Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Desember 2014

Miras Meluas, Siapa Was-was?

Prolog
Judul di atas adalah tema yang diangkat dalam acara di salah satu televisi berita di Indonesia, nama acaranya "Kotak Bicara-TV One". Saya sendiri tidak menonton acaranya secara langsung, hanya tertarik ketika ada teman di FB yang ngasi link video rekamannya dari youtube. Yang lebih membuat tertarik sebenarnya karena salah satu nara sumber yang diundang adalah Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia, Ustad Ismail Yusanto. Tentu yang membuat tertarik lainnya adalah karena masalah minuman keras atau miras oplosan yang akhir-akhir ini banyak menelan korban, sekaligus pernyataan kontroversial dari Gubernur DKI, Basuki Cahya Purnama alias Ahok untuk melegalkan peredaran minuman keras di Jakarta.

Acaranya sendiri cukup dikemas menarik. Awalnya saya bingung kenapa ketiga nara sumber harus memasuki kotak atau bilik masing-masing dan kemudian mengenakan headphone. Tetapi mereka masih dapat saling mendengar suara masing-masing, namun dengan suara yang disamarkan sehingga kecil kemungkinan untuk bisa saling mengetahui siapa yang berada di bilik sebelahnya. Namun saat ending acara terlihat bagus sekali, ketiga narasumber yang mulai menebak dan makin penasaran satu sama lain, terlihat kaget dan tersenyum-senyum setelah mengetahui siapa lawan diskusinyanya barusan.

Oya, bagi pembaca blog yang punya banyak paket data internet atau mudah untuk terkoneksi dengan wifi gratis, bisa langsung klik untuk tonton videonya. Insyaallah gak bakal kecewa. Namun bagi yang miliki keterbatasan, berikut ini saya kutipkan ulang notulensi yang saya buat dari seluruh pernyataan Ustad Ismail Yusanto dalam acara ini, from the beginning till the end :D. Paling engga bisa dapatkan poin penting dalam mendudukkan perkara minuman keras yang makin hari makin menghantui negeri ini. Yuk lanjutkan membacanya :-)

***

Host: Apakah menurut anda dilegalkannya minuman keras ini akan menyelesaikan permasalahan miras oplosan yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban?

Ustad Ismail:
Itu tadi pertanyaan penting, ini akan menyelesaikan masalah atau menimbulkan masalah baru? Pertanyaan ini seharusnya diberikan pada Pak Ahok, apa sebenarnya yang beliau inginkan dengan wacana ini? Karena kalau kita bicara miras, sudah sangat banyak sekali data ilmiah yang menyatakan bahwa miras ini sangat buruk pengaruhnya, baik secara psikologis maupun fisiologis. Oleh karena itu, yang diperlukan bangsa ini bukan melegalkan, tapi melarang miras sama sekali. Karena itu, kalau ada perda-perda di berbagai daerah yang intinya untuk melarang peredaran miras, itu adalah sangat bagus sekali. Karena itu sangat aneh apabila Pak Ahok justru berpikiran terbalik.

Kalau ada miras oplosan, itu berarti miras ini ada karena tidak dilegalkan. Bukan, bukan seperti itu. Tidak dilegalkan saja ada miras oplosan, apalagi kalau dilegalkan. Itu pasti akan lebih marak lagi. Jadi, kalau sesuatu yang dalam bahasa agama itu diharamkan, maka pasti dia akan berdampak buruk. Kalau kita mengutip hadis Rasulullah SAW, yang artinya dikatakan bahwa Khamar itu adalah induknya segala kejahatan. Dan fakta pun menunjukkan hal seperti itu. Karena itu kita harus segera berfikir apa yang disebut oleh mbak Fahira Idris (anggota DPRD Jakarta) itu betul sekali. Bahwa harus ada perda larangan minuman keras. Karena itu saya juga mengkritik Keppres no. 3 tahun 2007 yang masih mengizinkan beredarnya miras meski dalam kadar alkohol nol sampai dengan 5%. Karena meski kecil, kalau dia diminum secara rutin juga akan berdampak buruk pada kesehatan.

Kalau itu benar terjadi (pelegalan minuman keras-red), berarti bangsa ini atau pemerintah daerah Jakarta tidak belajar dari pengalaman. Saya kira, sekian banyak korban berjatuhan semestinya memberikan pelajaran bagi kita bahwa mestinya miras ini sudah tidak boleh lagi ditoleransi. Jadi, harus ditutup ruang sekecil apapun dia diproduksi atau diedarkan. Karena itu kalau tadi pemda DKI memiliki saham sebanyak 26,6% di salah satu pabrik miras, itu kemudian dia akan memproduksi kemudian dijaga ketat, itu menurut saya akan sia-sia.

