Tampilkan postingan dengan label Know Khilafah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Know Khilafah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Januari 2015

Jika Khilafah Tegak di Indonesia

 
Sultan-Ahmed-Mosque, Turki


Oleh: Prof. Dr. Fahmi Amhar

Kita yang hidup pada masa ini tidak pernah mengalami hidup di dalam Daulah Khilafah. Mayoritas nenek moyang kita yang pernah hidup pada masa Khilafah pun tak pernah melihat masa transisi pasca Daulah ditegakkan secara revolusioner di atas ruang yang ditinggalkan oleh sistem kufur. Masa transisi ini hanya terjadi sekali, yakni pada masa Rasulullah saw. masih hidup, walaupun dalam skala ruang dan kompleksitas yang jauh berbeda dengan sekarang. Transisi dalam tingkat yang lebih rendah juga terjadi saat beberapa negeri kemudian mengalami futuhat oleh Khilafah.

Kini kita dihadapkan pada situasi zaman modern yang jauh lebih kompleks, apalagi tanpa didampingi oleh Rasulullah saw.! Meskipun teknologi hanyalah alat-alat, suka tidak suka, banyak persoalan yang menimbulkan pertanyaan hukum yang muncul karena keberadaan teknologi itu, semisal teknologi informasi dan komunikasi, teknologi kedokteran, hingga teknologi nuklir dan ruang angkasa. Oleh karena itu, tentu hal ini merupakan tantangan baru yang harus dihadapi dan dipecahkan oleh para mujtahid yang wajib ada dalam jumlah yang mencukupi. Dengan itu Khilafah bisa tegar menghadapi ragam guncangan transisi yang pasti akan melanda pasca penegakkannya.

Transisi Politik Dalam Negeri

Hal pertama yang paling menantang setelah Khilafah ditegakkan adalah kesatuan umat. Yang paling berbahaya bukanlah serangan militer dari luar, tetapi perpecahan di dalam. Umat Islam hidup sekian lama di dalam sistem sekular. Mereka terpecah-belah dalam sekian banyak mazhab, ormas, partai dan negeri. Mereka hanya “disatukan” karena paksaan tatanan sekular yang diwariskan penjajah.

Namun, saat Khilafah berdiri, Khalifah memiliki otoritas untuk men-tabbani (adopsi) satu pendapat syar’isaja dan wajib ditaati oleh semua tanpa sekat-sekat mazhab, ormas, partai ataupun negeri.

Politik Dalam Negeri juga mengatur tentang aparat Daulah. Sehari-hari mereka akan melayani urusan administrasi dan kepemerintahan hingga sampai ke desa-desa. Di Indonesia ada lebih dari 70.000 desa. Di semua desa-desa itu tentu harus ada “amil” yang akan melayani umat di garda paling depan. Mereka bukanlah amil yang hanya mengurus zakat, kurban atau jenazah warga yang wafat, tetapi semua hal: kecukupan pangan, air, energi, pendidikan dan kesehatan; juga berjalannya roda sektor produksi seperti pertanian dan industri hingga berfungsinya pasar. Mereka jugalah yang akan “blusukan” untuk mengetahui masalah umat sejak di akar rumput agar tidak menjadi penyakit kronis yang mengganggu stabilitas Daulah.

Politik Dalam Negeri juga mengatur masalah penegakan hukum dan keamanan. Jika di tiap desa dibutuhkan 10 orang aparat negara, setidaknya akan ada 700.000 aparat negara Khilafah. Di antara mereka ada yang berfungsi sebagai polisi, jaksa dan hakim (yang nanti boleh saja ada hingga level desa), yang semua harus diubah cara berpikirnya, dari berpikir sekular menjadi berpikir syar’i; dari berpikir unital/sektoral menjadi berpikir global; dari sekedar menjalankan tugas menjadi kontributor untuk umat terbaik yang dihadirkan Allah di tengah umat manusia untuk merahmati seluruh alam. Mereka yang tidak bisa lagi berubah, dengan terpaksa, diganti; bila perlu dijatuhi sanksi.

Lebih dari itu, ribuan aturan di level detil yang harus diubah sebelum ditegakkan, agar tidak terjadi kezaliman baru. Beberapa aturan yang bersifat teknis administratif (seperti e-KTP) mungkin hanya perlu dilengkapi (dengan nasab dan NIK-nya), atau disederhanakan (semisal kolom agama dijadikan tiga yaitu: “Islam”, “Ahli Kitab”, dan “Lain-lain”).

