Rabu, 08 Mei 2013

Sillah Ukhuwah

Kurang lebih 2,5 tahun sudah lamanya aku belum ke Medan lagi, alhamdulillah kemarin ada hajatan pernikahan abang, jadinya aku bisa mudik ke Medan. Ayo kita lihat dokumentasinya selama perjalanan :-)






Tiga foto di atas diambil sewaktu memasuki bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng-Jakarta. Jum'at pagi tanggal 26 April 2013, sesaat sebelum menaiki pesawat menuju Medan :-)



Setibanya di Medan, seusai bang Rahmad jum'atan, kita berdua ziarah ke makam mamak dan ayah, foto yang di atas makamnya mamak, yang di bawah itu makamnya ayah. Subhanallah.. sejak mamak meninggal jum'at pagi di akhir Desember 2010, ini adalah ziarah ku yang pertama kali ke makam beliau, sementara ayah sudah lebih dulu mendahului di september 2006 yang lalu.. heuheu.. semua kita akan menyusul, hanya siapa duluan dan siapa belakangan :')



lagi-lagi foto saya lagi, hehe :D. Foto ini kenang-kenangan terakhir sebelum kita anak-anak perempuan almarhumah mamak ngebagi warisan kalung dan gelang milik beliau.. heu.. sedih T_T





Nah, foto-foto yang ini pastinya bukan di Medan, ini waktu aku berkunjung ke Tiga Binanga, Tanah Karo ke rumah kak Hadjrah, kakak perempuan ku yang paling tua. Apalagi kalau bukan silaturahmi dan ngunjungin dua orang keponakan yang lucu-lucu dan ngangenin.. ternyata mereka lebih kangen dari aku, nungguin aku dari pagi sampai bosan ternyata akunya datang menjelang maghrib... maafkan bi uda ya sayang. Yang perempuan itu namanya Nazwa, kalau yang laki-laki itu adiknya, Fikri :-). Oya, Tiga Binanga ini adalah kampung kelahiran almarhumah mamak ku, bagus ya foto pemandangannya.



Xixixi.. ini nih ikon kampung Tiga Binanga, desa kecil penghasil jagung dari Tanah Karo Simalem :D





 Di Tiga Binanganya cuma semalam, besoknya langsung balik ke Medan bareng kakak dan abang iparku, ibu dan ayahnya Nazwa. Soalnya sudah H-2 acara pernikahannya bang Rahmad. Di jalan menuju Medan kita melewati Kaban Jahe dan Brastagi, singgah sebentar di Pasar Tradisional Kaban Jahe. Oya, kalo di Medan ini, pasar disebut "Pajak" oleh masyarakat sekitar, ga ada kaitan sama sekali sama kantor perpajakan lho ya.. hehe :D. Subhanallah.. pasar tradisionalnya nyejukin banget... beragam sayur mayur, ikan, buah, bunga, semua ada.. ckckckck.. Subhanallah, subhanallah... :D :D


xixixi.. di Brastagi, singgah sebentar di Penatapan. Sesuai nama tempatnya, di sini kita bisa melihat kota Medan dari puncak gunung. Sayang nyampenya udah kesorean, pemandangannya malah udah ketutup kabut awan.. yah, ga rejeki  ^^"



 Nah, ini di USU (Universitas Sumatera Utara) Medan. H-1, aku naik motor bareng Nazwa dan Fikri ngambil foto akad nikahnya bang Rahmad. Berhubung tokonya belum buka, jadinya kita jalan-jalan ke USU lihat small zoo, tuh lihat deh mereka, kayak ga pernah lihat bebek dan ayam aja.. serius banget sampai susah diajakin balik -_-"


Yaudah deh, kita langsung aja ke foto-foto acara nikahannya bang Rahmad ya, Kamis 2 Mei 2013. Ini dia...

Empat orang akhwat adik-kakak mengapit yang punya hajatan >> Bang Rahmad, sang pengantin pria :-)

Subhanallah, setahun sekali juga jarang ngumpul bertujuh abang-kakak-adik kaya gini... Momen Langka :D, Alhamdulillah...

Sama Eda Ifah, sang pengantin wanita. Semoga jadi istri yang shalihah ya kak.. ^^b

Ini dia, berempat :D


Alhamdulillah, acara resepsi pernikahannya berjalan lancar. Seusai resepsi, tepatnya Jum'at, 3 Mei 2013 aku berangkat ke Takengon-Aceh Tengah, berkunjung ke rumah kak Ayu di Bener Meriah. Kangen sama Reza keponakanku, beliaunya ga bisa ikut ke Medan karena harus persiapan UN kelas 6 SD di hari senin tanggal 6 Mei. Eh malah waktu akunya ke Takengon, si Reza minta ikut jalan-jalan.. ckckck, yasudahlah biar dia rileks sedikit menghadapi UN. Yuk kita lihat hasil jepret-jepretnya :-)


Ini Reza, my oldest nephew dan adiknya Abdillah. Hebat banget dia, bisa naik motor cross kaya gitu, soalnya medan tempuh dari rumah ke sekolahan di Bukit Menderek, Bener Meriah memang terjal.. Subhanallah.
Tuh, saking sulitnya buat nyari bensin, jadinya sedot bensin dari motor yang lain deh.. Masya Allah ponakan ku, tangguh sekali hidup di kota kecil nan terpencil di balik gunung Aceh sana.. :'-)

 Dia memang hebat, salut sekali.. selesai mengisi bensin, kita motoran bareng-bareng dari Simpang Lancang Bener Meriah menuju kota Takengon, kurang lebih sejauh 40km, fiuh... pegeelllll. Tapi apa yang didapat sebanding tentunya :-). Yuk, mari...

