Tampilkan postingan dengan label Anak-anak (kakak dan abang) ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak-anak (kakak dan abang) ku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 November 2014

Komunikasi berkualitas itu P.E.N.T.I.N.G !!

Kamis sore kemarin (13/11/2014) aku dapat kesempatan ngisi kajian di kampus UI Depok. Namanya Kajian Kemuslimahan yang diadakan adik-adik Forum Remaja Masjid Ukhuwah Islamiyah, UI.

Tema yang aku bawakan kali ini seputar kajayaan Islam atau lebih tepatnya "Cahaya Kegemilangan Islam". Alhamdulillah udah langganan slide share dari akunnya ustad Guslaeni Hafidz, sedikit banyak sangat membantuku untuk menyampaikan poin-poin materi yang akan disampaikan saat kajian.

Sebelum ke kampus UI, aku sempatkan dulu menjemput keponakanku ke sekolahannya di SDITNF (diakronim aja ya, ntar jadi promoin merek). Biasanya sepulang sekolah dia baca buku di perpustakaan sambil menunggu untuk dijemput pulang, tapi kebetulan hari itu dianya ga ada. Aku coba cari ke kantin, naik ke kelasnya di lantai 2, balik lagi ke perpus, tapi masih juga ga ada.

Duh, hatiku mulai was-was.. bukan karena takut dia hilang entah ke mana, tapi aku takut telat ngisi kajian di UI ^,^. Bismillah, aku coba cari lagi ke Pos Satpam dekat gerbang sekolahan. Sayup aku dengar ada suara anak kecil manggil-manggil dari belakang, aku lihat dan mulai mikir, adik kecil ini siapa?

Tergesa-gesa dia mengejar langkahku dan buru-buru menjelaskan suatu hal..

Adik kecil: Bibi, bibi.. Munifahnya udah pulang tadi bareng Zahra..
Aku: Oh, udah pulang ya..? Kamu namanya siapa sayang?
Adik kecil: Aku Dinda
Aku: Ko' Dinda belum pulang?
Adik kecil: Aku belum dijemput...
Aku: Oh gitu.. terus kalau teman-teman Munifah yang lain, seperti Safira, Syifa.. mereka udah dijemput semua ya? Ko' bibi ga ngelihat mereka..?
Adik kecil: Kan ikut ke rumahnya Iffah bareng Zahra, naik mobil ibunya Zahra..
Aku: Oh gitu.. subhanallah.. Ko' Dinda ga ikut main ke rumahnya Iffah?
Adik kecil: Aku kan rumahnya deket bi, di Pondok Duta..
Aku: Ohh.. (lagi).. masyaallah.. terima kasih ya Dinda sayang udah ngasi tau informasinya.. Alhamdulillah :-). Kalau gitu bibi duluan ya.. Assalamu'alaikum..
Adik kecil: Wa'alaikum salam..

Ternyata keponakanku Iffah ada acara Ifthar Jama'iy di sekolahnya. Jadi sepulang sekolah, dia mengajak teman-temannya main dulu ke rumah untuk mandi sore dan ganti pakaian, kemudian berangkat lagi ke sekolah ikut Ifthar Jama'iy.

Memang jarak sekolah dan rumahnya Iffah tidak terlalu jauh, wajar kalau dia ngajak teman-temannya ke rumah, atau teman-temannya yang minta ya? Hehe.. aku belum nanya lagi ke Iffah.

Satu hari sebelumnya aku baru pulang ke rumah sehabis pertemuan dari Bogor agak larut malam, saat Iffah sudah tidur. Jadi aku sama sekali ga tau dengan rencana Iffah dan teman-temannya main ke rumah. Ternyata, informasi itu sangat berharga sekali. Coba kalau aku tau, mungkin aku ga akan celingak-celinguk nyariin Iffah di sekolahnya, padahal anaknya udah enjoy bareng teman-temannya main ke rumah. Tapi tak apalah, insyaallah tidak ada yang dikecewakan. Karena aku juga tidak terlambat ngisi Kajian Muslimah di kampus UI.

Justru ada hal yang bikin aku sangat terkesan. Apalagi kalau bukan karena kebaikan hati Dinda, teman sekelasnya keponakanku yang ngelihat aku sedang kebingungan nyariin Iffah, dianya langsung nyamperin dan ngasi tau keberadaan Iffah di mana. Masyaallah.. aku aja ga begitu kenal sama adik kecil ini, tapi mungkin karena dia sering lihat aku mengantar dan menjemput keponakanku ke sekolahnya, jadilah dia tahu ternyata aku ini bibi atau tantenya Iffah. Jadi terharu ^_^"

Saat aku ceritakan hal ini ke Iffah, aku lebih kaget lagi.. ternyata banyak temannya mengira kalau aku itu ibu atau umminya Iffah, krik krik. Xixixi... katanya kita ini mirip. Hahaha.. ga nahan aku malah ketawa ngakak.. wkwkwk :D :D.