Saya kira kita memerlukan sebuah aturan yang tegas. Kita bisa belajar dari apa yang sudah dilakukan oleh Kabupaten Bulukumba. Bahwa beberapa tahun yang lalu, mereka menerbitkan perda larangan minuman keras, hasilnya sangat bagus. Kriminalitas menurun sampai 80% dan ini membuat gembira semua lapisan masyarakat. Jadi kalau dikatakan bahwa perda miras ini seolah-olah hanya memenuhi aspirasi umat Islam itu tidak benar sama sekali. Di Kabupaten Bulukumba, baik muslim maupun non muslim mendukung perda yang memberikan kebaikan pada masyarakat.

Host: Bagaimana dengan keinginan Ahok untuk melegalkan miras ini kemudian dikontrol dengan pengawasan yang ketat?

Pengawasan yang ketat? Justru itu masalahnya. Pak Ahok ini ingin menyelesaikan masalah atau menambah 
masalah? Saya kira ini pertanyaan yang sangat mendasar. Kalau kita tidak ingin miras beredar di tengah masyarakat, STOP produksi! Selesai masalah.

Peran tokoh agama itu penting untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya miras. Tetapi selama miras itu beredar di tengah masyarakat pasti akan ada yang mengonsumsi. Kalau kita bicara tenaga kerja, data dari Kementrian Perindustrian tahun 2010 industri miras itu hanya menyerap 2400 orang. Mungkin kalau tahun 2014 sekarang jadi 3000 orang, jadi tidak banyak. Coba anda banyangkan, kita membuka pabrik miras menyerap kurang lebih 3000 orang, sementara korbannya demikian banyak. Tadi disebut ada 18.000 korban yang jatuh akibat minuman keras. Membela 3000 mengorbankan 18.000. Kita mau nilai berapa ini satu orang mati karena miras?

Peran ulama, guru, tokoh masyarakat itu jelas sangat penting. Tetapi ini kan kita bicara tentang perizinan. Bicara tentang mana yang boleh beredar dan mana yang tidak itu bukan domainnya para tokoh agama, penyadaran saja tidak cukup. Soal perizinan dan semacamnya adalah domainnya pemerintah. Jadi kita sedang bicara peran pemerintah, jangan diberikan peran pemerintah pada peran ulama.

Kita sudah punya pengalaman, selalu gagal dalam hal-hal seperti pengawasan, pengendalian, dst. Ini menunjukkan ada watak dasar bangsa ini untuk membiarkan ada lobang sedikitpun untuk melakukan pelanggaran. Karena itu soal miras, pengawasan terhadap peredaran mutlak ada. Tetapi lebih penting lagi pabriknya itu ditutup sama sekali, selesai. Kalau kita bicara tentang tenaga kerja; 3000 orang tenaga kerja yang berkerja di pabrik miras memang banyak. Tetapi ada banyak industri yang bisa menyerap tenaga kerja sejumlah itu. Dan itu kita dorong ke sana. Kalau industri itu kita bangun, maka insyaallah pengangguran akan berkurang, tidak harus dengan membangun industri miras yang akan menimbulkan korban yang lebih banyak.

Host: (acara sudah hampir selesai) Menurut anda siapa orang di kotak C?

Saya kira yang di C itu anggota DPRD Jakarta. Menurut saya beliau ini kurang tegas, bahwa menurut saya anggota dewan itu punya peluang untuk melahirkan peraturan tegas dan aspiratif. Kalau bicara tentang miras maka mestinya segera ambil inisiatif untuk mengeluarkan perda melarang miras. Selesai masalah.

--> Setelah saling bertemu dan berkenalan, ternyata bapak yang di kotak C adalah anggota DPRD Jakarta dari fraksi PKB.

Saya (Ismail Yusanto) sekarang mengerti, bahwa sekarang ini beliau berada dalam satu koalisi yang mendukung Pak Ahok. Karena itu jadi lidah agak kelu untuk mengatakan sesuatu yang mungkin menyinggung Pak Gubernur.

Soal peran ulama sudah sangat bagus dalam berbagai soal yang berkenaan dengan penjagaan moralitas. Termasuk penjelasan mengenai miras itu sudah tidak kurang-kurang. Tetapi persoalan yang dihadapi ulama adalah miras itu tetap beredar di tengah-tengah masyarakat. Ketika miras beredar di tengah masyarakat, dikonsumsi oleh masyarakat, ulama itu tidak bisa berbuat apa-apa. Karena itu sudah bukan lagi wewenang ulama. Ini wewenang pemda untuk menyetop peredarannya. Di situlah tadi saya ingin sampaikan, intinya tadi itu di situ. Bahwa ini yang mengambil peran adalah pemerintah, DPRD yang berperan. Karena itu sekaranglah saatnya kita mengambil peran dan tanggung jawab untuk menghentikan peredaran, produksi miras, yang jelas-jelas merugikan masyarakat.