Masjid Raya Ruhama, Takengon-Aceh Tengah


Dulu waktu masih SD, aku TPA-nya di Masjid ini nih... Subhanallah, sudah banyak berubah.


 

its me :D
Pasar tradisional di mana-mana hampir sama ya, di Kaban Jahe, Medan, dan Takengon, semua menjual buah dan sayur produk lokal. Kalau foto yang ini di Pasar Inpres Takengon.



Kurang lebih seperti ini pemandangan gunung di Takengon-Aceh Tengah. Hmm.. semoga bisa capture lebih baik lagi, dengan kamera yang lebih bagus tentunya.. :-)

Nah, ini ngambil foto di Singgah Mata-Takengon, kelihatan sedikit Danau Laut Tawar dari sini, ikonnya Takengon :D


Kurang lebih perjalanan dari Medan ke Takengon  menghabiskan waktu 10 hingga 12 jam, kalau ke Simpang Lancang-Bener Meriah lebih singkat 2 jam dari jarak Medan-Takengon. Jarak Simpang Lancang ke Bukit Menderek juga dekat, mungkin sekitar 3-4 km saja, tapi tunggu dulu.. jalan yg beraspal hanya setengahnya, walhasil kalau naik motor harus ekstra hati-hati. Apalagi di pagi hari saat rerumputan masih ditutupi embun, licin.

Aku yang belum banyak pengalaman naik motor di medan seperti ini berulang kali jatuh hingga memar-memar. Ya Allah, aku yang masih shock karena jatuh malah keheranan melihat kedua keponakanku yang santai seperti tidak terjadi apa-apa. Tertegun aku mendengar dan mengambil kesimpulan kalau mereka memang tangguh, apa katanya? "Kami udah biasa bik wen tiap hari pun jatuh naik kereta (motor), ga ada takut lagi" ucap si kecil Abdillah dengan logat bahasa gayo. Eeuu... o_o


Akhirnya, sewaktu pulang ke Medan, aku minta diantar sama Reza dengan jalan kaki saja. Hup hup... semangat hiking mendaki bukit Menderek sejauh 4 km menuju Simpang Lancang.

Nah, ini dia sudah hampir sampai di Simpang Lancang bertepatan dengan Azan Maghrib. Foto dulu sebagai kenang-kenangan. Seusai sholat Maghrib dan makan malam, aku berangkat naik bis kembali ke Medan, lebih senang perjalanan malam biar nyampe di Medannya hari sudah terang. Walau ada sedikit longsor, Alhamdulillah bisa sampai di Medan dengan selamat. Next destination, Jakarta.


Sudah cukup jalan-jalannya, semoga postingan berikutnya bisa lebih bermakna lagi, reportase kesibukan persiapan Muktamar Khilafah, 2 Juni 2013. Insya Allah, mudahkan dan ridhoilah ya Allah, amin...

Sampai Jumpa.. :-)

Minggu, 28 April 2013

...

Hari ketiga di Medan, di rumah sendirian dari pagi sampai malam.. ko' rumahnya jadi berasa gini ya? kegedhean, sepi, sunyi, dan sedih.. ditambah tadi hujan turun lebat disertai angin dan petir, khawatir sekali, dan listriknya sempat mati sebentar.. walo hari masih siang, tapi.. :'(

mamak, ayah.. ima takut T_T

Kamis, 18 April 2013

Know Khilafah


Emot penasaran ^^". Sumber http://tutyonstar.blogdetik.com/files/2011/09/smile-question1.jpg 


Hai.. salam ukhuwah, kali ini bertemu dengan saya ukhti sholihah dalam rubrik Know Khilafah. Rubrik ini memberi ruang buat kamu-kamu untuk mengenal Khilafah lebih dekat, kira-kira sudah pada tau ga ya apa itu Khilafah? Kenapa sih harus dibahas? Yoyoyo.. pastinya kita pingin kenalin apa itu khilafah biar kamu-kamu ga pada awam dengan kata yang satu ini, tentunya dengan bahasan yang menarik coz hari gini ga tau Khilafah..? oh no.

Wel.. wajar juga sih kalau banyak dari kita yang ga kenal dengan Khilafah ini, bukan cuma kaum muda, para tetua juga ada lho yang ga tau. Ko’ bisa sih? Iya bisa, bisa karena banyak hal, bisa karena ga pernah menyaksikan khilafah itu diterapkan, bisa juga karena ga pernah dengar khilafah, atau ga tau sejarah tentang khilafah, dan ada juga lho karena ga mau tau.. ups. Hehe, moga-moga aja kita bukan yang terakhir ya kawan.

Ga tau khilafah karena ga pernah menyaksikan khilafah itu diterapkan? Please deh, emangnya khilafah itu apaan sih pake diterap-terapin segala? Emangnya khilafah itu ‘peraturan’ yang perlu diterapkan? Hmm.. lebih tepatnya adalah sistem aturan, yup, khilafah itu adalah suatu sistem yang menerapkan seperangkat aturan yang lengkap, aturan apa tuch? Aturan dari Ideologi Islam. Hoooh.. berat nih bahasannya... -_-“. Tenang kawan, jangan alergi dulu, keep on reading okey? 

