Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 September 2014

Liqo Syabab

Subhanallah.. sudah lama saya ga posting tulisan di blog ini, momen Ramadhan dan Idul Fitri 1435 Hijriah terlewat sudah.. >.<. Tapi sebenarnya saya tetap tulis-menulis lho, di grup salah satu sosmed yang selama dua tahun belakangan ini sangat saya gandrungi. Perasaan saya agak gimana gitu ya, kalau tidak repost apa yang sudah saya bagikan di grup WhatsApp bareng teman-teman kampus UI waktu itu, tentu dengan beberapa editan agar lebih enak dibaca. Berikut ini salah satunya, menyusul nanti yang berikutnya ya.. Semoga bisa bermanfaat :-).



*****



Alhamdulillah Liqo Syabab 1435 Hijriah, HTI DPD 1 Jakarta yang berakhir zuhur tadi (24/07/2014) di Bumi Perkemahan Cibubur, sangat berkesan bagi saya.. Liqo Syabab sendiri artinya pertemuan (Liqo) para pemuda (syabab) yang bergabung dalam harokah dakwah Hizbut Tahrir, dilaksanakan di bulan Syawal karena memanfaatkan suasana lebaran atau yang biasa disebut Halal Bihalal :-).

 Mengapa begitu berkesan? Karena saya bisa silaturahmi dengan ibu-ibu syabah Depok, sahabat-sahabat saya sewaktu pertama kali pindah ke kota ini, tepatnya di mahaliyah masyarakat. Tidak terasa, sudah tujuh tahun lamanya tinggal di Depok. Ya, sebelum saya bergabung dengan dakwah ideologis di kampus Universitas Indonesia, saya lebih dahulu bergabung dengan ibu-ibu shalihah ini beserta teman-teman remaja lainnya.

Ketemu juga dengan teman-teman kampus yang lain, subhanallah.. sebagian dari mereka jadi panitia acara Liqo Syabab .. :D. Dan yang tidak bisa dilupakan lainnya adalah ga menyangka bisa ketemu dan ngumpul dengan teman-teman sesama pengemban dakwah Syari'ah-Khilafah dari daerah asal saya, kota Medan. Kebetulan mereka sekarang sudah pada menikah, sebagiannya sudah punya anak, dan sudah pindah ke Depok dan ke Jakarta..

Oke, cukuplah ya rendezvousnya.. :D. Sekarang kita masuk ke materi yang dibahas saat Liqo Syabab di Cibubur. Tausiyah dari Ustadz Tisna DPD Jakarta juga subhanallah makjleb. Kembali beliau mengingatkan kita para syabab untuk istiqomah dan sungguh-sungguh pada thariqoh dakwah yang lurus, tidak tergoda menempuh jalan pragmatis atau jalan lain, yang saat ini banyak digeluti oleh saudara-saudara kita sesama muslim, namun berada dalam harokah yang berbeda.

Semoga dengan keistiqomahan dan kesungguhan kita, target dakwah 2015 bisa tercapai. Salah satunya dengan bertambahnya jumlah syabab menjadi 15,000 orang, khusus di Ashimah/ibu kota saja. Mudah-mudahan dengan ini pertolongan Allah segera turun dan Khilafah yang kita rindukan tegak berdiri. Amin, allahuma amiinn..

Apalagi tausiyah Ustad Hafidz Abdurahman, memaparkan bagaimana mengemban dakwah di zaman yang penuh dengan fitnah seperti saat ini membutuhkan ketaatan setaat-taatnya pada Allah SWT dalam diri tiap syabab. Hal-hal yang buruk dapat menjadi fitnah bagi diri kita, bahkan hal-hal baik pun bisa menjadi fitnah. Seperti contoh di bawah ini..

- Mata kuliah tidak lulus berulang-ulang, kadang menjadi alasan bagi kita jauh dari dakwah, tapi kuliah sudah selesai juga sama, sama-sama dijadikan alasan seperti sebelumnya.
- Yang belum menikah kadang menjadi alasan bagi dirinya untuk tidak optimal dalam dakwah, namun yang telah menikah juga sama, sibuk dengan rumah tangganya.
- Yang istrinya masih satu menjadi fitnah bagi dirinya, tapi yang poligami juga sama, jatuh ke dalam fitnah.
- Yang istrinya tidak cantik menjadi fitnah bagi dirinya untuk melirik wanita lain. Sementara yang istrinya cantik juga sama, sang istri harus berada dirumah, untuk selalu dijaga, tidak boleh kemana-mana, sehingga tidak ikut sibuk dalam aktivitas dakwah.


Masyaallah.. ini jadi self remainder bagi saya sendiri, mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan. Semoga sharing singkat ini dapat berguna bagi saya dan teman-teman yang hadir, maupun yang tadi berhalangan hadir di Liqo Syabab, atau yang kebetulan sedang membaca postingan saya ini, sehingga dapat merasakan aliran energi sebagai penyemangat dakwah..

Ya Allah, rahmatilah para syabab pejuang Syariah dan Khilafah dengan kekuatan iman dan keteguhan jiwa, beri kami kekuatan dalam mengarungi hari demi hari dengan memegang teguh dien Islam, limpahkan kesabaran yang luas di dada kami dalam menjalani setiap ujian dari Mu, bantu kami untuk senantiasa berpikir jernih dan lurus dalam menghadapi cobaan Mu, dan karuniakan kami derajat takwa yang semakin tinggi dan tinggi.. Amin, amin.. allahumma aminn..


