wabah Covid-19, melakukan ibadah harian bersama-sama seperti shalat berjamaah dan tadarus Al-Qur’an, mendampingi anak-anak belajar online, memasak, mencuci baju, menanam bunga, membersihkan rumah dan masih banyak lagi.

Sehingga kita benar-benar menghayati perintah Allah berikut ini:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrim: 6)

Mudah-mudahan para korban yang meninggal mendapat pahala sebesar pahala syahid di hadapan Allah, serta keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan. Dan Allah pun memberi pertolongan dengan mengakhiri pandemi ini.

Kita yang masih sehat, semoga mampu mengambil ibrah dari corona. Semakin sering bertobat untuk membersihkan diri dan mulai menghidupkan amal shalih walau Ramadhan belum menghampiri. Hingga amal kebaikan itu senantiasa melekat dalam diri kita setiap hari, setiap bulan, sepanjang hayat. Wallahu’alam bishawab. []

Jumat, 27 Desember 2019

Ayah, sosok pahlawan tanpa cela

Bulan Desember, seharusnya judul postingan masih seputar memperingati hari ibu. Tapi ini tentang kemarin, saat hati begitu merindu, rindu yang mengiris-iris hingga air tak kuasa menetes di pelupuk mata.

Yangku..
itu panggilan sayangnya saat ku kecil. Aku tau itu karena aku sendiri jarang mendengarnya. Sepertinya karena dia kikuk mengucapnya, hingga aku ikut merasa takjub setengah tak percaya dengan panggilan sayang yang ia ucapkan. Bukan karena tak sayang, tapi memang karena itu bukan hal yang biasa.


Banyak hal yang kembali tayang di ingatan, momen indah penuh teladan yang ia ajarkan. Dari ayah aku belajar bagaimana caranya memelihara dan merawat ayam, baik ayam kampung maupun ayam potong. Sampai-sampai ayah bisa membedakan karakter satu ayam dengan ayam yang lain sangking sayangnya dia dengan ayam-ayam peliharaannya.

Dari ayah aku juga belajar, bagaimana cara melepaskan paku yang menempel di balok kayu dengan cara yang mudah. Sangat berkesan sekali waktu itu, balok kayu hasil bongkaran yang ditumpuk di belakang rumah jadi sasaran pekerjaan ku mempraktikkan cara yang ayah ajarkan. Aku jadi bersahabat dengan paku, kayu, dan palu.

Berada di samping ayah saat membikin pagar rumah harus siap sedia pula membantunya, mengambilkan paku-paku, gergaji, martil.. Melihat bambu-bambu yang dibelah kecil memanjang dipaku dengan jarak terukur, merupakan hiburan tersendiri buatku, Aku senang dan menikmati saat mendengar setiap tips yang ia sampaikan, seakan-akan menjadi mantra berharga yang mahal sekali harganya. Dan di bagian akhir, aku melihat hasil karya yang hampir sama dengan yang ada di rumah teman-teman ku. Mungkin terlihat bentuk pagar biasa, tapi aku bahagia karena ikut terlibat dalam proses kreatif hasil tangan ayah.

Saat aku mempraktikkan ilmu yang ia ajarkan, untuk menggantikan tangan kanannya memaku kandang ayam yang bolong, sepenuh hati dan semangat aku mengerjakan. Tapi tetap saja jariku terkena pukulan palu. Terlihat ayah sangat sedih waktu itu, seandainya saat itu ia belum terkena stroke pasti pekerjaan ini sudah duluan ia lakukan. Taukah kalian apa yang membuat hati seorang anak perempuan sedih sampai ke lubuk hati yang paling dalam? Ya, apalagi kalau bukan saat melihat ayahnya bersedih.