Host: Solusi terbaik bagi masyarakat?

Yang jelas masyarakat harus kuat, punya kontrol diri terhadap sesuatu yang diharamkan oleh agama dan berakibat buruk bagi kesehatan dan terhadap keamanan masyarakat. Itu yang pertama. Kemudian yang kedua, saya pikir pemerintah itu harus betul-betul menjalankan fungsinya sebagai pelindung dan pengayom masyarakat. Bukan hanya berfikir tentang sesuatu yang sifanya Kapitalistik. Ini saya khawatir sekali karena makin hari negara kita itu makin berhitung soal duit, gitu lho. Bahwa, uang itu penting: iya, lapangan pekerjaan penting: iya. Tetapi jangan sampai hanya untuk kepentingan ini lantas mengorbankan harkat, martabat, dan moralitas masyarakat.









Komentar saya: Super sekali Pak solusinya. TOP BGT :-)

Sabtu, 05 Mei 2012

Ayo ke Medan :D

Gunung Sinabung sumber foto

Danau Toba from MEREK Tanah Karo Simalem sumber foto
 
 
Pohon biasanya mengeluarkan oksigen selama 12 jam, lalu setengah harinya lagi mengeluarkan karbondioksida yang berbahaya. Nah, di sebuah tempat wisata nan asri di Tanah Karo, Sumatra Utara, ada sebuah pohon yang bisa mengeluarkan oksigen 24 jam terus-menerus alias nonstop.

Pohon itu bernama taskus. Berada di Taman Simalem, Kecamatan Merek, Tanah Karo--tiga jam dari Kota Medan. Simalem letaknya persis di sisi barat Danau Toba, yang berarti nyaman dalam bahasa Batak Karo.

Taman Simalem memiliki luas 200 hektare. Tempat ini menawarkan banyak fasilitas dan kenyamanan. Mulai aneka permainan keluarga, area petualangan, hingga penginapan dengan view Danau Toba--danau terbesar kedua di dunia.

Di sana juga ada kebun binatang mini. Beragam hewan unik ada di taman tersebut. Sebagian hidup di dalam di kandang, tapi ada juga yang dibiarkan hidup secara liar.

Namun yang paling favorit bagi pengunjung adalah area outbound. Menantang dan memacu adrenalin. Pengelola juga menyediakan kuda untuk membawa Anda berkeliling taman.

Beragam aktivitas memang bisa dipilih di kawasan tersebut. Selain berpetualang dan naik kuda, pengunjung juga bisa main golf dengan pemandangan Danau Toba. Dijamin sehat dan menyegarkan mata. Sebab, pemain bisa berolahraga sambil menikmati keindahan Danau Toba yang terkenal itu.

Bukan hanya di Tanah Karo, berbagai obyek wisata di Kota Medan juga menarik untuk dikunjungi, termasuk wisata kulinernya. Satu di antaranya adalah Lontong Medan yang bertebaran di setiap sudut kota. Masyarakat setempat biasanya menyantap Lontong Medan saat sarapan.

Ada juga Masjid Raya Al Mashun di Jalan Sisingamangaraja, Medan. Masjid tersebut dibangun antara tahun 1906-1909 oleh Sultan Makmun Ar-Rasyid Perkasa Alamsyah. Selain bersejarah, bentuk masjid juga indah.

Bagi yang suka berekreasi di air, waterpark di pusat kota bisa menjadi alternatif. Anda bisa merasakan berbagai sensasi bermain air di tengah obyek wisata tersebut.

Selepas berenang, tidak ada salahnya bila mencoba wisata kuliner di sebuah restoran di kawasan Kesawan. Di sana ada menu legenda, yakni steak lidah sapi. Menu tersebut diolah dari dapur yang sama persis sejak zaman Belanda tempo dulu.

Anda juga menengok rumah Tjong A Fie, warga keturunan Tionghoa, di Jalan Ahmad Yani, Kesawan. Rumah tersebut dibangun tahun 1900. Konon Tjong A Fie pernah menjadi orang paling kaya se-Medan.