*Latepost

Senin, 09 Juni 2014

Me is Karonese Muslim




Postingan kali ini sepertinya agak berbeda dari yang sebelum-sebelumnya. Tiba-tiba aja aku pingin berbagi cerita tentang adat-kebudayaan satu suku dari kampung halamanku, suku karo. Salah satu suku yang berasal dari daerah Sumatera Utara. Tapi.. dengan segala keterbatasan pengetahuan dan pemahaman tentang adat budaya daerahku ini, mohon dimaafkan ya bila tidak kaya referensi :-)

Ada banyak hal yang bisa dilihat dan diceritakan, tapi aku pingin sharing tentang adat-budaya perjodohan dan pernikahan di suku ini. Oya, aku sendiri bermarga Ginting. Di ujung nama orang yang bersuku karo, kami biasa menyematkan marga masing-masing, nama lengkapku sendiri adalah Fatmah Ramadhani Ginting. Marga ini diwariskan seorang ayah kepada seluruh anaknya, baik kepada anak laki-laki maupun anak perempuan yang dimilikinya. Bedanya, anak laki-laki itu akan meneruskan marganya sampai ke generasi berikutnya, tapi tidak dengan anak perempuan. Karena anak perempuan itu akan membawa marga suami untuk anak-anaknya kelak. Tidak heran kalau kedudukan laki-laki sedikit lebih tinggi dibandingkan perempuan, karena mereka adalah penerus marga. Kalau menurut Wikipedia, ini namanya budaya Patrilineal. Patrilineal sendiri adalah suatu adat masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari ayah. (id.m.wikipedia.org/wiki/Patrilineal)

Di keluargaku, almarhum dan almarhumah ortu punya 7 orang anak. Dari tujuh orang tersebut, tiga orangnya adalah laki-laki dan empat sisanya adalah perempuan. Ayah dan Mamak ku itu kepingiiin banget punya menantu (khususnya mantu perempuan) yang berasal dari suku karo. Selalu mereka sampaikan keinginannya itu kepada anak-anaknya, terutama anak laki-laki. Karena harapan setiap orangtua di suku karo yang ingin melestarikan marganya sampai ke anak-cucu adalah agar anak-anaknya saling berjodoh dengan sesama suku karo.

Tapi jalan yang ditentukan Allah ternyata berbeda dengan yang diinginkan manusia. Dari seluruh kakak laki-laki ku, hanya satu orang yang berjodoh dengan perempuan dari suku karo. Dua kakak laki-laki ku yang lain berjodohnya dengan perempuan dari suku berbeda, bukan dari suku karo. Padahal tidak kurang upaya kedua ortu sewaktu masih hidup buat ngejodohin mereka dengan impal-impalnya.

Apa itu impal? Di suku karo, ada jalur pernikahan antar kerabat dekat untuk semakin mempererat hubungan keluarga. Kerabat dekat ini disebut impal. Diantaranya, impal untuk anak laki-laki adalah salah seorang dari anak perempuannya paman (saudara laki-laki ibu). Sementara impal untuk anak perempuan adalah salah satu dari anak laki-lakinya bibi (saudara perempuannya ayah). Sekilas seperti pernikahan silang antara saudara sepupu.

Namanya juga cinta dan kecenderungan hati, gak bisa dipaksain kan? Dikenalin ke banyak impal-impal yang cantik dan baik hati, mulai dari impal terdekat sampai impal yang jauh, tapi kedua kakak laki-laki ku itu melabuhkan pilihannya pada yang lain. Akhirnya ortu mengalah dan mengikuti pilihan mereka. Merestui pernikahan mereka walau bukan dengan menantu dari suku karo. Alhamdulillah, sama-sama langgeng dan bahagianya. Telah lahir cucu-cucu yang ganteng dan cantik, sholih dan sholihah. baik dari yang berjodoh dengan orang karo, maupun yang berjodoh dengan suku lain.

Agak sedikit berbeda ceritanya dengan kami anak-anak perempuannya ayah dan mamak. Sepertinya 'tekanan' untuk mendapatkan jodoh sesama suku karo tidak sekuat seperti pada saudara laki-laki ku. Secara, kami itu impalnya udah pada gedhe-gedhe dan udah pada nikah semua, malah udah pada punya anak :D. Kalaupun ada satu-dua orang sepupu laki-laki dari bibi (saudara perempuannya ayah) yang belum menikah, kayaknya ga dianjurin buat nikah, deh. Soalnya keluarga besar ayahku itu mayoritas non muslim, ayah sendiri dulunya adalah seorang muallaf sewaktu menikah dengan mamak. Jadi, ya sutra lah ya.. tidak akan dipaksain kalau beda keyakinan ^_^"

Dalam pernikahan suku karo, kita dianjurkan untuk mengambil pasangan dengan marga yang berbeda. Bahasa lainnya, pernikahan antar satu marga yang sama adalah dilarang. Oya, waktu dulu aku masih SD dan tinggal bersama keluargaku di Takengon (Aceh Tengah), baru sekali aku ketemu adik kelas yang sama-sama dari suku karo. Mungkin karena sangking sedikitnya populasi suku karo di Takengon, aku agak surprised waktu ngelihat namanya pakai marga. Gak tanggung-tanggung, marga adik kelas ku itu sama dengan margaku. Jadilah aku langsung laporan ke ibuku. Dari ibu aku tahu kalau beliau kenal dengan keluarga adik kelas ku itu, dan ternyata ortunya si adik menikah dengan sesama marga ginting. What?? Oh no.. mungkin karena masalah itu adik kelas ku dan keluarganya memilih pindah dan menetap di Takengon-Aceh. Sebab, pastilah malu kalau menetap di Kota Medan, karena menikah dengan sesama pasangan satu marga.

Kalau dilihat dari kaca mata hukum Islam, tentu itu boleh dan tidak dilarang. Asal mereka yang menikah dengan satu marga yang sama itu tidak ada ikatan darah atau saudara kandung. Kalau menurut pandanganku yang awam ini, dengan sedikit pemahaman Islam yang aku miliki.. adalah tidak menjadi masalah memilih jodoh dari suku yang sama atau berbeda suku. Asalkan saling mencinta? bukan itu yang utama, yang utama adalah memilih yang sama-sama satu Aqidah, Islam. Selain itu, jodoh itu dipilih karena empat hal, sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah saw dalam hadisnya, yaitu:

"Wanita dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan karena agamanya, dan pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung." (HR. Bukhari dari Jabir bin Abdillah)

Hadis ini bisa diterapkan juga bagi seorang wanita sebagai panduan dalam memilih laki-laki yang akan menjadi pasangan hidupnya. Laki-laki itu dipilih karena hartanya, nasabnya, ketampanannya, dan agamanya. Tapi bila ketiga perkara itu tidak ada pada laki-laki tersebut, maka pilihlah ia karena agamanya. Buat ku sih.. bila laki-laki itu berasal dari satu daerah yang sama bahkan satu suku denganku, boleh-boleh aja.. asalkan dia seorang muslim, dan mau belajar menjadi muslim yang baik dengan mengkaji Islam, hingga nanti bisa menjadi bagian dari pejuang Islam. Secara aku tau pasti, populasi muslim di suku ku itu tidak sebanyak yang non muslim. Karena, perkara sesungguhnya dalam memilih pasangan bukanlah sesuku atau berbeda suku.