Selain Iffah yang saat ini sedang duduk di kelas 4, masih ada kakaknya, Mumtazah yang duduk di kelas 6, dan adiknya Majidah yang duduk di kelas 2. Mereka semua satu sekolahan di NF. Yang paling sering aku jemput bareng-bareng naik satu motor adalah Iffah dan Jiddah. Ada kesamaan antara kami bertiga, yaitu sama-sama pakai kacamata. Jadi kalau lagi jalan bareng, lucu juga kali ya.. bertiga, pegangan tangan, yang satunya dewasa, yang duanya kecil dan masih imut-imut, tapi ketiganya sama-sama pakai kerudung dan pakai kacamata lagi.. xixixi :D

Nah loh ya, pagi saat aku menulis note ini.. aku juga baru tahu kalau Mumtazah si kakak, keponakan yang paling besar, kemarin pergi ke Bandung ikut acara dari sekolahan selama 3 hari, jadi baru akan pulang besok, Sabtu 15 Nov. Masyaallah.. atuh ini udah tinggal serumah kenapa hal-hal yang kayak gini ga terkomunikasikan.. nastaghfirullah.. -_-"

Semoga ini adalah yang terakhir kali. Amin...

Rabu, 27 Februari 2013

Membiasakan Anak (Keponakan) Berjilbab Sejak Kecil (^_^)v *


Begitu masuk masa baligh, pada anak perempuan berlangsung lebih awal yakni 9-12 tahun, seorang anak mulai dibebani dengan hukum syara’ (mukallaf).  Amal dan dosa mereka dihisab.  Agar saat baligh mereka telah siap menjalankan hukum syara’,  mereka perlu dilatih dan dibiasakan menjalankannya sedari kecil.  Rasulullah SAW bersabda:
“Jika seorang anak telah mampu membedakan tangan kanan dan kirinya maka perintahkanlah ia untuk melakukan shalat.” (HR Thabrani).
Begitu juga beliau SAW bersabda: “Perintahkan anakmu shalat usia 7 tahun, dan bila telah berusia 10 tahun pukullah bila ia mengabaikannya .” (HR Abu Dawud, Tirmidzi dan Daruquthni)
Dari perintah membiasakan anak shalat saat usianya belum menginjak baligh, dapat diambil analogi bagi pembiasaan hukum-hukum syara’ yang lain.   Telah masyhur bahwa para shahabat mengajarkan anak-anak mereka berpuasa saat mereka masih kecil, sampai-sampai mereka membuatkan mainan dari wol agar anak-anak bisa bermain sampai tiba waktu berbuka (HR Bukhari –Muslim).
Dari apa yang diperintahkan Rasulullah SAW dan apa yang dilakukan para shahabat, maka pembiasaan bagi anak dalam menjalankan hukum syara’ adalah hal yang harus kita lakukan.  Tanpa adanya pembiasaan di awal, dikhawatirkan anak akan merasa berat menjalankan hukum syara’ saat usia mereka masuk baligh.  Sementara mereka telah dikenai dosa ketika meninggalkan kewajiban-kewajiban syara’.
Pembiasaan
Wajibnya mengenakan jilbab dan kerudung adalah kewajiban yang sama dengan wajibnya shalat atau puasa.  Dengan demikian, melatih anak perempuan mengenakan jilbab dan kerudung juga sama wajibnya dengan melatih anak untuk shalat atau berpuasa.  Pembiasaan semenjak dini akan menjadikan anak merasa lebih nyaman dan tidak canggung lagi saat mengenakan jilbab dan kerudung telah menjadi wajib baginya.
Upaya pembiasaan mengenakan jilbab dan kerudung bagi anak-anak dapat dilakukan secara bertahap.  Pertama, tentu perlu adanya teladan dari orang tuanya.  Anak-anak akan merasa gembira meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya, terutama anak perempuan meniru ibunya.  Untuk kenyamanan anak perlu kita pertimbangkan bahan jilbab dan kerudung yang akan dikenakan, misalnya bahan kaos yang dingin dan menyerap keringat.
Setiap kali membawa anak keluar rumah, orang tua dapat mengajak anak mengenakan kerudungnya.  Bila anak tidak mau orang tua tidak perlu memaksa.  Begitu pula bila di tengah perjalanan anak kegerahan atau tidak nyaman, dapat kita lepaskan dulu kerudungnya.  Inti dari latihan ini adalah membuat anak merasa nyaman, bukan membuatnya merasa bahwa jilbab dan kerudung menyusahkannya.
Pemaksaan orang tua dapat berakibat anak malahan menjadi tidak nyaman dengan jilbab dan kerudungnya sehingga ia cenderung untuk meninggalkannya bila di luar pengawasan orang tua. Bila anak sudah menjelang baligh, kita perlu menyampaikan kepada mereka dalil-dalil wajibnya jilbab dan kerudung sehingga mereka kuat berpegang pada hukum.  Bukan melakukan sesuatu yang sifatnya dogma semata.  Upaya ini senantiasa kita iringi dengan penanaman akidah yang kokoh pada anak, sehingga yang muncul adalah kesadaran dan bukan keterpaksaan.
Kesulitan yang kita alami dalam proses pembiasaan anak mengenakan jilbab, insya Allah kelak akan berbuah manis di hadapan Rabb kita.  Mengajarkan anak mengenakan jilbab, akan menjadi ilmu bermanfaat.  Selama anak kita berjilbab, pahalanya akan terus mengalir, sekalipun kita sudah berselimut tanah di dalam kubur.  Insya Allah. (copaste dari mediaumat.com, 27/2)