So, kalau selama ini diantara sistem pemerintahan yang kita kenal ga jauh-jauh dari demokrasi, republik, monarki, atau parlementer, ternyata khilafah itu merupakan sistem pemerintahan juga lho. Buktinya, kalau sistem lain punya kepala negara atawa pemerintahan dengan sebutan presiden, perdana menteri, kaisar/raja, maka khilafah juga punya sebutan khusus untuk kepala negaranya yaitu khalifah. Oya, sebelum dilanjutin mbacanya, kamu-kamu harus kasi ruang dulu ya untuk ngisi memory mu tentang pembahasan khilafah ini, yang biasanya hanya keisi pembahasan tentang republik, parlementer, demokrasi, dll, come on guys.. you’ve got to give space to know about khilafah.

Khilafah itu adalah suatu sistem yang menerapkan seperangkat alat sholat aturan yang lengkap. *Maaf, typo*. Betul, seperangkat aturan lengkap yang diterapkan oleh khilafah itu tujuannya untuk mengatur negara. Jadi sebagai suatu sistem kenegaraan, pastinya ada banyak pilar (subsistem) yang menyangga khilafah tegak berdiri. Diantaranya sistem pemerintahan, politik, hukum, militer, sosial, ekonomi, juga kesehatan. Nah, kesemua pilar penyangga ini berasal dari sumber yang satu, yaitu akidah Islam. Makanya wajar kalau menyebut khilafah akan disandingkan dengan kata Islam, jadilah sistem ini kenal dengan sebutan Khilafah Islamiyah.

Secara politik, kekuasaan khilafah Islamiyah pernah membentang dari jazirah arab sampai afrika, asia hingga eropa selama lebih dari 1000 tahun lamanya. Waw, keren. Benar, sejak Rasulullah saw. pertama kali hijrah ke Madinah sampai kemarin tahun 1924, khilafah terus berdiri memimpin dunia dengan menerapkan Islam. Coba kita bayangin, kira-kira apa jadinya kita sekarang ya bila dulu tidak ada khilafah yang menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia? Bisa-bisa kita ngikut agama nenek moyang yang animisme bin dinamisme. Hiiiiii takuuuut...

Nah secara politik pemerintahan lagi, sejarah mencatat banyak kisah-kisah inspiratif dari para pemimpin kaum muslimin. Oke, berhubung bulan ini orang-orang pada rame bahas tentang perempuan, saya jadi tertarik ngejelasin kayak apa sih kontribusi politik perempuan di masa khilafah? Ada kisah menarik nih sob dari seorang perempuan dimasa pemerintahan khalifah Umar bin khathab. 

Kala itu khalifah Umar melihat banyak lelaki yang membujang, selidik punya selidik ternyata para lelaki banyak yang membujang karena tidak mampu melamar akibat perempuan-perempuannya netapin mahar yang guedhe alias tinggi or minta maharnya mahal-mahal cuy. Jadilah para lelaki itu ngebujang dulu. Khalifah Umar merasa harus memberi solusi supaya para jomlowan bisa menikah. Solusinya dengan jalan mengeluarkan kebijakan kepada para perempuan supaya membatasi jumlah mahar mereka biar ga kemahalan. Sontak ada seorang perempuan yang protes karena ga terima dengan kebijakan khalifah, gimana bentuk protesnya? Doski ngomong langsung sob ke khalifah Umar. Apa? Ngomong langsung? Pegimana ceritanye? Umar pan kepala negare, nah die cuma perempuan biasa? Kagak pake ngumpulin perempuan rame-rame tapi langsung protes sendirian? Ape die kagak takut kalo protes bakal dipenjarain sama Umar? Hadoh.. cari perkara nih cewe.
Sabar sob, khilafah Islam ga separah itu. Saat doski mempertanyakan kebijakan Umar yang membatasi jumlah mahar sementara Allah telah membebaskan kaum perempuan untuk menetapkan berapapun mahar yang dia inginkan, jleb.. khalifah Umar langsung terdiam dan menyesali diri. Umar menyadari kealpaannya dan membenarkan apa yang disampaikan perempuan ini. Akhirnya khalifah mengambil solusi dengan meluaskan lapangan pekerjaan supaya para jomlowan ga kekurangan harta lagi.

Dari kisah ini kita jadi kegambar jelas kayak gimana kontribusi politik perempuan untuk controlling kekuasaan pejabat tinggi negara supaya berjalan sesuai aturan Allah, aturan Islam. Kehormatannya sebagai perempuan tetap terjaga sob, walaupun kritik ditujukan pada orang nomor satu saat itu, doski ga khawatir untuk menyampaikan dan dia tetap dilindungi. Kerennya lagi, Umar meminta seluruh rakyatnya untuk mencontoh apa yang doski lakukan. Subhanallah..subhanallah.

