Minggu, 13 September 2026

Aku Sedang Tidak Mengikuti Perlombaan yang Sama




Ada masa ketika kita melihat kehidupan orang lain, lalu diam-diam bertanya kepada diri sendiri:


“Kok hidupnya sudah sejauh itu, ya?”


Teman membeli rumah.

Teman mengganti kendaraan.

Teman liburan ke luar negeri.

Teman punya pekerjaan dengan penghasilan yang tampaknya jauh lebih besar.

Di media sosial, hampir setiap hari kita disuguhi pencapaian orang lain.


Lalu tanpa sadar, kita mulai menghitung hidup sendiri dengan menggunakan penggaris milik orang lain.


Padahal, mungkin kita tidak sedang gagal.


Kita hanya sedang menjalani perlombaan yang berbeda.


Ada orang yang merasa bahagia ketika berhasil mengumpulkan banyak hal. Ada pula yang merasa cukup ketika kebutuhan keluarganya terpenuhi, masih punya waktu bersama anak-anak, bisa mengajar, belajar, beribadah, membantu orang lain, dan pulang ke rumah dengan hati yang tenang.


Tidak ada kewajiban bahwa semua orang harus mengejar definisi keberhasilan yang sama.


Boleh kagum, tidak harus minder


Jujur saja, kita manusia.


Melihat orang punya rumah bagus, kendaraan bagus, pakaian bagus, atau bisa bepergian ke tempat-tempat yang kita inginkan, tentu sesekali bisa membuat hati ikut bergoyang.


Tidak perlu sok kebal.


Tidak perlu mengatakan, “Ah, aku nggak butuh semua itu,” kalau sebenarnya kita juga menginginkannya.


Kita boleh mengakui:


“Iya, bagus. Aku juga suka.”


Yang perlu dilatih bukan menjadi manusia yang tidak pernah iri, tetapi menjadi manusia yang tidak menjadikan milik orang lain sebagai ukuran harga dirinya sendiri.


Orang lain punya mobil bagus:


“Masya Allah, bagus ya.”


Bukan:


“Berarti hidupku kalah.”


Orang lain punya rumah besar:


“Alhamdulillah, rezekinya.”


Bukan:


“Kenapa hidupku tidak seperti dia?”


Orang lain mampu membeli banyak hal:


“Itu rezeki dan pilihan hidupnya.”


Lalu kita kembali bertanya kepada diri sendiri:


“Sebenarnya, apa yang aku butuhkan?”


Pertanyaan sederhana ini kadang jauh lebih menyelamatkan daripada berjam-jam melihat kehidupan orang lain di media sosial.


Mari definisikan ulang kata “cukup”


Cukup bukan berarti kita tidak boleh punya cita-cita.


Cukup juga bukan berarti kita harus menolak kemajuan atau merasa bersalah ketika menginginkan kehidupan yang lebih baik.


Kita tetap boleh ingin rumah yang lebih nyaman.


Boleh ingin kendaraan yang lebih baik.


Boleh ingin penghasilan yang lebih besar.


Boleh ingin punya tabungan yang lebih banyak.


Tetapi ada satu hal yang perlu dijaga:


Jangan sampai apa yang belum kita miliki membuat kita merasa menjadi manusia yang kurang berharga.


Harta adalah sesuatu yang kita miliki.


Ia bukan sesuatu yang menentukan nilai diri kita.


Sebab kalau nilai diri selalu ditentukan oleh kepemilikan, kita tidak akan pernah benar-benar selesai.


Hari ini merasa cukup karena punya satu hal.


Besok melihat orang lain punya dua.


Lalu merasa kurang lagi.


Kita pun terus berlari.


Bukan karena membutuhkan sesuatu, tetapi karena takut terlihat tertinggal.


Tidak perlu menjelaskan hidup kepada semua orang


Kadang yang melelahkan bukan kehidupan kita sendiri, tetapi komentar orang lain tentang kehidupan kita.


“Kok masih begitu saja?”


“Masa nggak kepingin punya yang lebih bagus?”


“Sayang dong, sebenarnya kan bisa...”