Judul aseli:  Membiasakan Anak Berjilbab Sejak Kecil 

Rabu, 19 Desember 2012

(Kepon) Anak (an) ku, Ufi dan Thofa


Namanya Murfidah, dipanggilnya ufi, kadang-kadang suka dipanggil piyu (seperti suara kucing temannya Timi di Timi's Time, film kartun kesukaannya ^^). Cantik kan? dia ini keponakanku paling bungsu, untuk sementara ini, hihi :D..

Waktu siang itu, dia lagi duduk di mobil-mobilan. Digoyang-goyangin ternyata malah ketiduran.. hebat ya, ga pakai jatuh, seimbang lho, selama beberapa menit sebelum aku sadar kalau si ufi ketiduran.. wah wah.. anak kecil yang satu ini benar-benar menggemaskan.. :D :D
Suatu ketika, si thofa abangnya ufi bermain gendang sambil dengarin lagu dari artis favoritnya, Maher Zain lagu yang ada namanya disebut di situ (kalau ga salah ada kata "musthofa" dalam lirik lagunya, itu kata thofa lho yaa). "tak, duk, tak, duk, duk, tak.. " :D


ufi segera ikutan main gendang tanpa banyak ngomong (emang belum bisa ngomong kalee ^^v). kalo diterjemahin mungkin gini bahasanya ufi "aku juga mau, abang main gendang bareng dooong, kan kata ummi harus berbagi.. " ^_^
"tak, duk, tak, tak, duk, duk, duk, tak.." suara gendang bertalu-talu hasil kompilasi ufi dan thofa diiringi backsound Maher Zain yang berjudul Assalamu'alaika ya Rasulallah ^^"


Nah, yang ini kisahnya thofa. ceritanya dia ditinggal sama ummi di rumah, ga dibawa ngaji,soalnya lagi giliran ufi yang ikut ngaji digendong ummi. sebagai hadiah karena udah jadi anak yang baik di rumah adalah jalan-jalan beli es krim.. siap-siap dulu beli es krim ke indoma**t pakai topi dan kaca mata, eng ing eng :D


Oya, kita ga naik motor lho, tapi PP jalan kaki buat beli es krim, pulang ga naik ojeg, bukan karena bibi ga ada kocek, tapi krn ga syar'ie dibonceng bang ojeg. hehe.. jeg, jeg, jeg. Subhanallah.. thofa asyik sekali makannya.. ckckck :-)
 
Yup, dalam sekejap es krim pun ludes, bersih meeenn, ga pakai belepotan or apa itu namanya.. emm, tumpah di baju atau netes di lantai. wah, wah, wah.. sini sini take a pict dulu :D
Satu lagi kisah si Musthofa, thofa berkata sebelum berangkat ke sekolah "ummi, mana kaca matanya thofa? kan naik motor harus pakai kaca mata". "tunggu-tunggu, sini bibi foto dulu biar tambah ganteng.." kata saya ^^". klik! lho, ko' ga ada senyumnya difoto?
I said "Ayo foto sekali lagi, tapi pakai senyum ya.." wah, unyu nyaaaa :)))

Notes.
Ini baru dua orang dari sebelas keponakan ku, insya Allah menyusul kesembilan lainnya.. nantikan kami di episode berikutnya ya, jangan sampai ketinggalan.. Bye bye ^o^

Musthofa, 17 Mei 2009
Murfidah, Desember 2011