Sebenarnya masih banyak yang mau diceritain, apa daya kita dibatasi oleh lembar-lembar halaman. Ada segudang lebih pembahasan untuk kenal khilafah lebih dekat. So, segera buka lembaran berikutnya untuk meluaskan fikirmu tentang Islam. Sampai ketemu di edisi berikutnya, bye-bye. ^.^v


PS:
Tulisan pertamaku untuk salah satu rubrik minimagz yang insya Allah akan diluncurin april tahun ini (2013). Semoga lulus meja editor.. ganbate (^,^)9

Selasa, 02 April 2013

Kilas Singkat Dakwah Rasul

Kemarin itu hari ahad pagi di kosan, seorang teman minta bantuan saya untuk menjelaskan buku MPK Agama yang dibacanya buat persiapan UTS. Sedikit kita kupas tentang pengertian manusia, dan sebenarnya masih banyak yang ingin didiskusikan. Namun karena harus pergi jadinya kita cukupkan bahas tentang Gharizah, Hajatul Udlowiyah, dan apa itu Aqal.

Malam sesampainya di kosan, saya tanyakan kembali padanya sudah sejauh apa persiapan buat UTS senin pagi, apa masih ada yang bisa dibantu? Dia menjawab, "Ini aja kak.. tolong jelaskan bagaimana perkembangan Islam di masa Nabi sejak beliau menerima wahyu. Soalnya di buku ini singkat sekali penjelasannya" dia berkata.

Baiklah, dengan semangat saya mulai menjelaskan. Begini dek, memang benar apa yang ditulis dalam buku ini bahwa daur atau marhalah dakwah Rasulullah saw. ada dua, yaitu marhalah Makkah dan marhalah Madinah. Namun bila diamati lagi secara mendalam, sebagaimana pendapat ijtihad seorang ulama Syaikh Taqituddin An-Nabhani, ternyata dalam dua marhalah itu Rasulullah melalui tiga tahapan dakwah. Dua tahapan terjadi di Makkah, dan satu tahapan lagi terjadi di Madinah.

Marhalah Makkah sendiri berlangsung selama 13 tahun, selebihnya hingga beliau wafat terjadi setelah hijrah ke Madinah. Tahapan pertama berlangsung selama tiga tahun, dikenal dengan tahap pembinaan (tatsqif), lalu tahap kedua dikenal dengan tahap interaksi ke tengah-tengah ummat (tafaul) yang berlangsung kurang lebih 10 tahun. Selanjutnya berpindah ke tahapan dakwah berikutnya yaitu penerapan hukum Islam di Madina (tathbiq).

Pada tiga tahun pertama tahapan tatsqif, Rasulullah saw. berhasil membina 40 orang sahabat. Dimulai dari orang-orang terdekat seperti istri, paman, keponakan, hingga sahabat-sahabatnya. Setiap malam secara sembunyi-sembunyi (sirri) mereka mempelajari Islam langsung dari Rasulullah di rumah Arqom, mendengar Rasulullah membacakan Al Qur'an, dan juga sholat berjamaah. Fase ini bertujuan untuk membentuk kader yang siap berdakwah ke tengah masyarakat Makkah. Walau jumlah mereka tidak sebanding dengan banyaknya penduduk Makkah, namun dengan kekokohan pemahaman Islam dan kekuatan Syakhsiyah dalam diri kaum muslimin, mereka siap menghadapi segala tantangan.

Setelah tiga tahun, dakwah berpindah secara alami ke tahapan berikutnya, tafaul. Rasulullah bersama para sahabat secara terang-terangan menyeru penduduk Makkah untuk beriman kepada Allah. Fase tahapan ini ditandai dengan keluarnya kaum muslimin berbaris rapi menuju ka'bah, tawaf sambil meneriakkan kalimat-kalimat tauhid, dan mendakwahi setiap orang yang mereka temui. Rasulullah telah beralih dari menyeru individu kepada menyeru masyarakat untuk mengimani Allah serta meninggalkan kekufuran. Walhasil benturan pemikiran antara keimanan dan kekufuran datang menghadapai, tidak sedikit sahabat yang mengalami siksaan dari kafir Quraisy karena Islam yang mereka dakwahkan. Bahkan Rasulullah juga mengalaminya, salah satunya ketika hendak shalat beliau saw. dilempari kotoran unta hingga fathimah anaknya datang membersihkannya.

Tahapan berdakwah ke tengah-tengah umat ini adalah tahapan dakwah yang paling berat. Secara pemikiran, orang-orang arab di Makkah mengetahui kebenaran Islam yang disampaikan oleh Rasulullah bersama kelompok dakwahnya. Namun mayoritas mereka adalah orang-orang yang beku dengan kekufuran, mereka tidak mau melepas ajaran jahiliyah dari nenek moyangnya, ditambah lagi penguasa-penguasa arab mempertahankan kelangsungan kondisi "beku" ini. Akibatnya mereka memilih untuk mengisolasi dan tidak berinteraksi dengan kaum muslimin. Islam akhirnya hanya berkembang di kalangan sahabat saja.

Musim haji tahun ke 8 masa kenabian, beberapa orang Madinah dari suku Aus dan Khajraj datang ke ka'bah, Rasulullah tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mendakwahi siapa saja yang berhaji, termasuk sekelompok kecil penduduk Madinah ini. Ternyata mereka mau memeluk Islam dan berjanji untuk mengajarkan Islam ke penduduk Madinah. Setahun kemudian mereka kembali berhaji dan menemui Rasulullah. Mereka meminta seorang utusan dari sahabat Rasul untuk mengajarkan Islam di Madinah, maka di utuslah Mus'ab bin Umair.