Namun, banyak juga aturan yang harus dibuat lebih jelas berdasarkan syariah semisal 10 macam pidana terkait miras, atau 4 macam pidana terkait riba, yang hukumannya adalah ta’zir yang bervariasi dan diserahkan pada ijtihad yang di-tabbani oleh Khalifah, hingga “delik modern”, semisal penggandaan software yang bukan miliknya atau terbang tanpa izin, yang semua ini adalah mukhalafah yang sanksinya ditetapkan oleh Khalifah.

Transisi Politik Ekonomi

Berjalannya ekonomi adalah kata kunci yang akan menjamin seberapa lama Khilafah akan tegak berdiri. Kalau setelah proklamasi, lalu roda ekonomi terhenti, tentu Khilafah bisa runtuh dan akan jauh lebih sulit untuk ditegakkan kembali.
Roda ekonomi bisa berjalan kalau sektor produksi dan distribusi bisa berjalan, rakyat bisa memenuhi kebutuhannya, dan negara tinggal menjalankan peranannya memenuhi kebutuhan rakyat yang belum bisa dilakukan dengan mekanisme ekonomi.

Kata kunci pertama yang dilakukan dalam politik ekonomi adalah rekonstruksi total bentuk APBN. APBN mencakup politik anggaran belanja negara dan politik anggaran pendapatan. Akan cukup banyak perubahan dalam bentuk APBN, yang akan mewajibkan reorientasi dan diklat ulang seluruh aparat negara yang terkait keuangan (yang saat ini mengurus perpajakan, bea-cukai, anggaran hingga pengelolaan barang milik negara). Mereka ini se-Indonesia jumlahnya lebih dari 100.000 orang!

Kata kunci kedua adalah rekonstruksi sistem keuangan. Sistem perbankan ribawi yang telah berurat berakar, karena dianggap mudah dan praktis, harus dirombak total, karena riba diharamkan. Namun, peran perbankan sebagai inter-mediator bagi para pemilik harta yang ingin sedikit hartanya tetap memberikan manfaat, dan para pengusaha yang membutuhkan modal besar, tetap harus dicarikan solusi-solusi syar’i-nya; seperti mudharabah, musyarakah, istisna’, dsb. Semua ini juga berlanjut ke sistem pembukuan dan teknologi akuntansinya. Demikian juga ketika skema akad asuransi ternyata tidak syar’i, tentu perlu ada solusi agar tetap ada manajemen risiko sehingga mereka yang melakukan usaha dapat melakukan kalkulasi lebih baik.

Kata kunci ketiga adalah rekonstruksi akad-akad di sektor produksi. Jenis akad pertama yang saat ini sangat mendominasi adalah akad pembentukan badan usaha (PT, CV, Koperasi, dsb) yang harus dirumuskan ulang secara syariah. Keberadaan akad ini akan berpengaruh pada keberadaan pasar modal, yang berarti harus dicarikan pula format syariahnya. Akad kedua adalah akad penguasaan pada tanah, baik tanah pertanian, hak penguasaan hutan maupun hak konsesi pertambangan. Sangat banyak orang yang menyewa tanah pertanian, baik akhirnya menguntungkan maupun merugi. Ada juga tanah perkebunan yang haknya diberikan kepada pihak swasta untuk 99 tahun. Demikian juga hak penguasaan hutan dan konsesi pertambangan yang bisa puluhan tahun. Semuanya harus ditata ulang.

Kata kunci keempat adalah mata uang. Mata uang yang ditetapkan oleh Khilafah adalah mata uang berbasis dinar (emas) dan dirham (perak). Pertanyaannya, apakah bila semua pemegang uang sekarang ingin menukarkan uang kertasnya ke dinar/dirham, sudah tersedia cukup dinar/dirham? Kalau tidak cukup, dan tidak ada mekanisme konversi yang memuaskan, yang akan terjadi adalah capital flight.Cadangan devisa (dalam valuta asing dansurat berharga asing) akan menyusut dalam sekejap karena banyak yang lari ke luar negeri. Akibatnya, nilai tukar akan anjlog lagi.
Tanpa mata uang dunia yang konvertibel, perdagangan internasional (eksport/impor) akan kacau. Kebutuhan masyarakat yang selama ini lebih berat impor barang konsumsi dan ekspor barang mentah akan terganggu. Rakyat akan marah kalau tiba-tiba barang impor harganya meroket.