Tidak semua komentar membutuhkan penjelasan panjang.


Kadang cukup tersenyum dan berkata:


“Aku nyaman dengan hidup seperti ini. Selama kebutuhan keluarga terpenuhi dan kami bisa menjalaninya dengan tenang, aku bersyukur.”


Selesai.


Kita tidak harus membuat semua orang memahami pilihan hidup kita.


Dan jangan pula sampai kita sibuk membuktikan bahwa hidup sederhana kita lebih mulia daripada hidup orang lain.


Sebab itu pun bisa menjadi perlombaan baru.


Dulu:


“Aku harus punya lebih banyak daripada dia.”


Sekarang:


“Aku harus membuktikan bahwa aku lebih sederhana daripada dia.”


Lho, kok tetap lomba? 😂


Biarkan orang lain dengan kehidupannya.


Kita dengan kehidupan kita.


Tiga langkah ketika hati mulai goyah


Mungkin kita bisa mencoba tiga langkah sederhana ketika melihat kehidupan orang lain dan tiba-tiba merasa minder.


Pertama, akui tanpa menyangkal.


“Iya, aku juga sebenarnya suka barang itu.”


Tidak perlu pura-pura tidak tertarik.


Kedua, pisahkan keinginan dari kebutuhan.


“Aku ingin punya. Tetapi apakah aku memang membutuhkannya sekarang?”


Tidak semua yang kita inginkan harus segera kita miliki.


Ketiga, kembali melihat apa yang sudah ada.


“Apa yang sebenarnya Allah titipkan kepadaku hari ini?”


Mungkin ada anak-anak yang memanggil kita pulang.


Ada keluarga yang masih bisa diajak makan bersama.


Ada pekerjaan yang memberi kesempatan kita belajar.


Ada murid-murid yang menunggu diajar.


Ada teman yang datang ketika membutuhkan bantuan.


Ada kesempatan untuk beribadah dan berbagi ilmu.


Ada rumah sederhana yang menjadi tempat pulang.


Hal-hal seperti itu mungkin tidak selalu terlihat mengesankan di media sosial.


Tetapi bukan berarti nilainya kecil.


Sederhana bukan berarti menyerah


Ini juga perlu diluruskan.


Memilih hidup sederhana bukan berarti berhenti berusaha.


Bukan berarti tidak perlu merencanakan masa depan.


Bukan berarti mengabaikan pendidikan anak, kesehatan, kebutuhan keluarga, dana darurat, atau persiapan hari tua.


Kita tetap perlu bekerja dan bertanggung jawab.


Kita tetap boleh bertumbuh.


Tetap boleh punya target.


Tetap boleh memperbaiki kehidupan.


Hanya saja, kita perlu tahu untuk apa kita mengejar semua itu.


Apakah karena memang dibutuhkan?


Atau karena kita ingin membuktikan sesuatu kepada orang lain?


Apakah kita ingin meningkatkan kualitas hidup?


Atau sekadar ingin terlihat berhasil?


Sebab ada perbedaan besar antara mengejar kehidupan yang lebih baik dan mengejar pengakuan bahwa kehidupan kita lebih baik.


Yang pertama bisa membuat kita bertumbuh.


Yang kedua bisa membuat kita tidak pernah merasa cukup.


Mungkin kita tidak kalah


Barangkali selama ini kita terlalu sering melihat ke kanan dan kiri sampai lupa melihat jalan sendiri.


Kita melihat orang lain sudah sampai mana.


Lalu lupa bertanya:


“Sebenarnya aku sedang menuju ke mana?”


Mungkin orang lain sedang berlari mengejar lebih banyak uang.


Silakan.


Mungkin orang lain ingin memiliki rumah yang lebih besar.


Silakan.


Mungkin orang lain ingin kendaraan yang lebih mahal, pekerjaan yang lebih tinggi, atau perjalanan yang lebih jauh.


Silakan.


Kita tidak perlu iri.


Dan kita juga tidak perlu merasa lebih baik.


Sebab bisa jadi ukuran keberhasilan kita memang berbeda.