Subhanallah, hanya dalam waktu setahun Mus'ab mampu berdakwah dan memahamkan Islam pada penduduk Madinah. Beliau mengabarkan pada Rasulullah bahwa tidak ada satu rumah pun di Madinah yang di dalamnya tanpa seorang muslim, dan tidak ada satu orang pun yang tidak membicarakan Islam di sana. Masyarakat Madinah telah sedemikian siap untuk menerima Islam dan meminta Rasulullah menerapkan Islam secara kaffah di Madinah. Ya, Rasulullah telah menempuh jalan untuk menyiapkan masyarakat Madinah sebelum menegakkan Negara Islam. Diutusnya Mus'ab untuk membentuk kesadaran masyarakat adalah jalan yang beliau tempuh. Maka, perintah itu pun turun. Kaum muslimin secara bergelombang mulai berhijrah dari Makkah ke Madinah. Yang terakhir berhijrah adalah Rasulullah.

Sesampainya di Madinah, yang beliau saw. lakukan adalah menegakkan negara Islam (tathbiq ahkamul islam), kaum muslimin mengangkat Rasulullah sebagai Khalifah atau kepala negara, dan hukum Islam sebagai aturannya. Kita melihat Rasulullah pertama sekali membangun Masjid. Masjid yang tidak hanya sebagai pusat ibadah, namun juga tempat membicarakan pengaturan urusan ummat, memikirkan strategi perang, dan juga pusat syiar Islam. Beliau juga mengangkat dua orang sahabatnya sebagai pembantu beliau menjalankan pemerintahan, yaitu Abu Bakar dan Umar.

Hal berikutnya yang beliau lakukan adalah membuat perjanjian dengan orang-orang yahudi di Madinah, mengikat perjanjian dengan mereka agar sebagai warga negara, mereka (yahudi) bisa hidup secara damai berdampingan dengan kaum muslimin dengan jaminan keamanan dan keselamatan dari Negara Islam, tanpa ada perlakuan tidak adil atau menjadikan mereka warga negara kelas dua. Jadi, di dalam Negara Islam itu ternyata penduduknya heterogen, ada berbagai macam suku yang berasal dari Madinah dan Makkah, juga beragam agama dan keyakinan (Islam, Musyrik, Yahudi, dan Nasrani). Namun semuanya berhasil disatukan dalam satu masyarakat Islam.

Wallahu'alam. []

Sabtu, 30 Maret 2013

Kala Sebagian Pemimpin dan Anggota Ikhwanul Muslimin Jatuh Hati Kepada Hizbut Tahrir


Oleh : Adi Victoria
Dalam sejarah perjalanan dakwahnya, gerakan Ikhwanul Muslimin berdiri lebih awal daripada Hizbut Tahrir. Ikhwanul Muslimin didirikan oleh seorang mujtahid dan mujahid yakni al Imam asy syahid Hasan al Bana.

Tentang Hasan Al Bana menarik apa yang pernah disampaikan oleh al-Imam al-’Allamah as-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, yang juga merupakan seorang mujadid abad ini. Beliau berkata “Syekh Al Banna merupakan orang yang alim, cerdas, sungguh-sungguh dan seorang mujtahid” Buku Hizbut Tahrir Al Islamy (1992) halaman 83).

Syaikh taqiyuddin juga mengomentari gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Hasan Al Bana, masih di judul buku dan halaman yang sama beliau berkata “Ikhwanul Muslimin merupakan jamaah Islam yang teguh dan tidak ada yang kurang padanya kecuali kajian tentang politik Islam”

Ittishal (Kontak)
Salah satu aktvitas yang selalu dilakukan oleh syabab Hizbut Tahrir adalah ittishal atau kontak. Ini sebagaimana merujuk kepada aktivitas dakwah rasulullah saw sejak dari Makkah hingga Madinah.
Sejak Allah SWT menurunkan surah al mudatsir. Nabi semakin memperluas zona dan obyek dakwahnya. Setelah sebelumnya beliau sukses mengajak orang dekat yang berda di ring satu seperti istri, maula beliau, sepupu beliau yakni ‘Ali bin Abi Thalib. Beliau memasuki ring kedua yakni sahabat-sahabat beliau seperti Abu Bakar.

Melalui jaringan Abu Bakar inilah ring dua dapat dilalui dengan sukses. Islam diterima oleh Ustman bin ‘Affan, Zubair bin Awwam, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqash, Thalhah bin Ubaidillah, dll. Hingga akhirnya Islam diterima oleh banyak kalangan dari beragam latar belakang. Inilah titik awal dakwah nabi. Titik awal yang dimulai dari kontak (ittishal) yang beliau lakukan. Kontak ini pula yang dilakukan oleh Abu Bakar as Siddiq hingga kemudian banyak orang menerima Islam. Dari kontak inilah terbentuk generasi awal (as sabiqul awwalun). Dari generasi awal inilah terbentuk kutlah Rasul dan selanjutnya bermetamorfosis menjadi hizb Rasul. Rasul saw adalah pimpinan hizb ini. Beliau mendidik anggotanya dan mengorgnisir aktivitas-aktivitas dakwah yang terarah dengan target yang jelas.