Sebenarnya ketangguhan mata uang emas sangat bergantung pada seberapa besar sebuah negeri bergantung pada produk dari luar. Karena itu pemberlakuan dinar/dirham mungkin perlu bertahap sampai telah dibuat sistem moneter yang sama praktisnya dengan sekarang, namun setangguh yang di-backup dinar emas/perak.

Kebijakan Pendidikan Sains dan Teknologi

Penguasaan sains dan teknologi memang bukan syarat tegaknya sebuah negara. Namun, seberapa lama negara itu bisa bertahan jika terdapat gangguan dari luar, baik berupa embargo maupun serangan militer, salah satunya bergantung pada penguasaan terhadap sins dan teknologi. Sains dan teknologi juga kata kunci jika Khilafah bersiap-siap untuk menggunakan jihad sebagai salah satu metode dakwah yang efektif ke luar negeri.

Saat ini berbagai teknologi vital masih bergantung pada asing. Yang paling terasa adalah teknologi pangan (banyak bibit unggul yang harus didatangkan dari luar hingga bahan mentah yang terus diimpor), teknologi energi (misal: mesin-mesin untuk mengebor dan mengolah minyak atau mineral masih didatangkan dari luar), teknologi kesehatan (alat-alat kedokteran canggih dan obat-obatan), teknologi transportasi (nyaris semua kendaraan darat, air dan udara masih bergantung pada asing), teknologi telekomunikasi (satelit mungkin mampu kita beli, tetapi sepenuhnya masih buatan asing) hingga teknologi militer (senjata berat dan canggih). Kalau kita tidak secepat mungkin melakukan alih teknologi ini, Khilafah akan sangat rapuh terhadap embargo, atau setidaknya memiliki nilai tawar politik dan ekonomi yang rendah. Bisa kita bayangkan jika produsen satelit di Amerika Serikat mengambil-alih kendali satelit kita di orbit (ini hanya soal sinyal dan password), maka komunikasi di Negara Khilafah akan amat terganggu.

Yang mesti harus segera berubah juga dunia pendidikan, baik dari segi pendanaan maupun kurikulum. Sekitar enam juta guru yang saat ini ada, semua harus diberi penataran tentang syariah Islam dan kewajiban dakwah dan jihad.

Kebijakan Militer

Kebijakan militer Khilafah yang pro-aktif untuk menopang dakwah tentu harus ditopang juga oleh kesiapan ekonomi negara dan kesiapan personel militer beserta alutsistanya. Yang harus segera mendapat reorientasi adalah seluruh komandan tentara, bahwa mereka kini adalah mujahid Islam dan yang akan menjadi tugas mereka adalah jihad fii sabilillah. Adapun keahlian militer mereka selama ini tetap dapat digunakan.

Tentu pada saat awal, Khilafah tidak terburu-buru melakukan tindakan militer ke negara lain. Langkah-langkah dakwah dan diplomasi akan diprioritaskan, sambil memperkuat kesiapan personel militer, alutsistanya dan kekuatan ekonomi di belakangnya.

Politik Luar Negeri

Sejak akhir Perang Dunia II, yang diikuti oleh Perang Dingin, dunia digerakkan oleh arus inter-dependensi. Selain negara-negara adikuasa pemegang hak veto di PBB (Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Prancis dan Cina), semua diharapkan menjadi negara “baik-baik”, yang saling tergantung satu sama lain. Tidak boleh ada di antara mereka yang benar-benar mandiri. Bahkan negara maju seperti Jepang dan Jerman saja dikunci secara konstitusi oleh para pemenang Perang Dunia II. Akibatnya, setiap ada persoalan internasional, pemain utama tetap lima negara pemegang veto itu.

Maka dari itu, semua kewajiban Indonesia dalam mengikuti agenda suatu organisasi internasional harus ditinjau ulang dalam perspektif syariah dan Khilafah. Organisasi internasional yang telah jelas dalam sejarahnya hanya dibuat untuk menghalangi bersatunya Dunia Islam harus dengan tegas dijauhi. Jadi kemungkinan besar nanti Khilafah akan keluar dari PBB.

Kebijakan Terhadap Minoritas

Terhadap kelompok minoritas Khilafah harus segera membuat semacam aturan main mirip Piagam Madinah, yang harus disepakati oleh para pimpinan kelompok minoritas itu. Kelompok minoritas ini harus tetap diijinkan beribadah di tempat-tempat suci mereka, atau memakan makanan yang halal bagi mereka (sekalipun haram bagi umat Islam). Namun, dalam kehidupan publik, mereka juga termasuk yang terkena hukum-hukum syariah yang telah diumumkan.