Saat ayah belajar naik mobil, berkali-kali momen mendebarkan di jalan raya kami hadapi bersama. Saat mobil melaju pelan di tanjakan hingga harus mundur tiba-tiba, padahal ada kendaraan besar di belakang. Saat ayah menaikkan mobil ke tempat cucian, hampir saja sebelah roda depan terperosok, mungkin mobil bisa terjatuh dari ketinggian hampir 2 meter. Semua momen mendebarkan namun seru itu aku jalani disamping ayah, sama-sama merasa panik, tapi tentu ayah selalu berusaha tenang. Alhamdulillah ada saja jalan keluar yang bisa ia lakukan. Kembali aku membuktikan pernyataan, ayah adalah pahlawan tanpa cela di mata anak-anaknya.


Rabu, 11 Oktober 2017

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa

Boleh ya, insyaallah ga masalah aqiqah setelah dewasa. Tarjih dalil mengenai hukum aqiqahnya keren.. 👍👍

Alhamdulillah saya sendiri baru melaksanakan Aqiqah bulan November 2016 kemarin, tentunya setelah mengetahui dalil kebolehan ini sekaligus memang saat itu sedang ada kelebihan rejeki. Alhamdulillahnya lagi, rejekinya masih bisa disisihkan untuk melaksanakan Qurban tahun berikutnya, tepatnya 2 September 2017. Masyaallah, alhamdulillah, tsumma alhamdulillah, tsumma alhamdulillah.

Semoga teman-teman yang membaca postingan ini juga memiliki kesempatan dan rejeki berlebih untuk melaksanakan ibadah Aqiqah atau Qurban, terutama bagi yang belum pernah melaksanakannya.. Amiiin, insyaallah 😊😊

Alhamdulillah, catering Aqiqahnya menghadiahkan Sertifikat =) 

Kalau ini foto Sapi Qurban, semoga jadi amal sholih, amin allahumma amiin T.T




Q&A: Hukum Aqiqah Setelah Dewasa 

Tanya :

Kalau kita dulu waktu lahir belum diaqiqahi, wajibkah aqiqah ketika kita dewasa selagi mampu? (Harun, Bandung)

Jawab :

Ada 2 (dua) pendapat fuqaha dalam masalah aqiqah setelah dewasa (baligh). Pertama, pendapat beberapa tabi’in, yaitu ‘Atha`, Al-Hasan Al-Bashri, dan Ibnu Sirin, juga pendapat Imam Syafi’i, Imam Al-Qaffal asy-Syasyi (mazhab Syafi’i), dan satu riwayat dari Imam Ahmad. Mereka mengatakan orang yang waktu kecilnya belum diaqiqahi, disunnahkan (mustahab) mengaqiqahi dirinya setelah dewasa. Dalilnya adalah hadis riwayat Anas RA bahwa Nabi SAW mengaqiqahi dirinya sendiri setelah nubuwwah (diangkat sebagai nabi). (HR Baihaqi; As-Sunan Al-Kubra, 9/300; Mushannaf Abdur Razaq, no 7960; Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Ausath no 1006; Thahawi dalam Musykil Al-Atsar no 883).

Kedua, pendapat Malikiyah dan riwayat lain dari Imam Ahmad, yang menyatakan orang yang waktu kecilnya belum diaqiqahi, tidak mengaqiqahi dirinya setelah dewasa. Alasannya aqiqah itu disyariatkan bagi ayah, bukan bagi anak. Jadi si anak tidak perlu mengaqiqahi dirinya setelah dewasa. Selain itu, hadis Anas RA yang menjelaskan Nabi SAW mengaqiqahi dirinya sendiri dinilai dhaif sehingga tidak layak menjadi dalil. (Hisamuddin ‘Afanah, Ahkamul Aqiqah, hlm. 59; Al-Mufashshal fi Ahkam al-Aqiqah, hlm.137; Maryam Ibrahim Hindi, Al-‘Aqiqah fi Al-Fiqh Al-Islami, hlm. 101; M. Adib Kalkul, Ahkam al-Udhiyyah wa Al-‘Aqiqah wa At-Tadzkiyyah, hlm. 44).