Hal ini juga yang kemudian dilakukan oleh al-Imam al-’Allamah as-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani. Al-Ustadz Fauzi Sinnuqarth, menuturkan sejarah awal terbentuknya Hizbut Tahrir:

“Saya ingat, bahwa pertama kali beliau menjelaskan masalah Khilafah, ketika berada di Masjid al-Aqsa yang penuh berkah, di salah satu sudut sebelah barat daya. Di sana terdapat ruangan yang memanjang. Beliau berbicara kepada banyak orang setelah shalat Jum’at, suatu pembicaan yang sangat menyentuh dan jelas. Di sekeliling beliau ketika itu berkumpul ratusan orang. Beliau menceritakan kepada mereka Sirah Nabawiyyah. Sesekali beliau menceritakan wafatnya Rasulullah saw, dan bagaimana kaum Muslim setelah beliau wafat, mereka menyibukkan diri di Saqifah Bani Sa’adah untuk mengangkat seorang khalifah bagi mereka, sementara mereka membiarkan pemakaman beliau sampai bia’at kepada Abu Bakar as-Shiddiq berhasil dilakukan.

Jadi, itu merupakan pembahasan, dan pembicaraan pertama tentang penegakan khalifah serta seruan untuk menegakkannya. Peristiwa itu terjadi tepat pada tahun 1950 M. Syaikh Taqiyuddin kemudian melanjutkan kontak beliau dengan orang yang menginginkan kebaikan, yaitu para pemuda dari al-Quds. Lalu beliau pun mengontak para pemuda yang lain lagi, yang menginginkan kebaikan, atau beliau tahu kalau mereka itu baik dari daerah al-Khalil dan Tulkarim. Ketika beliau mendengar ada seseorang yang menginginkan kebaikan, atau beliau merasa bahwa dia baik, pasti akan beliau kontak. Dengan cara seperti itu, beliau berhasil merekrut banyak orang.

Beliau mengajak mereka berdiskusi dengan mendalam. Misalnya, diskusi beliau dengan salah seorang dari keluarga ‘Azzah, dan keluarga Hammad, sebuah diskusi yang mendalam. Melalui diskusi tersebut, beliau menulis pembahasan al-Qiyadah al-Fikriyyah fi al-Islam (kepemimpinan intelektual dalam Islam) yang telah dimasukkan dalam kitab Nidzam al-Islam. Diskusi beliau dengan seseorang, namanya Said Ramadhan tentang akhlak. Setelah itu, beliau menulis al-Akhlaq fi al-Islam (Akhlak di dalam Islam) dalam kitab Nidzam al-Islam.

Masuknya Sebagian Anggota Harakah 313 ke dalam Hizbut Tahrir
Harakah 313 merupakan harakah yang ada sebelum Hizb yang menyerukan tegaknya Daulah Islamiyah. Pendirinya adalah Syeikh Hamzah Abdul Ghafar Thahbub (sopir truk). Mereka beranggapan bahwa terpenuhinya anggota sebanyak 313 orang akan sempurna berdiri daulah (karena jumlah kaum muslim Mekah yang berhijrah ke Madinah adalah 313 orang muslim). Mereka mengharuskan anggotaanggotanya tidak berinteraksi dengan departemen-departemen dalam sistem pemerintahan kufur. Sampai-sampai mereka melarang salah seorang anggota mereka untuk pergi ke kantor polisi guna memberitahukan pencurian tokonya. Ketika Hizb at-Tahrir berdiri, simpul harakah 313 pun terurai karena mayoritas anggotanya bergabung dengan Hizb kecuali pendirinya.
Diantara mereka yang menonjol adalah : Ibrahim Syakir asy-Syarbati (mahasiswa Azhari dan sopir truk), Ahmad Ibrahim Misik (tukang roti), Abdul Ghafar asy-Syeikh Darah (pemilik restauran al-Quds di Amman sekarang), Syeikh Rabi’ Barakat al- Asyhab (tukang roti), Muhammad Nu’aim Utsman asy-Syarbati (sopir truk), Ya’qub Abdul Karim Abu Ramilah at-Tamimi (tukang samak kulit), Khalid Ahmad Ahmarou (penjahit), semua dari mereka bergabung ke dalam barisan Hizb at-Tahrir sejak awal. Mereka semuanya tanpa terkecuali memiliki sikap kepartaian yang sangat menonjol yang mengantarkan mereka ke penguntitan, penangkapan dan dipenjara beberapa kali.

Masuknya sebagian pemimpin Ikhwanul Muslimin dan kader nya ke dalam Hizbut Tahrir
Gerakan yang terkenal sebelum berdirinya Hizb selain gerakan 313 adalah gerakan Ikhwan al-Muslimin. Ikhwan al-Muslimin merupakan gerakan yang sudah lama dan lebih dahulu muncul di banding gerakan lainnya. Gerakan ini (Ikhwan al- Muslimin) didirikan oleh almarhum Hasan Abdurrahman al-Bana as-Sa’atiy di Mesir pada awal tahun 30-an abad ke dua puluh. Gerakan ini masuk ke Yordania melalui tangan seorang pengusaha yaitu Abdul Lathif Abu Qurah, dan ke al-Khalil melalui tangan seorang pengusaha, Isa Abdun Nabiy al-Nattsah.
Gerakan ini tidak sampai pada tingkat sebagai sebuah partai politik. Akan tetapi gerakan ini tetap sebagai jamaah khairiyah yang secara lembaga maupun aktivisnya diterima dan direstui oleh penguasa, khususnya Yordania, Saudi dan negara-negara arab teluk. Pendiri gerakan ini rahimahuLlâh, telah mengumumkan pada awal gerakan ini yaitu dalam ar-Rasâ’il dan buku Qadhiyatunâ bahwa mereka bukan orang-orang yang menyerukan kekuasaan atau perubahan pemerintahan, bahkan hal itu (menyerukan kekuasaan dan perubahan sistem pemerintahan) dianggap sebagai tuduhan yang harus ditolak.