Namun tak lengkap ke Medan bila tak mencicipi durian Pak Singlet di Jalan Iskandar Muda. Dinamakan Pak Singlet karena dia hanya memakai singlet saat berjualan. Konon hal ini dilakukan lantaran dia kegerahan akibat kebanyakan makan durian.

Sedangkan untuk makan malam, ada restoran seafood di Jalan Wajir. Tempat ini selalu diserbu pengunjung, terutama di akhir pekan. Menu yang disajikan cukup beragam sehingga memanjakan pengunjung untuk memilih.

Jadi tunggu apa lagi, jika ada kesempatan, tak ada salahnya Anda mengajak keluarga berkunjung ke Sumatra Utara. Menikmati berbagai obyek wisata di tepi Danau Toba dan Kota Medan.(ULF)

Minggu, 08 April 2012

Kisah di balik Aksi BBM

Saya mau sharing sedikit di balik kisah kita waktu lagi sibuk bolak-balik aksi menolak kenaikan harga BBM kemarin di bulan maret. Ya, selain merupakan kebijakan dzholim, sudah sepantasnya kita menolak kenaikan ini. BBM itu harta ummat, jadi ga pantes kalo pemerintah pakai ngejual harta milik ummat dengan harga tinggi. 
Ga logis dong, masa harta milik kita tapi kita harus beli dengan harga yang mahal? Seharusnya karena itu adalah harta ummat, berarti rakyat bisa menikmatinya dengan gratis, minimal dengan harga yang murah. Apa hanya karena biaya eksploitasi minyak sampai distribusi bahan bakar ecaran memerlukan biaya yang “mahal”? Mahal? Benarkah? 
Setau saya istilah subsidi BBM perlu diteliti kembali kebenarannya, mengapa? Karena pada faktanya tidak ada subsidi BBM. Pemerintah mengambil minyak bumi milik rakyat secara gratis dengan biaya hanya 10 US$/barel. Namun, karena pemerintah hanya bisa menjual seharga 77 US$/barel, mereka merasa rugi jika minyak Internasional harganya lebih mahal lagi. Padahal pemerintah sudah dapat untung 67 US$/barel atau untung Rp 165,8 triliun per tahun (sumber: laporan keuangan pertamina 2005).
Jadi kita kita harus menolak setiap bentuk kedzholiman terhadap ummat. BBM salah satunya. Tidak mudah memang, butuh kekuatan dan keberanian mengatakan yang haq (kebenaran) kepada penguasa. Termasuk beberapa kisah teman-teman yang ingin ikut aksi menolak kenaikan harga BBM berikut, silahkan menyimak... :)
*********
Di kampus, awal bulan maret lalu saat kita berkunjung ke beberapa lembaga (BEM, Lembaga Dakwah, atau Majelis Mahasiswa) dan berdiskusi tentang : kurang terdengarnya suara para aktivis kampus terhadap isu-isu yang sedang hangat, apalagi aksi turun jalan yang sudah sangat jarang terlihat.
Ternyata memang ada pengalihan gerakan aksi mahasiswa (seperti turun ke jalan) untuk mengkritik pemerintah menjadi kegiatan penelitian dan pengkajian kebijakan pemerintah dengan membuat acara semisal seminar, talkshow, dst. Bahkan hal ini sudah digariskan dalam program kerja teman-teman aktivis kampus untuk meminimalisir aksi turun jalan/demonstrasi. 
Yah, kalau kegiatan pengganti seperti seminar dan talkshow untuk mengkritik dan mengkaji kinerja pemerintah tersebut dihadiri langsung oleh penguasa yang terkait, tentu kegiatan ini bisa memberi kontribusi. Namun, tidak jarang malah dalam kegiatan-kegiatan tersebut pemerintah terkait tidak hadir, minimal untuk mempertanggungjawabkan kebijakannya. Maka aksi turun jalan tetap penting dong..? tapi, sepertinya mental mahasiswa saat ini juga turut mempengaruhi. Banyak dari aktivis lembaga kampus yang menganggap tidak penting lagi aksi atau demonstrasi, padahal mahasiswa juga bisa melakukan aksi dengan damai dan cerdas untuk mengkritik penguasa.
Nah, salah satu lembaga kampus yang saya kunjungi di fakultas yang ada di UI curhat colongan (curcol) pada kita kalau mereka juga galau dengan kondisi ini. Ternyata dari diri mereka sendiri tidak setuju dengan perubahan orientasi pergerakan kampus saat ini. Banyak aktivis sudah kehilangan idealismenya, ikut lembaga hanya untuk mendapatkan pengalaman organisasi atau ngumpulin CV buat nanti ngelamar kerja. Belum lagi tipe-tipe yang lebih memilih study oriented dari pada sibuk ikut organisasi yang malah membuat telat menyelesaikan kuliah, duh...mau dibawa kemana negeri ini kalau agen-agen perubahannya seperti ini?
Menanggapi curcol tersebut, saya sampaikan kepada mereka bahwa hal ini tidak lain disebabkan oleh sistem pendidikan pragmatis-kapitalistik. Biaya kuliah yang semakin lama semakin murah mahal, membuat teman-teman berfikir bagaimana caranya bisa menyelesaikan studi tepat waktu, ditambah lagi mereka juga dibebani kurikulum kuliah yang padat sehingga disibukkan dengan tugas yang menumpuk. Walhasil, berorganisasi pun seadanya saja, kalau bisa tidak perlu yang terlalu menyita waktu dan perhatian.