Dalam Islam, ada satu kaidah syara yang sangat masyhur yang intinya berbunyi "Bila adat istiadat bertentangan dengan hukum syara' (hukum Islam), maka terapkanlah hukum syara' tersebut". Ini berlaku juga sebaliknya, bila adat istiadat tidak bertentangan dengan hukum syara' maka boleh-boleh saja menjalankan adat tersebut. Kalau bicara boleh, berarti boleh dijalankan, boleh juga tidak dijalankan. Iya kan?










Bye bye :-)

Rabu, 26 Juni 2013

Bacaan ku: "Catatan Sultan Abdul Hamid II"

Ga lengkap rasanya kalau baca buku tapi ga baca pengantar dari penulisnya. Dan kurang lengkap juga kalau baca buku tapi ga menuliskan kembali apa saja yang sudah dibaca, yah minimal kesan yang didapat dari buku itu.

Saat ini aku sedang baca buku berjudul "Catatan Sultan Abdul Hamid II", buku yang ditulis oleh ustadz Muhammad Harb ini banyak dijadikan rujukan oleh sekelompok pakar di Turki, mulai dari penulis besar, para pemikir Islam, juga para pakar sejarah non Turki.

Beberapa poin pengantar dari penulis, diantaranya:
~ Buku ini berisi biografi politisi Utsmani di sekitar Sultan, mulai dari orang terdekat Sultan yang mengetahui segala rencana beliau, hingga pesaing atau orang-orang yang sangat menentang Sultan.
~ Buku ini tuh kelihatan banget kesungguhan perbaikan atas kesalahan cetakan-cetakan sebelumnya. Ini bisa kita lihat dari penambahan rujukan dan sumber-sumber peristiwa (yang tidak ada di edisi-edisi sebelumnya), pengurutan halaman Biografi, Judul-judul... sehingga memudahkan kita membacanya.
~ Buku ini juga memuat perbandingan Biografi Sultan dengan para aktivis revolusi Islam dalam berbagai perkara, terutama dalam perkara-perkara yang membingungkan.
~ dst... :-)

eh, mau sharing sedikit nih.. sore tadi aku juga baca buku lagi di gramed. Sampai di satu paragraf yang menuliskan kisah sakitnya Rasulullah saw menjelang ajal, hmm.. entah mengapa aku terharu sekali, sampai mata ku berkaca-kaca, hidung ikutan meler-meler.. padahal aku sudah pernah baca kisah itu. Mungkin akunya aja kali ya yang lagi melow..

aku jadi bingung sendiri, apa akunya yang lg melow, atau penulisnya yang cerdas mengaduk-aduk perasaan orang yang membaca buku itu.. I don't know, and I dont want to know more.. :p


Yup, back to the Sultan... mari kita lanjutkan baca biografi khalifah terakhir umat Islam ini, baybay :D

Jumat, 07 Juni 2013

Catatan Perjalanan Menuju Muktamar Khilafah


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Halo saudara ku dan teman-teman sekalian, kali ini saya ingin berbagi kisah yang sempat diabadikan dalam foto-foto berikut ini. Foto-foto ini menjadi saksi sekaligus bukti persiapan yang kita lakukan dalam perjuangan penegakkan Khilafah, wa bil khusus teman-teman Nisaa dari Kampus UI.. yaitu untuk acara Muktamar Khilafah di Stadion Utama Gelora Bung Karno -> Ahad, 2 Juni 2013. Semoga dicatat oleh para malaikat sebagai  amal shalih.. Insya Allah, Allahu Akbar.. !!

Lihat Benderanya, jangan lihat matanya :D


Mulai.. 

Jum’at, 17 Mei
Saatnya ke Bekasi buat booking bis untuk akomodasi para peserta Muktamar dari Kampus Universitas Indonesia yang terletak di Depok menuju Senayan nanti. Tidak mudah ternyata memesan bis ini, harus tat, tit, tut, dan klak, klik, klak, klik menghubungi Perusahaan Oto Bus. Ternyata banyak bis yang fullbooked untuk pemesanan Ahad, tanggal 2 Juni 2013. Alhamdulillah setelah nyari-nyari kurang lebih 3 hari, akhirnya dapat juga :-).





Bacaannya: Nahnu akadimiyuna wa thulaba jami’atu Indunisiya muwafiquna bi iqomati Khilafah ma’a Hizb ut-Tahrir à Artinya: Kami, Civitas Akademika dari Universitas Indonesia menjawab seruan dari Hizbut Tahrir untuk berjuang bersama menegakkan Khilafah.



 
Ini adalah file hasil kreasi kita sebelum nanti dicetak dalam spanduk. Spanduk dengan contoh foto seperti ini nantinya akan kita bawa dan dibentangkan selama acara Muktamar Khilafah di Gelora Bung Karno. Spanduk dengan dua bahasa, Arab dan Inggris. Kurang lebih arti dan maksudnya sama, menyatakan bahwa kita, Civa Akademika dari Universitas Indonesia menjawab seruan dari Hizbut Tahrir untuk berjuang bersama menegakkan Khilafah. Subhanallah, Allahu Akbar!!
Semoga Brothers dan Sisters dari belahan negeri yang lain bisa menangkap pesan yang kita sampaikan ini, Amiiinnn Allahumma Amiiinn.. :-).




Nah, apa ini? Hehe.. ini adalah plank logo untuk memudahkan kita tetap berada dalam satu barisan di tengah-tengah massa yang nantinya akan tumpah ruah di Stasion GBK. Peserta Muktamar Khilafah (MK) Nisaa/perempuan dari UI terbagi dalam 4 sektor sebenarnya, Platinum, VVIP, VIP, dan Reguler. Tapi kita hanya menyediakan 3 logo saja, karena buat ibu-ibu tokoh dari UI yang berada di sektor Platinum jumlahnya juga hanya beberapa orang, sepertinya kecil kemungkinan juga di sektor Platinum ada penyusupnya, iya kan..? hehe... :D

Oya, selain logo ini, kita juga membuat beberapa tatib (tata tertib) untuk memudahkan saling mengingat, mengenal, dan sama-sama nyaman mengikuti acara. Yaitu, memakai kerudung seragam berwarna putih, agar supaya tidak kegerahan di tribun nanti; juga masing-masing kita mengenakan syal batik cirebon warna mega mendung. Pokoknya unyu-unyu deh.. :D :D

 

 Waktu itu, saat berkunjung ke rumah teman, eh malah dikasi oleh-oleh spanduk ini. Padahal ke rumah beliau awalnya hanya mengantarkan tiket Muktamar. Yaudah deh, langsung aja dipasang di pintu garasi kos-kosan, taraaaa :-).