Aktivis-aktivis gerakan ini mengumumkan bahwa mereka adalah orang-orang yang menyerukan reformasi atas kondisi yang ada, bukan yang lain, dibawah payung penguasa negeri yang bagi mereka dianggap penguasa yang adil. Oleh karena itu aktivitas mereka dibatasi melalui dakwah individual. Maksudnya adalah memperbaiki individu, akan memperbaiki usrah dan akan membuat masyarakat menjadi baik …

Aktivitas mereka di al-Khalil terbatas pada dakwah individual yang menyerukan akhlak, mengumpulkan harta untuk didistribusikan kepada orang-orang fakir dan untuk membiayai aktivitas-aktivitas kebaikan (sosial), permainan olah raga dan rekreasi, kelompok kepanduan13 , klinik kesehatan, diskusi mingguan setiap kamis sore di Dâr al-Ikhwân, perayaan berbagai hari besar Islam dan program tahfizh Quran. Semua aktivitas jamaah Ikhwanul Muslimin itu di organisasikan dari pusat (markas) mereka yaitu Dâr al-Ikhwân al-Muslimîn di satu bangunan yang disewa di jalan Syuhada’ yang terasnya memanjang sampai jalan Bab az-Zawiyah. Juga termasuk aktivitas mereka adalah kajian pusparagam di rumah-rumah.

Kajian itu mereka namakan “usrah”. Setiap usrah menggunakan nama dan memiliki anggaran sendiri-sendiri, dan daftar orang yang memberikan kajian. 14 Jumlah anggota setiap usrah juga tidak dibatasi, kadang mencapai sepuluh orang atau lebih. Dalam pembentukan usrah-usrah itu terlihat jelas diperhatikan unsur stratifikasi. Usrah itu berkumpul pada hari tertentu setiap minggunya dan dihidangkan makanan, makanan pencuci mulut dan kue-kue. Tempat pertemuan dan tuan rumah pertemuan digilir diantara anggota usrah. Tidak ada kitab tertentu yang dibaca di dalam usrah, apalagi suatu program kajian tertentu dan mereka keras untuk menghafal al-Quran. Karakter usrah yang dideskripsikan di sini adalah fakta usrah pada akhir tahun empat puluhan dan awal lima puluhan. Fakta itu berbeda dengan bentuknya sekarang.

Ittishal yang dilakukan syaikh taqiyudin an Nabhani berhasil membuat sebagian para petinggi ikhwanul Muslimin berpindah dan masuk ke dalam gerakan Hizbut Tahrir. Syeikh Abdul Qadim Zallum, syeikh As’ad Bayoudh at-Tamimi, Syeikh Rajab Bayoudh, syeikh Abdul Hayyi ‘Arafah dan syeikh Abdul Qadir Zallum –ketua kepanduan di Ikhwanul Muslimun dan komandan terdahulu di Jihad al-Quds dibawah H. Amin al-Husaini-, termasuk para pemimpin al-Ikwan al-Muslimun di al-Khalil.
Bergabungnya beliau-beliau itu ke dalam barisan Hizb mengakibatkan kekuatan perjalanan gerakan al-Ikhwan al-Muslimun merosot, mulai redup dan melemah eksistensinya, langkahnya tersandung-sandung dan anggota masyarakat yang menisbatkan diri kepadanya juga berkurang dan jumlahnya semakin kecil.

Oleh karena itu dengan segera datang dari Mesir ustadz Sa’id Ramadhan –menantu Hasan al-Bana sekaligus orang kedua di al-Ikhwan al-Muslimun Mesir setelah menantu Hasan al-Banna yang lain yaitu Abdul Hakim ‘Abidin pemilik majalah al- Muslimun yang terbit di Kaero kemudian pindah ke Swiss-. Ustadz Sa’id Ramadhan bertemu dengan Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani di rumah Muhammad dan Nashir asy-Syarbati di al-Khalil. Maksud pertemuan itu adalah untuk meyakinkan Syeikh Taqiyuddin agar membatalkan Hizb dan menggabungkan kedua jamaah. Pertemuan itu juga dihadiri oleh para pemuka al-Ikhwan al-Muslimun di al-Khalil, antara lain : Syeikh Syukri Abu Rajab at-Tamimi, H. Nashir Amin Al-‘Aidah al-Harbawi, Syeikh Muhammad Sa’id Shalah, Nashir Ahmad asy-Syarbati, Muhammad Ahmad asy- Syarbati, H. Isa Shalih Abdun Nabi an-Natsyah, H. Abdul Hafizh Mishbah Masudah, H. Abdul Fatah Hasan ath-Thahir al-Muhtasib, Muhammad Rasyad Abdus Salam ‘Arif, Abdul Wadud Abu Gharbiyah asy-Sya’rawi. Namun pertemuan itu tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan.