Padahal dulu, mahasiswa itu adalah sebenar-benarnya agen perubahan (Agent of Change). Kita bisa melihat bagaimana mahasiswa mampu mengganti rezim orde baru yang sudah berkuasa puluhan tahun.
Akhirnya, saya ajak mereka untuk mengikuti aksi akbar yang akan kita lakukan pada tanggal 29 maret untuk menolak kenaikan harga BBM. Terlihat mereka semangat ingin ikut, tapi beberapa saat kemudian mereka berkata: “...maaf kak, kita lagi UTS.” #spechless... Baiklah adik-adik ku, semoga UTS mu sukses ya..
*********
Ada lagi kisah dari adik kelas yang tergolong baru mengenal Islam, sebab selama ini yang diketahuinya tidak lebih Islam itu hanya perkara sholat, puasa, atau ibadah saja. Tapi subhanallah, patut dicontoh semangatnya. Pertama-tama dia bertanya :
Adik: “kak, ngapain sih kita harus ngadain aksi? Emang pemerintah mau dengarin kita apa kak?”
Saya: “Ya walaupun mereka ga mau dengarin kita dan tidak membatalkan kebijakan menaikkan harga BBM, kan kita tetap wajib mengoreksi mereka supaya menjalankan pemerintahan sesuai Islam. Pasti akan berbeda dong di hadapan Allah antara orang yang berjuang mengoreksi penguasa dengan orang yang tidak melakukan apa-apa :)”
Adik: “Aduh kak, tapi aku ada kuliah..”
Saya: “Bilang aja ke dosennya, minta izin mau aksi tolak kenaikan harga BBM. Kalau dosennya baik, insya Allah dikasi izin. Wajarkan mahasiswa itu menolak kenaikan BBM :)”
Adik: “Yah, berarti nanti aku ga bisa ikut ujian dong kalau banyak absen kuliah”
Saya: “Lho, memang kamu dalam mata kuliah ini udah sering bolos ya?”
Adik: “Belum pernah sih kak..”
Saya: “Ya udah, dimanfaatin aja jatah absennya untuk kegiatan yang bermanfaat. Kalau memang ternyata ada kuis atau ujian, nanti bisa ngobrol baik-baik dengan dosennya minta susulan.. Gimana? :)”
Adik: “oke deh kak, aku ikut aksi :)”
Saya: “Nah, gitu dong :)”
Siangnya sepulang aksi..
Adik: “Kakak, aku capek, mau istirahat dulu..”
Saya: “Bukannya ada kuliah sore dek?”
Adik: “Iya, ada. Tapi aku capek, tadi aksinya panas banget.. heuheu :(”
Saya: “Iya.. yang sabar ya, insyaallah dibalas pahala yang berlimpah oleh Allah. Supaya kamu tidak terlalu banyak ketinggalan mata kuliah, jadi harus kuliah dek.. Aktivis kampus itu harus semangat, harus lebih pengorbanannya dibanding teman-teman yang lain :)”
Adik: “Tapi kuliahnya tinggal sebentar lagi nih kak... heu :(”
Saya: “Yaudah, nih.. kakak pinjamin motor biar kamu ga terlambat :)”
Adik: “Wah, terimaksih kakak :). Aku jadi semangat”
Sepulang kuliah..
Adik: “kakak, aku dibilangin item banget wajahnya sama teman-teman... ditanyain baru maen panas dari mana.. heuuuuuu”
Saya: “hah? Iya, sabar ya. Insyaallah nanti di akhirat wajahnya akan putih bersinar” *geli nahan senyum*
Adik: “Ini tuh butuh waktu berbulan-bulan buat mutihin. Jadiin item mah Cuma perlu beberapa jam aja kak, heuheu... :(”
Saya: “Hitam atau putihnya wajah itu ga dihisab oleh Allah ko’ dek, tapi nanti akan jadi saksi bagaimana kamu membela hak ummat menentang kebijakan dzholim. Trus jawab apa ke teman-teman yang nanyain?”
Adik: “Iya sih, jadi tadi malah asik cerita ke teman-teman gimana jalannya aksi menolak kenaikan harga BBM. Mulai dari aksinya berjalan aman dan tertib, terus tetap menyampaikan sikap menolak kenaikan harga BBM dan solusinya supaya BBM dan pengelolaan negeri ini diatur dengan Syari’ah dan Khilafah :)”
Saya: “Alhamdulillah, jadi teman-temannya bisa tau juga dong walau mereka ga ikutan aksi? :)”
*********
Lain lagi cerita waktu kita mengadakan aksi kecil-kecilan dari kantin satu ke kantin lain di kampus (UI) masih dengan tema yang sama, tolak kenaikan harga BBM. Aksi ini baru pertama kali kita lakukan, kebayang dong gimana nervous-nya.. Karena yang aksi cuma cewe-cewe aja, maka kita milih hari jum’at tanggal 30 maret pukul 11.30 sebagai pilihan. Ini bukan tanpa maksud, karena hari jum’at jam segini waktunya para lelaki melaksanakan sholat jum’at, otomatis sasaran kita adalah cewe-cewe yang lagi pada makan atau nongkrong di kantin. Dan, fakultas yang terpilih untuk kita kunjungi dalam aksi ini adalah:
1. Kantin FMIPA UI (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengeahuan Alam)
2. Kantin FIB UI (Fakultas Ilmu Budaya/Sastra) dan..
3. Kantin FISIP UI (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik).