Mungkin bagi kita, berhasil adalah ketika keluarga bisa hidup dengan layak tanpa kehilangan waktu bersama.


Ketika masih punya tenaga untuk mengajar.


Masih punya kesempatan untuk belajar.


Masih bisa hadir untuk orang-orang yang membutuhkan.


Masih bisa beribadah dengan tenang.


Dan ketika malam tiba, kita bisa merebahkan kepala tanpa terlalu banyak penyesalan karena sepanjang hari hanya sibuk mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak kita perlukan.


Maka, kalau suatu hari melihat kehidupan orang lain dan hati mulai goyah, mungkin kita tidak perlu memarahi diri sendiri.


Katakan saja pelan-pelan:


“Bagus ya. Semoga dia menikmatinya.”


Lalu kembali kepada hidup kita.


Kembali kepada keluarga.


Kembali kepada tanggung jawab.


Kembali kepada cita-cita kita.


Kembali kepada apa yang memang ingin kita kejar.


Karena mungkin...


kita tidak sedang kalah.


Kita hanya tidak mengikuti perlombaan yang sama.


Dan semoga kita tidak menghabiskan hidup untuk mengejar sesuatu hanya karena takut dianggap tertinggal.


Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling banyak memiliki.


Melainkan tentang apakah kita tahu apa yang layak dikejar, apa yang perlu dilepaskan, dan kepada siapa semua yang kita miliki akhirnya akan dipertanggungjawabkan.




Written by chat gpt 

Minggu, 04 Mei 2025

Curhat colongan sejenak 😅


Sejak punya dua anak sholih, sore kemarin adalah hari yang sangat berkesan.. sepertinya dulu waktu belum menikah, melakukan pengorbanan dakwah seperti ini adalah hal biasa, minimal ada setiap bulannya. Maka setelah sekian lama, hujan dan petir menggelegar kemarin itu bagai curahan berkah dari Allah atas dakwah yang dilakukan sejak berangkat sampai pulang.


Jadi, sore kemarin jadwal ku mengisi kajian. Tiba-tiba petir dan hujan deras turun beberapa saat sebelum kajian dimulai, padahal beberapa hari sebelumnya sudah persiapan agar kajian hari ini berjalan lancar.


Fix aku ga punya payung karena hari-hari ku ya di rumah, jarang banget pergi-pergi, kalau pun pergi ya dianterin suami. Sementara kajian sore ini harus ditayangkan pakai laptop.


Akhirnya teringat dulu kata-kata dari ustadzah ku saat dia akan berdakwah mengontak tokoh. Harus naik motor sementara hujan turun deras. Ternyata beliau bawa persiapan baju dari luar sampai dalam, dari atas sampai bawah sebanyak 2 setel. Mihna, gamis, kerudung, sampai kaos kaki, semua 2 pasang. Dan aku ikutin tips dari beliau yang sudah bertahun-tahun lalu itu. 


MasyaAllah, Alhamdulillah sesampainya di tempat kajian aku langsung ganti pakaian yang basah.. laptop yang ku bawa sudah rapi dibungkus plastik di dalam tas sehingga aman dari air hujan.


Gayung bersambut, ibu yang aku isi kajian juga keren karena bisa hadir ngaji. Beliau datang dengan langkah semangat menembus hujan yang mulai ringan dengan payungnya. Gamis sedikit basah di bagian bawah ga terlalu jadi masalah bagi beliau.


Alhamdulillah, ngaji sore itu semakin hangat dengan secangkir teh dari empunya rumah.. Islam dan syariahnya yang kami kaji menjadi ruh untuk makin semangat melanjutkan kajian di pertemuan yang akan datang.


Barakallah.. ayo temukan semangat menyala mu dalam dakwah dan perjuangan, semoga Allah selalu mudahkan agar semangat dan perhitungan yang tepat selalu hadir dalam diri kita semua. 


Mudah-mudahan dengan pengorbanan ini jadi jalan turunnya pertolongan dari Allah bagi dakwah kita semua. Karena keberhasilan dakwah kita yaitu dengan tegaknya Islam Kafah (Khilafah), sudah sangat dinantikan oleh saudara-saudara kita di belahan bumi yang lain... 