Pelajaran dari Iran
Pada tahun 1979 Iran melakukan revolusi. Sejak itu Iran memiliki pemimpin tertinggi yang ingin menerapkan aturan-aturan Islam walaupun dari mazhab Syiah Ja’fariyah.

Hal terawal yang dilakukan Iran saat itu adalah mengganti sejumlah UU yang dianggap paling strategis, semisal UU perbankan, yang kemudian langsung disusul oleh sosialisasi di lapangan dan sekolah-sekolah.

Setelah bunga bank dilarang, terjadilah transisi besar-besaran di dunia perbankan Iran: semua kini menggunakan akad-akad yang syar’i. Karena masalah ini pula, bank-bank internasional juga “balik nama”.

“Gempa susulan” kebijakan di Iran tersebut menyeret dunia perhotelan. Hotel-hotel di Iran jadi sepi pengunjung asing karena tak ada kartu kredit yang bisa beroperasi tanpa riba. Akibatnya, bisnis di sektor pariwisata terguncang hebat. Dalam kondisi tersebut, Amerika mengajak dunia mengembargo Iran. Namun, menurut Ahmadinejad (mantan Presiden Iran), embargo tersebut justru jadi berkah bagi Iran, karena kemudian para ilmuwan ini rajin membuat sendiri teknologi yang akan dimiliki, bahkan termasuk teknologi nuklir dan roket (space-launcher) ke ruang angkasa.

Khatimah

Apa saja yang harus disiapkan agar transisi Indonesia menjadi Khilafah memang masih sangat banyak. Karena itu para pejuang Khilafah harus makin serius, fokus dan sabar dalam memantaskan diri agar Khilafah nanti benar-benar bisa tegak dan kembali menjadi mercusuar peradaban dunia.


Sumber dari Hizbut Tahrir Indonesia

Jumat, 14 Februari 2014

TRI RISMAHARINI, antara pengabdian di tengah sistem bobrok demokrasi-sekuler; dengan cita-cita mulia wujudkan kesejahteraan rakyat



Jujur nih ya, baru kali ini aku nonton tayangan Mata Najwa sampai nangis. Sosok bu Risma yang saat ini menjabat sebagai walikota Surabaya, benar-benar mengerahkan segala kemampuannya untuk melayani dan mengatur urusan umat.

Dalam sistem demokrasi, sosok seperti beliau itu langka. Sosok yang saat ini mendominasi adalah pemimpin yang hanya mementingkan partai dan golongannya saja, entah kapan mereka memikirkan ummat. Mungkin memikirkan ummat hanya pada saat pilpres, pilgub, pilkada, atau pileg. Karena itu, beliau terlihat berjuang seorang diri mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat di tengah gempuran borok sistem demokrasi, akankah seluruh jerih payah beliau berhasil terwujud? Saya tidak optimis..

Keluh kesah dan air mata beliau itu sudah sangat cukup menggambarkan bagaimana sulitnya mewujudkan kesejahteraan di tengah-tengah sistem demokrasi sekuler, bahkan beredar isu beliau akan mundur dari jabatannya padahal baru menjabat selama 3 tahun, masih bersisa 2 tahun lagi. Ada kata-kata dari beliau yang sangat menunjukkan komitmennya memimpin untuk melayani ummat, kurang lebih begini petikannya:

"Kalau saya tahu ada warga saya yang terlantar karena sakit, miskin, dan selainnya, saya akan ambil dan rawat dia. Jangan sampai saya gak bisa masuk surga karena ada warga yang semasa kepemimpinan saya merasa terdzholimi. Kenapa? karena seorang pemimpin itu akan mempertanggung jawabkan itu semua di hadapan Tuhan"

Bunda Risma, saya terharu sekali akan ketulusan dan pengorbanan ibu. Apa yang terjadi pada ibu semakin meyakinkan saya sebagai seorang pengemban dakwah, pejuang Syariah dan Khilafah (InsyaAllah), bahwa sebaik dan semampu apa pun seseorang menjadi memimpin, dia tetap butuh seperangkat aturan yang sempurna yang berasal dari yang menciptakan manusia, alam, dan kehidupan;  ketakwaan masyarakatnya dalam menjalankan dan mematuhi aturan tersebut; serta Negara yang menerapkan aturan dari Tuhan yang maha mengetahui apa yang baik dan apa yang tidak baik untuk manusia makhluk ciptaannya.