Kita aksi mengenakan seragam jilbab/gamis warna hitam dan kerudung orens. Jadi filosofi dresscode ini menurut teman saya adalah ‘kita sedang berduka karena rencana kanaikan harga BBM, ini diwakili dengan gamis warna gelap (hitam). Dan kita menawarkan solusi terhadap masalah BBM yaitu Syariah Islam, diwakili dengan kerudung warna cerah (orens)’. Walhasil sepanjang jalan dari kosan menuju kampus, dan dari satu kantin ke kantin berikutnya, kita jadi diliatin sama orang-orang. “Omg, nih cewe-cewe kompakan banget pakai bajunya” mungkin seperti itu tanya mereka dalam hati.
Waktu yang mendebarkan pun tiba. Ya Alloooh, tuh orang-orang di kantin ko’ berasa rame banget ya? Dan itu loh, kenapa udah hampir jam 12 masih banyak cowo di kantin? Apa mereka semua non muslim jadi ga ke masjid buat jum’atan? Ya Alloooh, ya Alloooh, help me... keringet dingin nih, mau mulai dari mana ngomongnya..
Jam udah makin menunjukkan 12 lewat banyak, harus.., harus....., harus segera ngomong! Walo keringetan dan dag-dig-dug ga karuan, kudu NGOMONG!! Kudu nyampein tuh fakta-fakta bohong dibalik alasan kenaikan harga BBM.
Bismillah, siap, dan dimulai..
“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh..” kata saya pakai toa. Ga ada yang jawab. Saya ulangi sambil menanyakan kabar mereka. Tapi, mereka jadi salah tingkah, pura-pura nunduk ga dengar pertanyaan saya. Saya sampaikan, saya dan teman-teman yang bagiin selebaran aksi datang dari mana, dan apa tujuannya. Tanpa mengulur waktu lagi, saya mulai bacakan satu-persatu alasan kita sebagai mahasiswa menolak kenaikan harga BBM. Tiba-tiba, terasa toa suaranya mendem, ga keluar kenceng. Sambil sesekali melihat catatan di tangan, saya mulai kencangkan suara *yang kata teman saya ternyata lebih lantang dari toa*. Perlahan, keberanian itu mulai terkumpul, mulai berani melihat ke orang-orang yang ada di kantin dan semakin mengeraskan suara. Tanpa sengaja terlihat oleh saya seorang bapak (sepertinya dosen) yang berlalu sambil tersenyum memberikan dukungan akan aksi kami siang itu. Tapi, karena fokus dengan catatan yang akan disampaikan dan khawatir ingatan jadi buyar, saya teruskan berorasi sambil jalan mengelilingi pengunjung kantin. Beberapa mahasiswa ada yang mendengarkan orasi kita, membaca selebaran dan poster-poster yang kita bawa, dan ada juga yang nyalain TV buat mantau perkembangan berita penolakan kenaikan harga BBM.
Dan, kesembilan alasan menolak kenaikan harga BBM tersampaikan sudah. Solusi agar BBM diatur dengan Syari’ah dalam naungan Khilafah yang akan membawa kesejahteraan bagi umat manusia (baik muslim dan non muslim) pun sudah tersampaikan. Orasi saya akhiri dengan mengucap takbir, dan dijawab oleh teman-teman aksi dengan ALLAHU AKBAR! Selesai sudah. Oh, masyallah... sepertinya waktunya kurang banyak, hehe :)
Itu cerita di kantin FIB UI, kebetulan saya yang jadi oratornya.
Lain lagi cerita di kantin FISIP UI, yang pasti bukan saya oratornya (kan harus bagi-bagi pahala ke teman-teman yang lain :P). Masih sama, banyak lelaki di kantin, wallahu’alam mereka muslim atau enggak, sy juga ga tahu apa mereka tahu kalau sekarang itu waktunya sholat jum’at. Nah, giliran saya yang bagi-bagiin selebaran ke pengunjung dan penjual di kantin. Tidak ada yang menolak, semua menerima selebaran penolakan kenaikan harga BBM. Bahkan, ada seorang mahasiswa yang merekam dengan video HP orasi dari teman saya.
Akhirnya, aksi diakhiri di Perpus Pusat UI yang baru. Aksi akhir ini dilakukan dengan membagi-bagikan selebaran saja, tanpa ada orasi karena waktu sudah menunjukkan pukul 12.30, jamaah sholat jum’at juga sudah usai melaksanakan kewajibannya. Alhamdulillah, pengalaman yang sangat berkesan. Sebenarnya masih banyak yang ingin dituangkan, namun sepertinya akan lebih nyata bila ikut merasakannya.
#Subhanallah :)
Aksi BBM di kampus cuma ada satu foto aja..
Islam will dominate the world :)