Mudah-mudahan catatan ini senantiasa jadi pengingat bagi diri alfakir yang banyak kekurangan..


amiiin, 🤲 🙏🏼

semangat 🔥

Rabu, 10 April 2024

Cacar api atau cacar ular, momen mengagumi kemahakuasaan Nya secara langsung

 


Sumber foto: 
halodoc.com/kesehatan/herpes-zoster

Takjub mengamati ruam merah berisi cairan bisa serempak berada di satu garis setengah lingkaran, melingkari punggung bagian kiri hingga bagian depan. Hanya di sebelah kiri, tak mengganggu badan yang kanan.. mulai dari bintik merah kecil, membesar, seperti melepuh, rasa nyeri yang makin ga bercanda, ruam-ruam baru yang terus muncul.. dan kayaknya tak lama lagi dia pecah.


Mungkin karena sensasi nyeri yang intens tidak berhenti sebelum ruam merah keluar, serta rasa panas seperti terbakar setelah ruam muncul, dikatakan lah dia cacar api. Mungkin karena munculnya satu garis melingkari setengah badan, dikatakan lah dia cacar ular.


Dulu mengira kalau penyakit ini akibat virus yang berasal dari kucing. Setelah membaca berbagai literatur, ternyata dia berasal dari virus cacar yang bangun dari dorman. Bukan virus yang ditularkan oleh kucing.


Baru mengetahui, ternyata setiap orang yang pernah sembuh dari cacar air, virusnya tidak pernah mati atau pergi dari tubuh. Virus hanya tidak aktif atau tidur dan berpindah ke sel saraf di sum sum tulang belakang, bisa juga virusnya berdiam di otak.


Selama fase dorman tidak ada apapun yang terjadi, tidak menyakiti dan tidak merugikan. Sampai pada satu kondisi, virus yang berdiam di sel saraf ini bangun dan aktif lagi. Virus yang aktif akan memengaruhi sel saraf di kulit menimbulkan gejala ruam, bintil-bintil kemerahan berisi air. Inilah dia herpes zoster.


Belum diketahui apa yang menyebabkan virus bernama Varicella Zoster yang dorman di sel saraf ini bisa aktif kembali. Memang tidak semua orang yang pernah mengalami cacar air akan mengalami herpes zoster. 


Ada beberapa kondisi yang diduga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami herpes zoster: usia rentan (di atas 50 tahun), stres, dan daya tahan tubuh yang lemah.


Jadi, orang menderita herpes zoster atau cacar api bisa jadi bukan karena tertular. Terutama bagi mereka yang pernah mengalami cacar air. Bisa jadi mereka terkena herpes karena virus yang berdiam dalam sel sarafnya aktif kembali. Karena herpes zoster adalah kelanjutan dari penyakit cacar air.


Namun, penderita cacar api bisa menularkan virus ini kepada orang lain, yaitu saat ruam merah pecah dan cairannya mengenai orang lain.


Ala kulli hallin, alhamdulillah akhir Ramadhan hingga lebaran tahun ini berteman dulu dengan cacar api.. 


Sakit ini adalah pesan cinta dari sang Maha Pencipta, supaya makin mahir merenungi dan mensyukuri berbagai nikmat hidup yang didapat, juga semakin empati kepada saudara-saudara yang kurang beruntung lainnya.. 


Apalagi saudara muslim di Palestina. Cacar api di kulit ini hanyalah penderitaan seujung kuku bila dibandingkan penderitaan yang mereka rasakan... Allahu yarham, rahmati dan lindungilah saudara-saudara kami di Palestina dan di mana pun berada, amiin 🤲.

Selasa, 13 Desember 2022

Sharing is caring: Pengalaman Pertama Jadi Ibu

Era sosial media di tengah masa pandemi seperti sekarang, ada banyak sekali informasi yang dengan mudahnya tersebar. Bisa informasi positif, banyak juga yang negatif. Kali ini aku mau membagikan pengalamanku sendiri, pengalaman pertama menjadi ibu dengan segudang kefantastisannya. 