Dari penjelasan di atas, nampak sumber perbedaan pendapat yang utama adalah perbedaan penilaian terhadap hadis Anas RA. Sebagian ulama melemahkan hadis tersebut, seperti Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (Fathul Bari, 12/12), Imam Ibnu Abdil Barr (Al-Istidzkar, 15/376), Imam Dzahabi (Mizan Al-I’tidal, 2/500), Imam Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah (Tuhfatul Wadud, hlm. 88), dan Imam Nawawi (Al-Majmu’, 8/432). Imam Nawawi berkata,”Hadis ini hadis batil,” karena menurut beliau di antara periwayat hadisnya terdapat Abdullah bin Muharrir yang disepakati kelemahannya. (Al-Majmu’, 8/432).

Namun, Nashiruddin Al-Albani telah meneliti ulang hadis tersebut dan menilainya sebagai hadis sahih. (As-Silsilah al-Shahihah, no 2726). Menurut Al-Albani, hadis Anas RA ternyata mempunyai dua isnad (jalur periwayatan). Pertama, dari Abdullah bin Muharrir, dari Qatadah, dari Anas RA. Jalur inilah yang dinilai lemah karena ada Abdullah bin Muharrir. Kedua, dari Al-Haitsam bin Jamil, dari Abdullah bin Al-Mutsanna bin Anas, dari Tsumamah bin Anas, dari Anas RA. Jalur kedua ini oleh Al-Albani dianggap jalur periwayatan yang baik (isnaduhu hasan), sejalan dengan penilaian Imam Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawa`id (4/59).

Terkait penilaian sanad hadis, Imam Taqiyuddin An-Nabhani menyatakan lemahnya satu sanad dari suatu hadis, tidak berarti hadis itu lemah secara mutlak. Sebab bisa jadi hadis itu mempunyai sanad lain, kecuali jika ahli hadis menyatakan hadis itu tidak diriwayatkan kecuali melalui satu sanad saja. (Taqiyuddin An-Nabhani, Al-Syakhshiyyah Al-Islamiyah, 1/345).

Berdasarkan ini, kami cenderung pada pendapat pertama, yaitu orang yang waktu kecilnya belum diaqiqahi, disunnahkan mengaqiqahi dirinya sendiri setelah dewasa. Sebab dalil yang mendasarinya (hadis Anas RA), merupakan hadis sahih, mengingat ada jalur periwayatan lain yang sahih. Wallahu a’lam. [ ]

Yogyakarta, 11 Mei 2009

Muhammad Shiddiq Al-Jawi

Selasa, 16 Mei 2017

Taqarrub Kepada Allah

Pengertian Taqarrub Kepada Allah – Definisi Mendekatkan Diri Kepada Allah

---------------

Taqarrub kepada Allah adalah setiap aktivitas yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah Swt., baik dengan melaksanakan kewajiban, melaksanakan amalan-amalan sunnah nafilah maupun bentuk-bentuk ketaatan lainnya. Pengertian taqarrub kepada Allah tidak hanya terbatas pada aktivitas ibadah, sebagaimana yang diduga oleh kebanyakan kaum Muslimin dewasa ini, namun mencakup pula seluruh aktivitas mu’amalat, akhlaq, math’umat (berkaitan dengan makanan), malbusaat (berkaitan dengan pakaian) bahkan uqubat (pelaksanaan sanksi hukum di dunia oleh negara Islam/ Khilafah). Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah Swt. berfirman:

“Dan tiada bertaqarrub (mendekat) kepada-Ku seorang hamba dengan sesuatu yang lebih Kusuka daripada menjalankan kewajibannya”. (Shahih Bukhari Juz 11, hal.292-297)