Kamis, 31 Maret 2011

Jalan Dakwah Anak-Anak Muda

Home Republika Online Koran » Dialog Jumat
Jumat, 18 Februari 2011 pukul 08:21:00

LAPORAN UTAMA

Oleh Indah Wulandari

Mereka menanggalkan cara konvensional agar dakwah lebih menarik.


Semangat dakwah bukan monopoli kaum dai. Keinginan untuk berislam dan menyebarkan nilai-nilai Islam juga menjangkiti anak-anak muda Muslim. Di tengah godaan zaman, mereka mengancang tekad melangkah bersama untuk berdakwah, mengajak teman-teman sebayanya bergabung dalam satu barisan.



Di kampus perguruan tinggi, mereka tergabung dalam lembaga dakwah kampus (LDK) dan di masjid-masjid mereka berkegiatan melalui ikatan pemuda masjid atau ikatan remaja masjid. Saat meniti jalan dakwah, mereka juga berbenturan dengan tantangan meski ada hikmah dari lahirnya tantangan itu.

Mereka tergerak untuk tetap eksis dengan mengembangkan kreativitas dalam menemukan cara yang tepat menarik teman sebayanya bersama mendalami Islam. Ketua Jamaah Shalahuddin Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta Akhmad Arwyn Imamur Rozi mengatakan, lembaganya melakukan upaya itu.

Ada upaya mengombinasikan antara kultur budaya dan keilmuan dalam syiar dakwah yang dilakukan Jamaah Shalahuddin. Sebab, kultur Yogyakarta sangat kental mewarnai kehidupan mahasiswa dan masyarakat. Kondisi masyarakat yang sedemikian unik membuat Jamaah Shalahuddin tak merasa tabu membahas nilai-nilai budaya.

Nilai itu kemudian dipenetrasikan bersama nilai-nilai keislaman. Selanjutnya, kedua nilai itu dirancang dalam konsep keilmuan khas mahasiswa Kampus Biru ini. Misalnya, kata Arwyn, di internal pengurus Jamaah Shalahuddin ada kegiatan membuat paper mengenai hal tersebut.

"Setiap pengurus dan anggota Jamaah Shalahuddin membuat tulisan sesuai bidang ilmunya lalu diterjemahkan dalam perspektif Islam untuk dibahas bersama," kata Arwyn kepada Republika, Selasa (15/2). Dan hal itu tak sia-sia, sebab media tersebut dijadikan ajang diskusi dan berbagi ilmu antarmahasiswa lintas fakultas.

Untuk menjembatani interaksi dengan mahasiswa yang bukan anggota, lembaga dakwah kampus ini berupaya membuat terobosan pendekatan. Langkah tersebut, ungkap Arwyn, didasarkan pada penelitian kecil yang dilakukan timnya. Terungkap bahwa mereka yang tak mau bergabung dalam kajian Islam disebabkan oleh kemasannya yang tak cocok.