Menjadi ibu menjelang usia 36 tentu tidak mudah, ya walaupun momen kehamilan yang dihadapi setiap orang seringkali tidak mudah di awal. Yup, pasti bukan hanya karena faktor U, ya. Nah, hal inilah yang jadi kesadaran aku sejak pertama kali program hamil, sampai akhirnya benar-benar hamil. Aku coba selalu bangun afirmasi positif aka positif thinking atau bahasa anak-anak pengajian sering disebut khusnudzhan, berprasangka baik sama Allah SWT dalam setiap hal.

Mengapa harus khusnudzhan? Karena bukan hanya itu diperintahkan Allah SWT, ternyata itu juga baik buat ibu dan buat calon bayi yang masih di dalam perut. Berbagai kekhawatiran selalu diusahakan dikembalikan ke Allah, bahwa kalau apa yang dikhawatirkan benar-benar terjadi, pastinya Allah juga sudah menetapkan kebaikan di sana. Prakteknya tentu ga mudah ya.. Iyah, betul sekali.


Apa aja sih afirmasi positif yang aku bangun semasa kehamilan? Diantaranya

- aku sejak program hamil merencanakan untuk melahirkan normal pervaginam. Aku sadar usiaku udah di titik kritis awal, tapi aku yakin Allah itu maha baik. Allah sudah siapkan tubuh para wanita untuk siap menjalani kehamilan dan proses melahirkan. Maka segala hal untuk menjaga fungsi tubuh agar bisa menjalankan tugas mengandung dan melahirkan dengan baik dan sehat, seoptimal mungkin aku usahakan.

Sebenarnya sharing-sharing ini bisa dibagi dalam beberapa bagian. Yang pertama ikhtiar menjemput impian kehamilan, yang kedua perjalanan selama kehamilan, dan yang ketiga prosesi melahirkan yang waw sejuta warna. 


Tapi yang paling aku ingin bagikan itu justru bagian yang ketiga. 



Ibu Dari Dua Jagoan

MasyaAllah.. dari judulnya saja udah pada tau lah ya artinya.. 😊

Iya, benar sekali. Kalau di postingan sebelumnya statusku masih ibu anak satu, alhamdulillah hari ini aku sudah jadi ibu dari 2 orang anak, keduanya jagoan alias Ikhwan.. ❤️❤️. MasyaAllah, Tabarakallah.. 🤲

Postingan sebelumnya kelihatan banget aku begitu bersemangat membagikan kisahku menjalani promil sampai melahirkan secara alami, namun tidak begitu peristiwanya di persalinan yang kedua ini. Qodarullah wa maa sya'a fa'ala, aku harus melewati Sectio Caesarea atau operasi sesar. 

Keinginan yang begitu besar untuk kembali menjalani persalinan normal harus diuji dengan pilihan SC. Banyak sekali yang bisa dijadikan pelajaran, terutama saat detik-detik melahirkan. 

Berbagai persiapan fisik dan psikis selama mengandung selalu dengan sadar diupayakan, karena jarak kelahiran sangat dekat, hanya satu setengah tahun dengan kelahiran sebelumnya. Memang ga mudah, beberapa tantangan yang harus aku jalani diantaranya masih aktif menyusui si Abang selama 9 bulan mengandung; usia yang menginjak 37; sampai roller coaster kehidupan sehari-hari; selalu diupayakan diafirmasi sepositif mungkin. Semua demi tetap semangat dan nyaman saat lahiran nanti..

Kejadian ga diduga itu akhirnya datang juga. Aku mengalami KPD atau Ketuban Pecah Dini. Menurut Bu Bidan karena aku aktif menyusui selama hamil sehingga memicu ketuban pecah dini. Secara bulan, kandungan memang sudah masuk 38 pekan, artinya Adik memang sudah siap untuk lahir dan cukup bulan. Kalau sudah cukup bulan, kenapa masih disebut KPD? Karena ketuban pecah sewaktu pembukaan masih 2 cm, yang kalau si ibu ingin lahiran normal, idealnya ketuban pecah saat bukaan 10, minimal mendekati 10. 