Kalau ini foto agak berbeda, sebenarnya yg mau difoto itu danau, pohon, atau balairung UI sih? Ga jelas ya? Memang iya.. karena waktu ngambil foto ini tuh lagi broken heart banget :(. Begini ceritanya, saat sedang mengisi halqah bareng ibu-ibu, ga sengaja ada pesan wasap yang masuk. Isinya kabar dari teman yang memohon maaf karena mendadak tidak bisa ikut MK, deadline UAS harus turlap (turun lapangan) hari Ahad pagi tanggal 2 Juni 2013. Heumm.... dalam hati aku berdo’a “Ya muqallib al-qulub, thabbit qalbi ‘ala dinik” yang artinya “Wahai Tuhan Yang Membolak-balikan hati, tetapkan hati ini di atas agama Mu”.



 

Akhirnya, Ahad tanggal 2 Juni 2013 pun tiba. Tepat pukul 03.00 wib, kita mulai berkumpul di Jalan Margonda Raya, Depok; tepatnya di depan TB. Gramedia. Langsung bergerak sigap tempel-menempel di bis, mulai dari beberapa buah spanduk, Liwa-Royah, ga ketinggalan juga famplet logo Nisaa UI di Bis. Mungkin pada banyak yang berpikir, Depok-Senayan kan dekat, ngapa mesti pagi bener berangkatnyah? :-).

Secara pesertanya lebih kurang 100.000, jangan sampai kita telat masuk stadion karena harus ngantri markir Bis. Akhirnya sholat subuh pun dilakukan di tengah perjalanan, di Masjid deket-deket Kalibata Jaksel gitu deh.. :-D



Alhamdulillah, pukul 05.30 wib kita udah nyampe di GBK-Senayan. Senayan udah rame ternyata, tapi masih sangat leluasa tanpa berdesak-desakan. Langsung deh menuju sektor dan pintu masing-masing. Teman-teman Reguler kebagian di pintu 3, VIP di pintu 4, VVIP dan Platinum di pintu 6. Yak, pose dulu di depan pintu untuk diabadikan sambil megang spanduk yang udah kita siapin jauh-jauh hari ^_^. Semuanya semangat walau sudah berlelah-lelah sejak dini hari.. xixixi.

Peserta dari Nisaa UI ini ada yang berasal dari Fakultas Ilmu Budaya, Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Teknik,  Fakultas Hukum, Vokasi UI, dan seterusnya.. Semua bersatu dalam perjuangan, untuk Songsong Perubahan Besar Dunia Menuju Khilafah. Takbiiirr... Allahu Akbar !!




Subhanallah, walau masih amatir dalam jepret-jepret foto dan hanya mengandalkan kamera HP saja, paling tidak kumpulan foto yang kita ambil dari tribun di atas cukuplah untuk menggambarkan semarak dan gegap gempitanya Muktamar Khilafah ini. Pastinya tiap peserta dari masing-masing wilayah sekitar ibu kota Jakarta punya kisah tersendiri dalam mempersiapkan dan mengikuti acara ini, seperti kita juga tentunya.

Enam tahun yang lalu kita berkumpul di sini dalam KKI 2007 (Konferensi Khilafah Internasional), kini kita berkumpul lagi di tempat ini dalam MK 2013 (Muktamar Khilafah). Tentu dengan visi yang lebih besar, opini yang lebih kuat dan matang untuk menyongsong Khilafah, dan jumlah massa yang jauh lebih besar tentunya, karena MK-Jakarta adalah puncak Muktamar di lebih dari 31 Muktamar serupa di seluruh nusantara.

Sebentar, kenapa foto saya tidak seperti teman-teman lain yang berkerudung putih? Hemm.. tentu ada sebabnya, coz memang sengaja tampil dengan warna mencolok supaya mudah dikenali, ga lucu juga kan kalo Amiroh Rombongan yang badannya kecil dan imut menghilang entah kemana ditengah kerumunan karena tidak kelihatan...? :D :P.




Setelah acara Muktamar berakhir, Alhamdulillah pada malamnya saya dapat kesempatan untuk menghadiri Pertemuan pasca MK di Hotel Grand Sahid, Jakarta. Walau lelah, tapi para pembicara pasti jauh lebih lelah dari kelelahan yang saya rasakan. Ada bro Taji Mustafa (UK), Okay Pala (Holland), Abdul Moemin (Yaman), Syaikh Hisyam Albaba (Suriah).. juga ada brothers lainnya dari Pakistan, India, Tunisia, Libanon, Malaysia, dan.. Subhanallah, semoga nanti bisa ketemu mereka lagi di Jannah-Nya, amin, Allahumma Amiiinn..

Oya, terimakasih buat dik Liya, sahabat dan adik tersayang dari CMO (Center Media Office) yang dengan senang hati membagi foto-foto di Hotel Sahid kemarin, nanti ku bagikan script rekaman acaranya ya dek.. Jazakillah khairan katsir :-) :-).


~ Salam ~



Oya, dua foto ini selalu buat aku terharu, bahkan sampai menitikkan air mata, saudaraku.. saksikanlah, kami di sini berjuang untuk membebaskan kalian dari Penguasa Diktator dan sistem Thagut.. Allahu Akbar.



(kiri: “O people of Al-Sham, One Ummah, One Flag, One War”) -> oleh Ustadz Shiddiq Al Jawi

(kanan: “ To the Islamic Brigades: be the supporters of Allah by working to implement his shariah by establishing the Khilafah”) -> oleh syabab Ausyie kayaknya -_-‘

(bawah: "The rest of the world may have forgotten you. But the Ummah is with you, oh Muslims of Burma, and we are working for Khilafah to liberate you!")

Subhanallah... !!