Berkata Imam Ibnu Hajar: “Termasuk dalam lafadz tersebut adalah seluruh kewajiban, baik fardhu ‘ain maupun fardhu kifayah, sehingga dapat pula diambil pengertian darinya bahwa pelaksanaan perbuatan-perbuatan fardhu adalah aktivitas yang paling disukai Allah Swt.” Perbuatan-perbuatan fardhu dimaksud dapat disebutkan mulai dari melaksanakan shalat, menunaikan zakat, berbakti kepada kedua orangtua, menuntut ilmu, berjihad fi sabilillah, ber-amar ma’ruf nahi munkar, bersikap jujur dan ikhlas lillahi ta’ala dan istiqomah dalam setiap perbuatan, memakan makanan yang halal dan baik, menutup aurat, hingga pelaksanaan hukum-hukum hudud syar’iyah oleh negara Islam/ Khilafah atas tindak kriminal seperti perbuatan zina, liwath, mencuri, riddah (keluar dari Islam), membunuh dan lain sebagainya. Melaksanakan seluruh aktivitas tersebut pada hakekatnya adalah termasuk ke dalam cakupan pengertian pendekatan-diri seorang hamba yang mu’min kepada Rabb-nya.

Al-Qur’an telah menyebutkan beberapa kewajiban dan menganggapnya sebagai qurbah (pendekatan). Salah satu di antaranya adalah infaq fi sabilillah, yaitu berinfak untuk kepentingan perang di jalan Allah. Dalam hal ini Al Qur’an telah menganggapnya sebagai pendekatan yang besar (pengorbanan yang besar) yang diberikan oleh seorang mukmin untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

“Di antara orang-orang Arab Badui terdapat orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir dan menjadikan harta yang dia nafkahkan (dalam jihad fi sabilillah) sebagai pendekatan di sisi Allah dan jalan untuk mendapatkan do’a Rasulullah. Ketahuilah itu memang merupakan pendekatan bagi mereka. Allah akan memasukkan ke dalam rahmat-Nya (Surga). Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Terjemah Makna Qur’an Surat At-Taubah 99)

Al-Qur’an pun telah menjelaskan bahwa taqarrub kepada Allah dapat ditempuh dengan melaksanakan ketaatan-ketaatan dan ibadah serta amal-amal shalih. Allah Swt. berfirman:

“Orang-orang yang mereka (orang-orang kafir) sembah, mereka itu sendiri mencari jalan menuju Tuhannya. Siapa di antara mereka yang lebih dekat. Mereka mengharap Rahmat-Nya (Surga-Nya) takut terhadap adzab-Nya (neraka)” (Terjemah Makna Qur’an Surat Al-Israa 57)

“Bukanlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian yang dapat mendekatkan diri kalian kepada kami; akan tetapi orang-orang beriman dan beramal shalih, merekalah yang mendapatkan pahala yang berlipat ganda karena apa yang mereka kerjakan. Dan mereka akan berada di tempat-tempat yang tinggi (Surga) dalam keadaan aman.” (Terjemah Makna Qur’an Surat Saba’ 37)

As-Sunnah menjelaskan pula bahwa di antara aktivitas yang akan mendekatkan diri seorang hamba kepada Rabb-nya adalah melaksanakan perbuatan-perbuatan sunnah, mandub, nafilah, dan ketaatan-ketaatan lainnya. Dalam hadits Qudsiy Allah Swt. berfirman:

“Tiada henti-hentinya seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunnah nafilah, sehingga Aku mencintainya.” (Shahih Bukhari, XI/292-297)

Amalan nafilah adalah setiap aktivitas yang merupakan tambahan dari amalan yang wajib, baik berupa shadaqah, shalat, maupun puasa dan sebagainya. Ada sebuah hadits yang memberi motivasi untuk menambah ketaatan, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Annas r.a. dari Nabi Saw. bahwasanya Beliau meriwayatkan dari Rabb-nya:

“Jika seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekatinya sehasta; jika ia mendekati-Ku sehasta, Aku akan mendekatinya sedepa; jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan mendekatinya dengan berlari.” (Shahih Bukhari XI/199)