Kebayang dong ya gimana campur aduknya perasaan aku saat mendengar si Ayah ngobrol dengan ibu bidan di ruang UGD Puskesmas Kecamatan dekat rumah.. intinya ibu-ibu petugas nakes di PKM harus berjalan sesuai SOP. Pasien melahirkan yang datang ke Yankes dengan kondisi KPD, maksimal dibatasi waktu hanya 8 jam sejak awal pecah ketuban untuk melahirkan. Bila tidak juga melahirkan, pasien harus segera dirujuk ke RS agar segera di-SC. 

Ala kulli hal, pembukaan yang awalnya 2 hanya naik ke pembukaan 4 sampai mendekati batas waktu yang sudah distandarkan. Demi menjaga bayi agar tidak stress mencari jalan keluar, air ketuban yang makin berkurang, khawatir bayi panik sehingga memakan meconium dan ketubannya jadi hijau, demi ibu yang kasihan udah istighfar sampai meraung-raung menahan nyeri akibat kontraksi.. akhirnya ayah tanda-tangan untuk operasi sesar di RS.

MasyaAllah.. Tabarakallah ❤️❤️

(Disclaimer, sebenarnya sore menjelang malam mendekati waktu SC, bayi di dalam perut masih tenang dengan detak jantung yang baik, air ketuban juga masih ada dan jernih.. hanya ibu atau aku yang rintihannya saat menahan kontraksi yang makin kedengaran ga selow.. berkali-kali minta maaf atas banyaknya salah dan dosa, baik ke suami, ke mertua, ke tante yang ikut mendampingi.. yasudah si ayah makin mantap tanda tangan menuju SC saja)

Pengalaman hidup yang berjuta banget rasanya. Saat-saat masuk ke ruang operasi terasa dingin banget.. aku lihat ada sekitar 7 sampai 10 orang nakes yang semua buru-buru menyambut kedatangan ku saat memasuki ruangan, memindahkan dari bed hospital satu ke bed hospital operasi, memulai suntik epidural di punggung bagian bawah untuk bius lokal, sambil sesekali ngajak ngobrol menanyakan apa yang aku rasakan.

Yang ada di pikiran aku mereka itu waw.. semua kompak nolongin aku yang udah ga karu-karuan nahan kontraksi. Udah aku pasrah aja ditanya ini itu di atas bed. Alhamdulillahnya saat suntik epidural aku ga ngerasain apa-apa, malahan aku nanti-nanti banget karena aku yakin itu bisa mengurangi rasa nyeri kontraksi yang you know ya ibuk-ibuk gimana itu rasanyah.. 🥴

Dan benar, beberapa detik setelah disuntik mulai bisa rileks buat ngambil nafas, seiring bagian pinggang ke bawah terasa dingin dan kaku. Makin lama tidurannya makin tenang dan mata mulai bisa fokus lihat ke atas, ke plafon langit-langit ruang operasi. MasyaAllah.. sulit buat percaya yang aku lihat, tapi semuanya bisa disaksikan melalui plafon, langit-langit ruang operasi.. seakan aku dikasi hadiah bisa melihat bagaimana dokter mulai berkarya, ngebeset perutku satu lapisan demi lapisan, mengeluarkan bayi dari dalam, sampai menjahit kembali untuk menutup perut yang menganga.. Allahu Akbar!

Pembatas dari kain yang menghalangi pandangan ku untuk melihat perut sendiri selama proses operasi jadi ga berguna ya karena aku bisa menyaksikan seluruh prosesnya melalui pantulan bayangan di plafon, mungkin plafonnya berbahan vinil atau sejenisnya, aku tak tahu. Yang aku tau, aku seperti sedang melihat siaran langsung tayangan ibu melahirkan di YouTube.. 

Amazing.. Allahu Akbar..!

Aku yang masih terlalu kagum alias sedikit shock (?) dengan kejadian demi kejadian sejak pecah ketuban pagi hari, makin amazing lagi dengan apa yang aku saksikan malam itu di ruang operasi. Semua terjadi begitu cepat dan begitu banyak.. Sampai di momen akhirnya dokter berhasil mengeluarkan bayi dari perut dan menunjukkannya ke hadapan sembari memberi ucapan "Ibu selamat ya bayinya laki-laki.."