Daulah Khilafah Islamiyah telah membuktikannya, dengan 3 pilar penopang tegaknya negara, Khilafah mampu mensejahterakan selama kurang lebih 13 abad ummat manusia  dari berbagai ras, suku bangsa, dan agama. Pilar itu tidak lain:

> Ketakwaan Individu
> Kontrol Masyarakat
> Negara sebagai penerap aturan dari sang Pencipta

Semoga Allah membalas seluruh kerja keras dan jerih payah ibu, dan mempertemukan ibu dengan Islam ideologis sehingga ibu tergambar bahwa cita-cita mulia untuk mewujudkan kesejahteraan ummat manusia yang hakiki, hanya akan bisa terwujud dengan sistem Islam saja. Bukan sistem yang lain.

salam dari saya, alfakir pejuang Syariah dan Khilafah,
fatmasholihah.blogspot.com

Jumat, 07 Juni 2013

Catatan Perjalanan Menuju Muktamar Khilafah


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Halo saudara ku dan teman-teman sekalian, kali ini saya ingin berbagi kisah yang sempat diabadikan dalam foto-foto berikut ini. Foto-foto ini menjadi saksi sekaligus bukti persiapan yang kita lakukan dalam perjuangan penegakkan Khilafah, wa bil khusus teman-teman Nisaa dari Kampus UI.. yaitu untuk acara Muktamar Khilafah di Stadion Utama Gelora Bung Karno -> Ahad, 2 Juni 2013. Semoga dicatat oleh para malaikat sebagai  amal shalih.. Insya Allah, Allahu Akbar.. !!

Lihat Benderanya, jangan lihat matanya :D


Mulai.. 

Jum’at, 17 Mei
Saatnya ke Bekasi buat booking bis untuk akomodasi para peserta Muktamar dari Kampus Universitas Indonesia yang terletak di Depok menuju Senayan nanti. Tidak mudah ternyata memesan bis ini, harus tat, tit, tut, dan klak, klik, klak, klik menghubungi Perusahaan Oto Bus. Ternyata banyak bis yang fullbooked untuk pemesanan Ahad, tanggal 2 Juni 2013. Alhamdulillah setelah nyari-nyari kurang lebih 3 hari, akhirnya dapat juga :-).





Bacaannya: Nahnu akadimiyuna wa thulaba jami’atu Indunisiya muwafiquna bi iqomati Khilafah ma’a Hizb ut-Tahrir à Artinya: Kami, Civitas Akademika dari Universitas Indonesia menjawab seruan dari Hizbut Tahrir untuk berjuang bersama menegakkan Khilafah.



 
Ini adalah file hasil kreasi kita sebelum nanti dicetak dalam spanduk. Spanduk dengan contoh foto seperti ini nantinya akan kita bawa dan dibentangkan selama acara Muktamar Khilafah di Gelora Bung Karno. Spanduk dengan dua bahasa, Arab dan Inggris. Kurang lebih arti dan maksudnya sama, menyatakan bahwa kita, Civa Akademika dari Universitas Indonesia menjawab seruan dari Hizbut Tahrir untuk berjuang bersama menegakkan Khilafah. Subhanallah, Allahu Akbar!!
Semoga Brothers dan Sisters dari belahan negeri yang lain bisa menangkap pesan yang kita sampaikan ini, Amiiinnn Allahumma Amiiinn.. :-).




Nah, apa ini? Hehe.. ini adalah plank logo untuk memudahkan kita tetap berada dalam satu barisan di tengah-tengah massa yang nantinya akan tumpah ruah di Stasion GBK. Peserta Muktamar Khilafah (MK) Nisaa/perempuan dari UI terbagi dalam 4 sektor sebenarnya, Platinum, VVIP, VIP, dan Reguler. Tapi kita hanya menyediakan 3 logo saja, karena buat ibu-ibu tokoh dari UI yang berada di sektor Platinum jumlahnya juga hanya beberapa orang, sepertinya kecil kemungkinan juga di sektor Platinum ada penyusupnya, iya kan..? hehe... :D

Oya, selain logo ini, kita juga membuat beberapa tatib (tata tertib) untuk memudahkan saling mengingat, mengenal, dan sama-sama nyaman mengikuti acara. Yaitu, memakai kerudung seragam berwarna putih, agar supaya tidak kegerahan di tribun nanti; juga masing-masing kita mengenakan syal batik cirebon warna mega mendung. Pokoknya unyu-unyu deh.. :D :D

 

 Waktu itu, saat berkunjung ke rumah teman, eh malah dikasi oleh-oleh spanduk ini. Padahal ke rumah beliau awalnya hanya mengantarkan tiket Muktamar. Yaudah deh, langsung aja dipasang di pintu garasi kos-kosan, taraaaa :-).