Mahasiswa UGM cenderung tertarik mempelajari agama dari sisi keilmuan. Maka, pengurus lembaga dakwah ini menekankan sisi keilmuan dengan cara diskusi dan pembuatan paper. Ia menuturkan, dari penelitian tersingkap pula bahwa keengganan mereka karena muncul monopoli mazhab tertentu dalam syiar Jamaah Shalahuddin.

Temuan ini langsung direspons dengan membuat rencana strategis untuk menjembatani pandangan berbagai mazhab dalam kegiatan dakwah Jamaah Shalahuddin. "Kami tak ingin muncul monopoli mazhab agar bisa cair pada teman-teman lainnya," kata Arwyn menjelaskan.

Dengan mempertimbangkan kondisi ini, Jamaah Shalahuddin memperkuat tekadnya, yaitu "Mengayun Dzikir Menantang Pikir". Optimisme pun tumbuh di benak Arwyn, apalagi langkah dakwah mereka didukung oleh para alumnus, yang juga memberikan dukungan dana. Bahkan, sebanyak 70 persen dana berasal dari mereka.

Sisanya, diperoleh dari infak, sedekah, dan wirausaha yang dikembangkan Jamaah Shalahuddin. Sementara itu, di Universitas Indonesia ada Forum Remaja Masjid Ukhuwah Islamiyah Universitas Indonesia (FRM UI). Ini merupakan forum mahasiswa di bawah DKM Masjid Ukhuwah Islamiyah UI.

Salah satu pengurus FRM UI Betie Febriana mengatakan, dalam rangka syiar Islam pihaknya melakukan beragam kegiatan. Seperti kajian bulanan, peringatan hari besar Islam, penyambutan mahasiswa baru, gathering, pelatihan, peringatan Idul Adha, kegiatan bulan Ramadhan, dan mentoring.

Dalam syiarnya, FRM memanfaatkan jejaring sosial seperti facebook dan blog. "Kami meng-update status facebook dengan tausiah-tausiah, pemberitahuan acara kajian kontemporer, maupun kajian Muslimah. Ini untuk menarik orang belajar agama," kata Betie.

Adaptasi
Badan Kerohanian Islam Mahasiswa (BKIM) Institut Pertanian Bogor mempunyai tim khusus untuk menggandeng rekan-rekan mahasiswanya untuk mengenal Islam.

Lembaga ini berusaha menyesuaikan dengan kegemaran anak-anak muda masa kini. "Kami mengamati, mahasiswa cenderung tak mau belajar agama secara konvensional. Kami bentuk tim event organizer yang merancang kajian agama semenarik mungkin," kata Ketua Departemen Keputrian BKIM IPB Lina Najwatur Rusydi.

Tak jarang, BKIM menggelar audiensi berkala dengan Badan Eksekutif Mahasiswa dan unit kegiatan mahasiswa lainnya. Tujuannya untuk menampung aspirasi mahasiswa. Hasilnya, banyak seminar dan talkshow yang diadakan dengan mengangkat beragam tema mulai pergaulan pemuda, politik, sosial, dan kajian keilmuan.

"Kami melihat target dakwah, apakah kegiatan itu untuk para aktivis atau mahasiswa yang tujuannya having fun. Pola pendekatannya sesuai kebutuhan," jelas Najwa. Ia menggambarkan, saat ini di IPB sedang tren perkumpulan dan pertunjukan teater. Tim event organizer BKIM pun mulai merancang kegiatan terkait kesenian Islam.

Ia mengakui, cara adaptasi terhadap kebutuhan mahasiswa ini menimbulkan pro dan kontra. Pihak pengurus, kata dia, memahami kondisi tersebut dan terus berupaya memperbaiki program-programnya. Kini, banyak masukan dan permintaan untuk melakukan kajian intensif.

Selain itu, Najwa mengatakan bahwa keunikan BKIM terletak pada dakwah pemikirannya sehingga program-program BKIM tak sebatas pada kajian bahasa Arab atau tafsir. "Kami membahas bagaimana Islam mengatur semua aspek kehidupan," jelasnya.

BKIM pun tak khawatir jalan dakwahnya terhambat dana sebab, alumni lembaga ini tergerak untuk menafkahkan sebagian rezekinya guna menopang dakwah. Ia mengungkapkan, selain memperoleh dana dari kampus BKIM juga membangun jaringan alumni untuk mendukung operasional dakwah. ed: ferry kisihandi

http://koran.republika.co.id/koran/52/129360/Jalan_Dakwah_Anak_Anak_Muda