Dengan demikian tidak diragukan lagi bahwa taqarrub kepada Allah dengan mengerjakan amalan-amalan sunnah nafilah dan ketaatan akan mengangkat martabat seorang hamba di sisi Rabb-nya. Hal ini menjadikannya layak untuk mendapatkan pertolongan, bantuan dan dukungan dari Allah Swt. pada setiap aktivitas yang dilakukannya dalam rangka taat kepada Allah dan mencari keridhoan-Nya. Oleh karena itu, dalam sebuah hadits Qudsi Allah Swt. mengangkat derajat seorang hamba yang ber-taqarrub kepada-Nya sehingga Allah mengabulkan do’anya, mendukungnya dengan pertolongan, bantuan dan bimbingan-Nya. Hadits dimaksud adalah:

“Tiada henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunnah nafilah sehingga Aku mencintainya. Kalau Aku sudah mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang ia mendengarkan dengannya dan Aku akan menjadi penglihatannya yang ia melihat dengannya; dan Aku akan menjadi tangannya yang ia pergunakan; dan Aku akan menjadi kakinya yang ia berjalan dengannya. Jika ia meminta kepada-Ku niscaya akan Kuberi yang ia minta; dan jika ia memohon perlindungan pada-Ku, niscaya Aku lindungi.”

Dalam lafadz yang lain disebutkan:

“Dan jika ia memohon (kemenangan) kepada-Ku, niscaya Kutolong.” (Fathul Baari, Syarah Shahih Bukhari, XI/341-345)

Martabat tersebut tidak akan dicapai kecuali oleh orang-orang yang telah melakukan kewajiban-kewajiban dan menambahnya dengan mengerjakan amalan sunnah nawafil, ketaatan, mandubaat, dan bukan oleh orang-orang yang melakukan kegiatan sunnah tetapi meninggalkan perbuatan wajib atau bahkan melakukan bid’ah dan perbuatan haram.

Buku ini bagus sekali dalam menyajikan beberapa contoh pendekatan diri kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya sebagai tambahan yang sangat dibutuhkan oleh setiap Muslim, apalagi bagi seorang pengemban dakwah. Sebab seorang pengemban dakwah ialah orang yang paling membutuhkan kuatnya tali hubungan dengan Allah guna menggapai pertolongannya dan bertawakal kepada-Nya dengan sebenar-benar tawakal. Penulis pun sangat menekankan hal itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam Muqaddimah buku ini.

Di antara contoh-contoh ketaatan dan pendekatan tersebut adalah meningkatkan kualitas amal perbuatan yaitu dengan memurnikan niat hanya untuk Allah semata dan menyesuaikannya dengan tuntutan Syara’; melaksanakan kewajiban, memperbanyak amalan sunnah nafilah seperti shalat rawatib, membaca Al-Qur’an, berdo’a, berdzikir dan ber-istighfar, murah hati dan mengutamakan orang lain, cinta dan benci karena Allah, sabar menghadapi cobaan, taat kepada Pemimpin Umat Islam/Khalifah dalam melanjutkan kehidupan Islam dan mengemban risalah Islam ke semua umat dan bangsa. Oleh karena itu, setiap Muslim dan setiap pengemban dakwah wajib memberikan wala’ (loyalitas) dan kontribusinya ke dalam gerakan perjuangan Islam. Apalagi ia ingin mewujudkan kemuliaan kaum Muslimin dan ingin mengokohkan agama Islam ini di muka bumi.

Dan Allah, yang menurunkan agama Islam ini, pasti akan memuliakan dan menolong agama-Nya melalui tangan sekelompok orang Mukmin yang sadar dan jiwa mereka telah dipenuhi dengan iman, taat dan cinta terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Pengantar Taqarrub Ilallah : Abdurrahman Muhammad

----------------
*dengan sedikit perubahan dan penyesuaian dari pemilik blog.