Kalau ini foto agak berbeda, sebenarnya yg mau difoto itu danau, pohon, atau balairung UI sih? Ga jelas ya? Memang iya.. karena waktu ngambil foto ini tuh lagi broken heart banget :(. Begini ceritanya, saat sedang mengisi halqah bareng ibu-ibu, ga sengaja ada pesan wasap yang masuk. Isinya kabar dari teman yang memohon maaf karena mendadak tidak bisa ikut MK, deadline UAS harus turlap (turun lapangan) hari Ahad pagi tanggal 2 Juni 2013. Heumm.... dalam hati aku berdo’a “Ya muqallib al-qulub, thabbit qalbi ‘ala dinik” yang artinya “Wahai Tuhan Yang Membolak-balikan hati, tetapkan hati ini di atas agama Mu”.



 

Akhirnya, Ahad tanggal 2 Juni 2013 pun tiba. Tepat pukul 03.00 wib, kita mulai berkumpul di Jalan Margonda Raya, Depok; tepatnya di depan TB. Gramedia. Langsung bergerak sigap tempel-menempel di bis, mulai dari beberapa buah spanduk, Liwa-Royah, ga ketinggalan juga famplet logo Nisaa UI di Bis. Mungkin pada banyak yang berpikir, Depok-Senayan kan dekat, ngapa mesti pagi bener berangkatnyah? :-).

Secara pesertanya lebih kurang 100.000, jangan sampai kita telat masuk stadion karena harus ngantri markir Bis. Akhirnya sholat subuh pun dilakukan di tengah perjalanan, di Masjid deket-deket Kalibata Jaksel gitu deh.. :-D



Alhamdulillah, pukul 05.30 wib kita udah nyampe di GBK-Senayan. Senayan udah rame ternyata, tapi masih sangat leluasa tanpa berdesak-desakan. Langsung deh menuju sektor dan pintu masing-masing. Teman-teman Reguler kebagian di pintu 3, VIP di pintu 4, VVIP dan Platinum di pintu 6. Yak, pose dulu di depan pintu untuk diabadikan sambil megang spanduk yang udah kita siapin jauh-jauh hari ^_^. Semuanya semangat walau sudah berlelah-lelah sejak dini hari.. xixixi.

Peserta dari Nisaa UI ini ada yang berasal dari Fakultas Ilmu Budaya, Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Teknik,  Fakultas Hukum, Vokasi UI, dan seterusnya.. Semua bersatu dalam perjuangan, untuk Songsong Perubahan Besar Dunia Menuju Khilafah. Takbiiirr... Allahu Akbar !!




Subhanallah, walau masih amatir dalam jepret-jepret foto dan hanya mengandalkan kamera HP saja, paling tidak kumpulan foto yang kita ambil dari tribun di atas cukuplah untuk menggambarkan semarak dan gegap gempitanya Muktamar Khilafah ini. Pastinya tiap peserta dari masing-masing wilayah sekitar ibu kota Jakarta punya kisah tersendiri dalam mempersiapkan dan mengikuti acara ini, seperti kita juga tentunya.

Enam tahun yang lalu kita berkumpul di sini dalam KKI 2007 (Konferensi Khilafah Internasional), kini kita berkumpul lagi di tempat ini dalam MK 2013 (Muktamar Khilafah). Tentu dengan visi yang lebih besar, opini yang lebih kuat dan matang untuk menyongsong Khilafah, dan jumlah massa yang jauh lebih besar tentunya, karena MK-Jakarta adalah puncak Muktamar di lebih dari 31 Muktamar serupa di seluruh nusantara.

Sebentar, kenapa foto saya tidak seperti teman-teman lain yang berkerudung putih? Hemm.. tentu ada sebabnya, coz memang sengaja tampil dengan warna mencolok supaya mudah dikenali, ga lucu juga kan kalo Amiroh Rombongan yang badannya kecil dan imut menghilang entah kemana ditengah kerumunan karena tidak kelihatan...? :D :P.