Ya Allah.. I am speech less.. MasyaAllah, Allahu Akbar..!



~ lanjut next part 🥰












Kamis, 21 Januari 2021

Kuatlah Wahai Anakku



Sayang.. ini postingan pertama ummi di tahun 2021, tulisan pertama ummi tentang kamu di blog ini setelah 6 bulan kamu tumbuh dan berkembang dengan nyaman di rahim ummi..

Sayang, ummi mau sampaikan kalau ummi dan ayah sudah menanti kamu sejak lama. Setiap hari, setiap bulan hingga hampir dua tahun, penantian itu dijawab dengan indah oleh Allah SWT. Kamu hadir di perut ummi, setiap perubahan kondisi tubuh ummi sejak kehadiran mu selalu ummi ingat bagaimana rasanya.. sebuah rasa yang tidak nyaman memang, tapi ummi bahagia karena dibalik rasa mual, pusing, dan serba tidak nyaman itu ada tanda sayang dari Allah atas kehadiran kamu... MasyaAllah.. tabarakallah...

Sayang ku.. dokter bilang kamu bayi laki-laki, ummi terharu mendengarnya, segera ummi kabarkan pada ayah tentang kamu karena saat itu qodarullah ayah sedang berhalangan mendampingi USG yang pertama.. ayah titip pesan supaya proses USG diabadikan dalam bentuk video, masyaAllah.. betapa ayahmu ingin berada di samping ummi waktu itu...

Anak ku sayang.. tahu kah kamu nak, Agustus 2020 pertama kali ummi dan ayah memastikan kamu benar ada di rahim ummi merupakan tahun yang berat.. bukan hanya bagi kami orangtua mu, tapi tahun yang berat bagi seluruh umat manusia. 

Allah sedang menguji dunia dengan kehadiran wabah Covid-19, suatu kejadian luar biasa yang melebihi kegawatan wabah sehingga hampir seluruh dunia diselimuti pandemik Covid-19. Hari ini sudah hampir setahun pandemik berlangsung, belum juga menunjukkan akan berakhir, tapi penyebarannya kian meluas hingga ke lingkaran yang lebih kecil dan sempit. Sudah jutaan korban dunia, bahkan diantaranya banyak yang berasal dari teman, saudara, juga sahabat ummi dan ayah. 

Sayangku.. sehat dan kuatlah kamu nak di rahim ummi.. segala keterbatasan ummi dan ayah dalam memenuhi kebutuhan mu di masa yang sulit ini, semoga menjadikan dirimu kuat dan tangguh.. bila ada kesalahan dan kekeliruan dari ummi dan ayah dalam menjagamu selama di rahim hingga kamu lahir dan besar nanti.. semoga kamu memaafkan dan Allah pun berkenan memberikan ampunan..

Sayangku.. cintaku.. buah hatiku.. tak berubah harapan ummi dan ayah padamu nak. Agar sehat badan mu, tak kurang satu apapun. Agar indah paras mu yang membawa kesejukan bagi tiap orang yang memandang. Agar sempurna pula akalmu, yang kelak kau gunakan untuk sebaik-baiknya memikirkan umat serta berjuang dan jalan Allah. Agar kelak kau jadi ahli ibadah, penghafal Al Qur'an, pejuang Islam, juga menjadi orang yang bermanfaat bagi keluarga dan ummat dengan ilmu yang kau miliki. Menjadi tabungan kebaikan ayah dan ummi, juga kakek nenek, serta orang-orang yang merasakan manfaat kebaikan dari hadirmu dan amal sholih mu.. masyaAllah.. mampukanlah aku dan suamiku ya Allah untuk melayakkan diri menjadi sebaik-baik orangtua bagi mu, sayang ku....  






Depok, siang hari di tengah mendung dan gerimis..

Catatan kegundahan hati dari calon ibu yang berharap belas dan kasih sayang Allah agar senantiasa melindungi buah hatinya, keluarganya, serta saudara-saudaranya sesama muslim... amiiin