Kamis, 27 Desember 2012

Cerita Panitia dibalik Persiapan Konferensi Perempuan Internasional (KPI) yang diadakan oleh MHTI


Masjid di Hotel Sahid tempat diadakannya acara KPI pada Sabtu 22 Des 2012

Subhanallah, acara Konferensi Perempuan Internasional dari Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia sudah berjalan dengan lancar. Semoga target dan tujuan acara tercapai. Berikut ini sedikit cerita dari ku, sie transportasi KPI. Semoga bisa diambil ibrohnya :-).

H-2 (Kamis, 20 Desember 2012)
Pagi itu seharusnya aku ngajar les Ariq jam 07.00, namun karena agak bimbang juga memikirkan persiapan acara yang tinggal 2 hari sementara aku belum booking bis, belum tau kebutuhan panitia apa-apa saja, bagaimana teknis antar-jemput panitia dan peserta, dan seterusnya.. Bismillah, aku sms bunda Ariq izin tidak ngajar les demi supaya bisa ikut rapat jam 09.00 di bogor.

Subhanallah, rapat yang dipimpin oleh bu rezki berjalan lancar sekali pagi itu, banyak belajar aku pada beliau. Awalnya rapat direncanakan sampai zuhur, namun ada banyak sekali pembahasan, sehingga rapat diperpanjang sampai ashar. Sedikit-banyak mulai tergambar apa-apa saja yang harus aku kerjakan. Begini ceritanya:

Untuk memenuhi kebutuhan transportasi peserta KPI, aku dan tim panitia akomodasi dan penginapan saling berkoordinasi. Pertama yang harus kami lakukan adalah antar-jemput peserta dari luar daerah ke penginapan. Kedua, antar-jemput panitia acara ke penginapan. Alhamdulillah untuk antar-jemput pembicara sudah ditangani oleh ibu-ibu kantor DPP.

Untuk yang pertama, peserta yang konfirmasi waktu kedatangan di Bandara Soekarno-Hatta kami arahkan kedua titik, yaitu Pool Damri Kampung Rambutan dan Pool Damri Gambir. Sebab, ada tiga tempat penginapan yaitu Balai Diklat LAN (Lembaga Administrasi Negara), Hotel Onix, dan Wisma Desa TMII. Dua penginapan yang pertama berlokasi di Jakarta Pusat, lebih dekat ke Pool Damri Gambir dan Hotel Sahid tempat acara KPI diadakan, yaitu daerah sekitar Pejompongan, dekat-dekat Slipi, Benhil (Bendungan Hilir), dan Penjernihan. Sementara lokasi penginapan yang ketiga cenderung lebih jauh, yaitu sekitar Kampung Rambutan, Jakarta Timur. Aku juga baru tau saat rapat bahwa penginapan TMII jadi dibooking untuk memenuhi kebutuhan acara.

Rekan ku di tim penginapan dan akomodasi telah membagi peserta dari daerah mana saja yang nantinya menginap di LAN, Onix, dan TMII. Untuk memenuhi kebutuhan ini, aku dan tim menyediakan satu mobil avanza di Pool Damri Gambir, dan satu mobil innova di Pool Damri Kampung Rambutan. Mobil beroperasi ba’da jum’atan kalo di Gambir, dan sejak jam 11.00 kalo yang di Rambutan, terus bolak-balik dari Pool Damri ke Penginapan hingga malam sampai peserta daerah (Aceh sampai Sulawesi) selesai diangkut.

Untuk yang kedua, ada sekitar 60 orang panitia dari tim acara yang minta diangkut dari bogor ke penginapan LAN. Oya, sebagai informasi, kita booking 3 gedung di penginapan LAN (sekitar 45x3=135 kamar). Sebagian besar panitia ditempatkan disini, hanya sedikit peserta yg menginap di LAN. Tim Acara minta diangkut hari Jum’at pagi jam 07.00 dari terminal Bubulak, Bogor karena jam 09.00 pagi mereka harus latihan di aula LAN Jakarta. Lalu ada panitia Timkam (Tim Keamanan) Bogor yang minta tolong diangkut pada hari-H, sabtu pagi jam 02.30 di suatu daerah bernama Mawar  di Bogor, entahlah, akupun tak tau dimana itu posisinya. Disini ada sekitar 30 orang Timkam Bogor.

Masya Allah.. masih ada lagi Timkam dari kampus UIN dan juga tim sekret dari UNJ yang buat registrasi peserta, aku minta mereka untuk booking bis sendiri dari tempat masing-masing menuju Hotel Sahid.
Untuk 60 orang tim acara yang berangkat jum’at pagi jam 07.00 dari terminal Bubulak, Bogor; alhamdulillah masih bisa booking bis Bintang Tiga Bogor. Itu juga baru booking pada hari kamis jam 15.30 selesai rapat panitia, Masya Allah... kantor Bintang Tiga tutupnya jam 16.00, alhamdulillah transaksi bisa lewat transfer atm. Bis Bintang Tiga ini hanya buat dropping panitia dari bogor ke LAN, setelah selesai, bis Balik lagi ke Bogor. 1,3 juta nih biayanya.. heuheu.. tak apalah.

Lalu bagaimana dengan bis untuk hari H? Tsumma Alhamdulillah ketemu setelah nyari di internet, sebab bis Bintang Tiga sudah fullbooked, kehabisan ceritanya. Trans Mulia nama bis untuk Sabtu hari-H, booking buat seharian dari bogor ke jakarta, mondar-mandir jakarta, dan balik lagi ke bogor. Wew.. ini lebih mahal tentunya, 3,3 juta (T_T).

****

Seharusnya rencanaku adalah, setelah selesai rapat pd hari kamis di Bogor, langsung pulang ke depok untuk persiapan menginap di LAN pada hari jum’at. Namun, karena kesorean ke atm untuk transfer biaya Bis Bintang Tiga, aku terjebak hujan sampai malam, sehingga menginaplah aku di sekret bogor kamis malam itu. Rencanaku, Jum’at pagi sebelum pulang ke depok bisa nelpon ke para ketua rombongan yang sampai di Jakarta pada hari Jum’at untuk memberitahukan mereka harus ke Pool Damri mana, Kampung Rambutankah atau Gambir? Ternyata ini tidak mudah, butuh waktu agak lama juga nelpon sekitar 15 orang ketua rombongan, dari Aceh sampai Sulawesi.