Setelah acara Muktamar berakhir, Alhamdulillah pada malamnya saya dapat kesempatan untuk menghadiri Pertemuan pasca MK di Hotel Grand Sahid, Jakarta. Walau lelah, tapi para pembicara pasti jauh lebih lelah dari kelelahan yang saya rasakan. Ada bro Taji Mustafa (UK), Okay Pala (Holland), Abdul Moemin (Yaman), Syaikh Hisyam Albaba (Suriah).. juga ada brothers lainnya dari Pakistan, India, Tunisia, Libanon, Malaysia, dan.. Subhanallah, semoga nanti bisa ketemu mereka lagi di Jannah-Nya, amin, Allahumma Amiiinn..

Oya, terimakasih buat dik Liya, sahabat dan adik tersayang dari CMO (Center Media Office) yang dengan senang hati membagi foto-foto di Hotel Sahid kemarin, nanti ku bagikan script rekaman acaranya ya dek.. Jazakillah khairan katsir :-) :-).


~ Salam ~



Oya, dua foto ini selalu buat aku terharu, bahkan sampai menitikkan air mata, saudaraku.. saksikanlah, kami di sini berjuang untuk membebaskan kalian dari Penguasa Diktator dan sistem Thagut.. Allahu Akbar.



(kiri: “O people of Al-Sham, One Ummah, One Flag, One War”) -> oleh Ustadz Shiddiq Al Jawi

(kanan: “ To the Islamic Brigades: be the supporters of Allah by working to implement his shariah by establishing the Khilafah”) -> oleh syabab Ausyie kayaknya -_-‘

(bawah: "The rest of the world may have forgotten you. But the Ummah is with you, oh Muslims of Burma, and we are working for Khilafah to liberate you!")

Subhanallah... !!

Kamis, 18 April 2013

Know Khilafah


Emot penasaran ^^". Sumber http://tutyonstar.blogdetik.com/files/2011/09/smile-question1.jpg 


Hai.. salam ukhuwah, kali ini bertemu dengan saya ukhti sholihah dalam rubrik Know Khilafah. Rubrik ini memberi ruang buat kamu-kamu untuk mengenal Khilafah lebih dekat, kira-kira sudah pada tau ga ya apa itu Khilafah? Kenapa sih harus dibahas? Yoyoyo.. pastinya kita pingin kenalin apa itu khilafah biar kamu-kamu ga pada awam dengan kata yang satu ini, tentunya dengan bahasan yang menarik coz hari gini ga tau Khilafah..? oh no.

Wel.. wajar juga sih kalau banyak dari kita yang ga kenal dengan Khilafah ini, bukan cuma kaum muda, para tetua juga ada lho yang ga tau. Ko’ bisa sih? Iya bisa, bisa karena banyak hal, bisa karena ga pernah menyaksikan khilafah itu diterapkan, bisa juga karena ga pernah dengar khilafah, atau ga tau sejarah tentang khilafah, dan ada juga lho karena ga mau tau.. ups. Hehe, moga-moga aja kita bukan yang terakhir ya kawan.

Ga tau khilafah karena ga pernah menyaksikan khilafah itu diterapkan? Please deh, emangnya khilafah itu apaan sih pake diterap-terapin segala? Emangnya khilafah itu ‘peraturan’ yang perlu diterapkan? Hmm.. lebih tepatnya adalah sistem aturan, yup, khilafah itu adalah suatu sistem yang menerapkan seperangkat aturan yang lengkap, aturan apa tuch? Aturan dari Ideologi Islam. Hoooh.. berat nih bahasannya... -_-“. Tenang kawan, jangan alergi dulu, keep on reading okey? 

So, kalau selama ini diantara sistem pemerintahan yang kita kenal ga jauh-jauh dari demokrasi, republik, monarki, atau parlementer, ternyata khilafah itu merupakan sistem pemerintahan juga lho. Buktinya, kalau sistem lain punya kepala negara atawa pemerintahan dengan sebutan presiden, perdana menteri, kaisar/raja, maka khilafah juga punya sebutan khusus untuk kepala negaranya yaitu khalifah. Oya, sebelum dilanjutin mbacanya, kamu-kamu harus kasi ruang dulu ya untuk ngisi memory mu tentang pembahasan khilafah ini, yang biasanya hanya keisi pembahasan tentang republik, parlementer, demokrasi, dll, come on guys.. you’ve got to give space to know about khilafah.