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 07.00, aku masih berkutat dengan HP, catatan, dan nomor telepon. Subhanallah, aku diburu janji berikutnya, 4 orang ponakan menunggu kehadiranku di rumah abang di depok karena umminya harus pergi mengambil dua raport. Tunda dulu mandi pagi dan sarapan, nanti saja di rumah abang. Kupacu motor dari bogor menuju depok, kurang lebih 45 menit, alhamdulillah selamat sampai di rumah, hehe. Di rumah abang, setelah abang dan kakak iparku pergi, kembali aku berkutat dengan HP yang tak henti berdering. Kulanjutkan menghubungi para ketua rombongan daerah, disambi menelepon bis Trans Mulia, dan seterusnya.

Tanpa terasa, hari semakin siang, kakak iparku sudah kembali dari sekolahan, Alhamdulillah nilai raport keponakanku bagus dan baik, ada yg peringkat kedua di kelas, Alhamdulillah. Ku tak bisa berlama-lama lagi, segera aku menuju kosan mengambil perlengkapan seadanya buat nginap di LAN, kemudian ke atm untuk melunasi pembayaran bis Trans Mulia, lalu ke penginapan LAN Pejompongan. Tapi langit mulai menampakkan awan hitam, pelan namun pasti titik hujan mulai turun dari langit. Bismillah, pelan kukendarai motor menuju Jakarta. Macet, parah. Berulang kali aku menepi untuk mengangkat telpon dan membalas sms. Baru pertama kali itu aku pakai headset di HP hanya untuk mendengar ada sms masuk atau tidak.

Parahnya kemacetan dari Depok ke Pasar Minggu, ternyata tak separah kemacetan dari Pancoran ke Slipi, banjiiirr.. Masya Allah, pantesan sepupu ku ga betah tinggal di Jakarta sehingga pindah ke Medan, kemacetan yang seakan tak ada solusi inilah penyebabnya. Astaghfirullah.. Tiga jam, selama itu waktu yang kutempuh dengan motor dari Depok ke Pejompongan. Waw.. rekor nih.. :-(

Sesampainya aku di Penginapan LAN, ku cek kembali sudah bagaimana perjalanan penjemputan peserta KPI dari Pool Damri ke penginapan. Alhamdulillah cukup lancar penjemputan peserta di Pool Kampung Rambutan, namun tidak begitu keadaannya di Pool Gambir. Harapan bisa cukup sering mondar-mandir, ternyata karena hujan dan macet parah, mobil penjemputan hanya bisa mondar-mandir kurang lebih 4 kali saja. Aku dan tim menyarankan ketua rombongan daerah untuk naik taksi, sebab bila menunggu mobil penjemput akan memakan waktu sangat lama.

Oh iya, ada satu masalah lagi.. ternyata penginapan LAN itu saat hujan juga kerendam banjir, innalillahi wa innailaihi rojiun.. aku baru ngeh mengapa ada perahu karet di dekat kantor LAN, rupanya sebagai persiapan menghadapi banjir yang tiba-tiba datang, kirain hanya persiapan sebagai bentuk kesiagaan dari pihak LAN, ternyata aku terlalu polos ya, masya Allah... -_-“.

Kemudian, beranjak pukul 21.00 masih hari Jum’at di penginapan LAN, aku mendapat sms dari dua ibu panitia konsumsi yang minta diantarin ke angkot terdekat dengan LAN, baliau harus segera pulang ke rumahnya supaya pagi hari bisa ke hotel Sahid, dan satunya itu lho..sudah agak sepuh juga kelihatannya, Subhanallah.. Bismillah, tarik tiga, aku coba bonceng dua ibu itu dengan motor, waw.. Allahu Akbar :-). Salah satu ibunya bertanya, “Fatma, kamu itu kecil-kecil kuat juga ya? Kamu asalnya dari daerah mana sih? Padang, Palembang, atau mana nih?”, aku jawab aja sambil senyum-senyum “saya orang batak bu”. Wew.. si ibu yang satunya spontan bilang “Horas bah, habis beras makan gabah, hahahaha..”. kita lucu-lucuan di tengah malam yang dingin dan gelap.

Ku minta izin mewakili 2 orang ibu dari panitia konsumsi itu untuk ambil alih tugas mereka memesankan pizza di PHD buat sister-sister Pembicara KPI yang lagi ngumpul buat final checking di Hotel Sahid, kabarnya mereka udah malam gini belum makan. Kasian juga kalo si ibu konsumsi nanti pulangnya semakin larut bila harus ikut nyinggah di PHD, mereka ga ikut nginap di LAN soalnya.

Beres mesan pizza, pulsa ku habis. Singgah lah aku ke Alfamidi buat beli pulsa. Eh di sini ada kejadian yang merusak pemandangan kuh.. ada seorang perempuan dewasa tengah malam belanja di Alfamidi tapi pakai baju kekecilan, astaghfirullahal’adzim.. kuat-kuat aku ghodul bashor, aku malu ngelihat dia. Itu gimana ya si abang-abang kasir Alfamidi menghadapi pembeli kayak gitu..? Masya Allah.. jauhkan kami dari perilaku seperti itu ya Allah.

Aku masih harus lanjut ke penjemputan berikutnya, dua orang temanku dari sie acara dan sie media publikasi minta dijemput di jalan Sudirman untuk menginap di LAN. Si uni meneleponku “fatma, afwan.. uni udah sampai di Landmark, ini teh selanjutnya kemana?” terdengar suaranya uni yang asli padang dengan logat sunda bogor. Wah, aku juga ga tau itu letaknya dimana, posisiku sendiri berdekatan dengan abang-abang ojeg Benhil. Bertanyalah aku dengan sopan pada mereka, “Maaf pak, mau tanya, teman saya ada di Landmark, sementara saya harus menjemput mereka di jalan Sudirman ini untuk ke daerah Pejompongan, kira-kira saya ke arah mana ya?”