Khilafah itu adalah suatu sistem yang menerapkan seperangkat alat sholat aturan yang lengkap. *Maaf, typo*. Betul, seperangkat aturan lengkap yang diterapkan oleh khilafah itu tujuannya untuk mengatur negara. Jadi sebagai suatu sistem kenegaraan, pastinya ada banyak pilar (subsistem) yang menyangga khilafah tegak berdiri. Diantaranya sistem pemerintahan, politik, hukum, militer, sosial, ekonomi, juga kesehatan. Nah, kesemua pilar penyangga ini berasal dari sumber yang satu, yaitu akidah Islam. Makanya wajar kalau menyebut khilafah akan disandingkan dengan kata Islam, jadilah sistem ini kenal dengan sebutan Khilafah Islamiyah.

Secara politik, kekuasaan khilafah Islamiyah pernah membentang dari jazirah arab sampai afrika, asia hingga eropa selama lebih dari 1000 tahun lamanya. Waw, keren. Benar, sejak Rasulullah saw. pertama kali hijrah ke Madinah sampai kemarin tahun 1924, khilafah terus berdiri memimpin dunia dengan menerapkan Islam. Coba kita bayangin, kira-kira apa jadinya kita sekarang ya bila dulu tidak ada khilafah yang menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia? Bisa-bisa kita ngikut agama nenek moyang yang animisme bin dinamisme. Hiiiiii takuuuut...

Nah secara politik pemerintahan lagi, sejarah mencatat banyak kisah-kisah inspiratif dari para pemimpin kaum muslimin. Oke, berhubung bulan ini orang-orang pada rame bahas tentang perempuan, saya jadi tertarik ngejelasin kayak apa sih kontribusi politik perempuan di masa khilafah? Ada kisah menarik nih sob dari seorang perempuan dimasa pemerintahan khalifah Umar bin khathab. 

Kala itu khalifah Umar melihat banyak lelaki yang membujang, selidik punya selidik ternyata para lelaki banyak yang membujang karena tidak mampu melamar akibat perempuan-perempuannya netapin mahar yang guedhe alias tinggi or minta maharnya mahal-mahal cuy. Jadilah para lelaki itu ngebujang dulu. Khalifah Umar merasa harus memberi solusi supaya para jomlowan bisa menikah. Solusinya dengan jalan mengeluarkan kebijakan kepada para perempuan supaya membatasi jumlah mahar mereka biar ga kemahalan. Sontak ada seorang perempuan yang protes karena ga terima dengan kebijakan khalifah, gimana bentuk protesnya? Doski ngomong langsung sob ke khalifah Umar. Apa? Ngomong langsung? Pegimana ceritanye? Umar pan kepala negare, nah die cuma perempuan biasa? Kagak pake ngumpulin perempuan rame-rame tapi langsung protes sendirian? Ape die kagak takut kalo protes bakal dipenjarain sama Umar? Hadoh.. cari perkara nih cewe.
Sabar sob, khilafah Islam ga separah itu. Saat doski mempertanyakan kebijakan Umar yang membatasi jumlah mahar sementara Allah telah membebaskan kaum perempuan untuk menetapkan berapapun mahar yang dia inginkan, jleb.. khalifah Umar langsung terdiam dan menyesali diri. Umar menyadari kealpaannya dan membenarkan apa yang disampaikan perempuan ini. Akhirnya khalifah mengambil solusi dengan meluaskan lapangan pekerjaan supaya para jomlowan ga kekurangan harta lagi.

Dari kisah ini kita jadi kegambar jelas kayak gimana kontribusi politik perempuan untuk controlling kekuasaan pejabat tinggi negara supaya berjalan sesuai aturan Allah, aturan Islam. Kehormatannya sebagai perempuan tetap terjaga sob, walaupun kritik ditujukan pada orang nomor satu saat itu, doski ga khawatir untuk menyampaikan dan dia tetap dilindungi. Kerennya lagi, Umar meminta seluruh rakyatnya untuk mencontoh apa yang doski lakukan. Subhanallah..subhanallah.

Sebenarnya masih banyak yang mau diceritain, apa daya kita dibatasi oleh lembar-lembar halaman. Ada segudang lebih pembahasan untuk kenal khilafah lebih dekat. So, segera buka lembaran berikutnya untuk meluaskan fikirmu tentang Islam. Sampai ketemu di edisi berikutnya, bye-bye. ^.^v


PS:
Tulisan pertamaku untuk salah satu rubrik minimagz yang insya Allah akan diluncurin april tahun ini (2013). Semoga lulus meja editor.. ganbate (^,^)9