Si bapak ojeg ngasi tau kalo posisi si uni ada di ujung jalan Sudirman di dekat jalan Thamrin, bundaran HI dong itu.. jauhnya.. (T_T). Aku minta saran ke beliau kira-kira bagaimana solusinya, Alhamdulillah cuma diminta naik Kopaja atau Metro Mini arah Semanggi lalu turun di Halte Atmajaya sebelum Balai Sarbini. “Baik fatma, uni cari angkutannya, do’akan ya..” jawab uni setelah kusampaikan saran dari bapak ojeg. Hmm.. masalah belum selesai ternyata, uni kelewatan, bis melaju dengan kencang dan penumpangnya kepadatan, jadilah uni diturunin sama kondektur bis di Semanggi seberangnya DPR-MPR RI. “Un, jalan mundur ya sampai kampus Atmajaya, lalu nyeberang jembatan ke jalan Sudirman sebelah kanan, nanti ketemu aku di situ” pinta ku di telepon. Dengan mengerahkan segala keikhlasan di hati, uni dan temannya berjalan mundur kurang lebih 1,5 km, ditengah malam dingin. Alhamdulillah sampai juga. Setelah bertemu di Halte Bendungan Hilir, kami pun berangkat menuju penginapan panitia di LAN. Bismillah, aku bonceng mereka berdua naik motor. Bapak-bapak ojeg nawarin jasa bantuin ngantar, lalu aku bilang ke mereka.. “Maaf pak, bukan mahrom, jadi ga boleh dibonceng, terima kasih banyak atas bantunanya”. Lalu kita pergi meninggalkan bapak-bapak ojek Benhil yang penuh tanda tanya.

Di penginapan, tepar aku sebentar, sambil mengingat-ingat.. aku sudah sholat isya belum ya? Jam di HP menunjukkan hari Sabtu, tanggal 22 Desember skitar pukul 00.30. Baju dan kaos kaki yang basah selama naik motor  membuat ku meriang, ku tanya ke rekan sie penginapan, “afwan, ada panitia medis kan ya? Aku sedikit limbung nih.. gmn ya?”, dia jawab “wah mba, tim medis ga ikut nginap di LAN.. bagaimana ini?”,“oh begitu, ya tak apa-apa, aku coba minum habatusaudah dulu, mudah-mudahan bisa mendingan” jawabku. Subhanallah, Allah sesuai prasangkaan hambanya, seusai minum habbat, sholat isya, dan mengganti pakaian, tenagaku pulih kembali. Cukup untuk hari ini, Bismillah.., aku pejamkan mata tidur beberapa jam untuk kembali bertugas pukul 03.00.

(bersambung)

Selasa, 15 Mei 2012

JALAN BARU INTELEKTUAL MUSLIMAH [VISI PEMBEBAS GENERASI]

SINOPSIS BUKU



Semua bangsa tentu mendambakan lahirnya generasi berkualitas demi kejayaan peradaban mereka. Mereka tentu mengupayakan lahirnya generasi berkualitas, generasi  yang tidak hanya memiliki keahlian, melainkan juga memiliki kepribadian istimewa yang ditunjukkan oleh integritas pada nilai-nilai kebenaran. Kepribadian yang merupakan perwujudan pola pikir dan pola sikap yang benar dan luhur. Generasi berkualitas  akan membawa negaranya menjadi negara besar, kuat, dan terdepan. Generasi yang tidak akan menggadaikan negerinya diperas dan dijajah oleh penjajah asing demi untuk memperkaya diri, keluarga, atau kelompoknya. Sebaliknya, akan berani dan rela berkorban untuk melindungi negerinya dari cengkraman penjajahan dalam bentuk apapun.  

Buku yang ada di tangan pembaca saat ini ditulis di tengah keprihatinan terhadap kondisi generasi muda di Indonesia, negeri dengan penduduk mayoritas muslim. Namun ajaran Islam yang luhur tidak terlihat membentuk peradaban  bangsa ini. Yang lebih memprihatinkan, generasi mudanya pun ternyata mempertahankan budaya yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur ajaran Islam. 

Lihatlah fakta lahirnya generasi koruptor baru dari kalangan muda di tengah mengguritanya kekuatan koruptor di semua sendi kehidupan di Indonesia.  Lihat juga fakta maraknya tawuran pelajar dan demonstrasi mahasiswa yang didominasi oleh tindak kekerasan, yang sejalan dengan fakta resahnya masyarakat akan semakin kuatnya jaringan preman dan kejahatan bersenjata.  Belum lagi fakta lain yang menunjukkan rendahnya ahlak generasi sepertihubungan seksluar nikah, aborsi, pembunuhan karena hal sepele, dan masih banyak fakta lain yang bisa disebut di sini. Lalu bagaimana langkah yang harus dijalani untuk membebaskan generasi dari belenggu peradaban rendah saat ini?

Banyak pihak mengandalkan sektor pendidikan untuk menyelesaikan masalah generasi ini dengan alasan pendidikanlah yang mampu melahirkan generasi yang lebih baik, atau karena pendidikan adalah pilar peradaban.  Pendapat seperti ini  tidak sepenuhnya keliru, namun memiliki beberapa kelemahan  seperti uraian di bawah ini:
  1. Kehidupan bermasyarakat dan bernegara adalah sekolah besar bagi generasi
Pendidikan akan membangun dasar kepribadian dan mengkristalkan nilai-nilai luhur peradaban dalam kepribadian generasi.  Proses pendidikan tersebut tidak hanya terjadi di dalam keluarga dan sekolah, tetapi juga terjadi ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Nilai-nilai yang  disampaikan kepada generasi melalui keluarga dan masyarakat seharusnya disampaikan juga dan dikristalkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Bukan malah sebaliknya, dihancurkan ketika generasi mulai masuk dalam partai politik, pemerintahan, lembaga-lembaga perekonomian, atau berbagai sektor lain, karena ternyata nilai atau pemikiran mendasar yang membangun sektor-sektor kehidupan itu ternyata berasal dari peradaban yang rendah.

Pembebasan generasi dari belenggu peradaban yang rendah seharusnya tidak hanya dilakukan melalui lembaga-lembaga pendidikan formal, informal, maupun non formal saja.  Tapi pada saat yang sama seharusnya juga dilakukan melalui perbaikan nilai-nilai/pemikiran mendasar yang membangun kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Karena itu, pada BAB PENDAHULUAN buku ini dipaparkan bagaimana mewujudkan KEBANGKITAN GENERASI, yakni MENTRANSFORMASI GENERASI TERPURUK MENUJU GENERASI CEMERLANG. Kemudian dilanjutkan pada BAB I yang memaparkan bagaimana BANGUNAN DASAR PEMIKIRAN GENERASI DALAM SISTEM ISLAM akan dibentuk. Sebuah rambu-rambu berpikir dalam ajaran Islam, yang melahirkan cara berpikir yang melahirkan peradaban Islam. Berikutnya pada BAB II lebih detil dijelaskan gambaran KESELARASAN DAN KEUNGGULAN PILAR SISTEM POLITIK DAN EKONOMI ISLAM DALAM MEWUJUDKAN KEMANDIRIAN BANGSA yang sangat dibutuhkan DALAM MELAHIRKAN GENERASI CEMERLANG. Kemudian dilakukan komparasi antara konsep sistem Islam dengan sistem Sekuler-Kapitalisme yang tegak hari ini, dalam dua pilar utama sistemnya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, yaitu KOMPARASI ANTARA SISTEM POLITIK ISLAM DENGAN SISTEM POLITIK DEMOKRASI pada BAB III, dan KOMPARASI ANTARA SISTEM EKONOMI ISLAM DENGAN SISTEM EKONOMI KAPITALISME pada BAB IV.  Diharapkan para pembaca, dengan melakukan komparasi tersebut, bisa dengan lebih mudah memahami keunggulan pemikiran dan konsep pembangun peradaban Islam dibandingkan konsep sekuler-kapitalisme yang tegak hari ini, dengan lebih obyektif karena merunutnya sejak dalam tataran konsep. Dan semoga bisa menjadi inspirasi bagi semua pembaca  untuk melahirkan langkah perbaikan. 
  1. Pendidikan tidak akan terlepas dari aturan perundang-undangan yang lahir dari sistem politik dan kualitasnya  tidak akan pernah terlepas dari kemampuan pembiayaan pendidikan yang ditentukan oleh pengelolaan sistem ekonomi.
Konsep pendidikan yang sebaik apa pun tidak akan pernah bisa direalisasikan apabila perundang-undangan yang ada tidak sejalan dengan konsep pendidikan yang baik tersebut.  Misalnya apabila perundang-undangan tentang guru, kurikulum, sarana dan prasarana tidak sejalan dengan konsep pendidikan terbaik, tentu saja pendidikan terbaik tidak akan teralisasi. Karenanya pendidikan sangat membutuhkan dukungan sistem politik yang baik. Demikian pula realisasi pendidikan berkualitas mutlak membutuhkan biaya. Karenanya dibutuhkan pengelolaan ekonomi yang baik agar negara bisa membiayai pendidikan yang berkualitas.   

Melalui buku ini, setelah membaca BAB II, III dan IV, diharapkan pembaca juga bisa mendapatkan gambaran kekuatan sistem politik dan ekonomi Islam, dan keselarasan diantara dua pilar sistem tersebut dalam menopang dunia pendidikan. Untuk memperjelas gambaran bagaimana interaksi antara sistem pendidikan sebagai salah satu sub sistem yang dilahirkan dengan sub sistem lainnya dalam melahirkan generasi cemerlang, maka pada BAB V, VI, dan VII digambarkan secara ringkas SISTEM PENDIDIKAN ISLAM, SISTEM PERADILAN ISLAM, SISTEM PERGAULAN ISLAM, DAN PENGATURAN MEDIA MASSA DALAM ISLAM; semua sektor yang memiliki kontribusi penting dalam proses pendidikan dan lahirnya generasi cemerlang. Pemaparan yang dilakukan tidak dalam tataran detil hingga teknis aplikatifnya, namun hanya gambaran global untuk memberikan inspirasi sekaligus menjadi tantangan bagi para intelektual muslim negeri ini untuk menerjemahkannya dalam sebuah konsep kebijakan sub sistem yang siap diaplikasikan ketika  perangkat supra sistemnya (sistem khilafah) tegak.

Selanjutnya, karena buku ini ditujukan khususnya bagi para intelektual muslimah, sebagai sebuah penawaran jalan baru bagi mereka untuk berkarya dan melahirkan generasi cemerlang maka pada BAB IX dibahas BAGAIMANA PERAN INTELEKTUAL MUSLIMAH DALAM UPAYA MEMBEBASKAN GENERASI dari belenggu keterpurukan yang sedang melanda generasi muda muslim di seluruh dunia. Di akhir buku ini, sedikit diperkenalkan PROFIL MUSLIMAH HIZBUT TAHRIR INDONESIA sebagai kelompok yang menyerukan jalan baru ini kepada seluruh masyarakat, utamanya kaum muslimah dan para intelektual.

Sebagai sebuah buku yang lahir dari keprihatinan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia terhadap kondisi generasi penerus, melalui buku ini Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia berharap bisa memberikan sumbangsih bagi perbaikan generasi muda muslim tidak hanya di Indonesia, namun juga dalam tataran global dunia yang juga menghadapi problem generasi yang tidak jauh berbeda.

Karena Muslimah HTI melihat bahwa upaya perbaikan tersebut bukanlah hal yang berkaitan dengan urusan teknis semata, namun bermula dari perbaikan skala filosofis konseptual yang menyelesaikan akar masalah yaitu permasalahan yang muncul hari ini dimulai dari kesalahan menempatkan siapa pihak yang memiliki otoritas untuk membuat peraturan hingga menyebabkan terjadinya kerusakan generasi yang sistemik, maka buku ini memang lebih banyak berisi hal-hal yang sifatnya filosofis konseptual. Jika diperlukan hal-hal lain yang sifatnya lebih teknis dan aplikasi, maka mudah-mudahan buku ini dapat menginspirasi intelektual muslimah lain untuk memberikan karya terbaiknya bagi pembebasan generasi menuju peradaban yang mulia. 

Demikianlah, buku ini berupaya menggambarkan bahwa membangun peradaban yang tinggi dan luhur, membutuhkan visi yang komprehensif, visi yang ideologis. Visi yang kemudian harus mewarnai semua sektor kehidupan bermasyarakat dan bernegara, agar terwujud lingkungan kondusif bagi lahirnya generasi berkualitas.  Membangun peradaban yang tinggi dan luhur tidak bisa sekedar mengadopsi ilmu pengetahuan dan teknologi terbaik disertai pendidikan moral atau iman takwa yang parsial kepada generasi di keluarga dan di sekolah. Mudah-mudahan buku ini bisa memberi inspirasi bagi para intelektual di semua bidang untuk berjuang bersama, bahu-membahu  melahirkan generasi cemerlang yang akan mewujudkan negara yang besar, mandiri, kuat dan terdepan.

Mei 2012
Tim Intelektual Muslimah HTI