Hubungan Syeikh Abdul Qadim Zallum dengan al-Ikhwan al-Muslimun.
Syeikh Abdul Qadim Zallum memiliki kedudukan tinggi diantara para ulama di daerah al-Khalil karena keluasan pengetahuan, kemuliaan akhlak, ketakwaan dan kelembutan perhatian beliau. Beliau seperti bintang yang bersinar-sinar diantara para ulama. Setelah lulus dari al-Azhar, beliau bekerja menjadi pengajar di Madrasah al-Husein bin Ali di al-Khalil. Beliau bergabung dengan jamaah al-Ikhwan al-Muslimun di al-Khalil dan menduduki jabatan kepemimpinan. Tidak lama, lalu beliau keluar dari al-Ikhwan al-Muslimun dan bergabung dengan halqah ula di Hizbut Tahrir. Beliau sangat dekat dengan Syeikh Taqiyuddin. Sebagian besar pemimpin jamaah al-Ikhwan al-Muslimun di al-Khalil mengikuti jejak Syeikh Abdul Qadim Zallum dengan keluar dari jamaah untuk bergabung ke dalam barisan Hizbut Tahrir. Hal itu menyebabkan kegoncangan cabang jamaah al-Ikhwan al-Muslimun di al- Khalil.

Diantara pemimpin dan tokoh al-Ikhwan al-Muslimun cabang al-Khalil yang keluar dan bergabung dengan Hizbut Tahrir antara lain : Syeikh As’ad Bayoudh at- Tamimi-Abu Thal’at, Syeikh Rajab Bayoudh at-Tamimi-Abu Hamid, H. Abdul Qadir Zallum-Abu Faishal pendiri kelompok kepanduan al-ikhwan al-muslimiun di al-Khalil, H. Nashir Ahmad asy-Syarbati-Abu Hatim, Syeikh Abdul Hayyi ‘Arafah-Abu Mushthafa mufti al-Khalil dan Syeikh Abdus Sami’ ar-Rifa’iy al-Mishri.
Saya (penulis buku kekasih-kekasih Allah) ingin tegaskan di sini ketidahsahihan riwayat yang ada di beberapa buku individu al-Ikhwan al-Muslimun yang menunjukkan bahwa utusan al-Ikhwan al- Muslimun dari Mesir adalah asy-Syahid Sayid Quthub. Yakni perkataan yang sering dinukil oleh kalangan pemudah ikhwan (generasi ikhwanul Muslimin) yaitu “biarkan saja mereka, mereka akan berhenti pada titik seperti awal ikhwan” yang dinisbatkan kepada asy-Syahid Sayid Quthub. Perkataan ini juga tidak benar. Perkataan perkataan ini dibuat-buat demi tujuan picisan, sudah nampak jelas kebohongan mereka.

Sebagai pengaruh dari kegagalan pertemuan itu, mulai terjadi pergolakan pemikiran yang sengit disertai serangan yang keras dan zalim kepada Hizb dan para pengikut Hizb oleh individu-individu jamaah al-Ikhwan al-Muslimun. Sebagai contoh serangan itu, tatkala H. Nashir asy-Syarbati kemudian bergabung ke dalam barisan Hizb meninggalkan al-Ikhwan al-Muslimun, bersamaan dengan kedatangan rekan beliau dari Kuwait, akhi Abdul ‘Aziz al-Madhun yang datang meminta beliau kembali ke barisan al-ikhwan al-muslimun dan meninggalkan Hizb. Setelah diskusi yang panas, akhi Abdul ‘Aziz mengakhiri diskusi dengan mengatakan : “saya menganggap engkau seperti orang murtad dan saya tidak akan pernah sekalipun mengucapkan salam kepada engkau selama hidupku”.
Begitu juga sebagian mereka (orang-orang al-ikhwan al-muslimun) menjawab salam yang diucapkan oleh syabab Hizb dengan perkataan : “salam, kami tidak ingin menjadi kaum yang bodoh”. Hal itu seperti yang terjadi pada ustadz H. Abdul Qadir Zallum dan murid beliau yang durhaka, akhi Jibril Badawi al-Hanini.

Sebagian penulis al-ikhwan al-muslimun mengklaim bahwa Hizbut Tahrir adalah pecahan dari barisan mereka (al-Ikhwan al-Muslimun). Perkataan demikian sangat jauh dari kebenaran. Tidak satu orangpun dari halqah ula Hizbut Tahrir yang berasal dari al-ikhwan al-muslimun. Meski banyak dari hizbiyin generasai awal di al- Khalil berasal dari barisan al-ikhwan al-muslimun, namun mayoritas mereka berasal dari harakah 313. Sebagian dari mereka ada yang berasal dari partai komunis.
Syeikh Taqiyuddin dan sahabat-sahabat beliau yang menduduki kepemimpinan Hizb tidak memiliki hubungan sama sekali dengan al-ikhwan al-muslimun. Begitu pula Syeikh Taqiyuddin tidak memiliki hubungan sama sekali dengan jamaah H. Amin al- Huseini seperti yang diindikasikan oleh sebagian penulis al-Ikhwan al-Muslimun. Kedua perkataan itu (Hizb pecahan dari al-Ikhwan al-Muslimun dan adanya hubungan Syeikh Taqiyuddin dengan jamaah H. Amin al-Huseini) merupakan dua perkataan yang ditulis dari sisi kedustaan yang disengaja dengan tujuan buruk dan picisan. Sementara Ustadz Abdul Qadir Zallum lah rekan dekat mereka –sebelum bergabung dengan Hizb- yang memiliki hubungan dengan H. Amin al-Huseini. Karena sebelum bergabung dengan jamaah al-ikhwan al-muslimun, Ustadz Abdul Qadir Zallum menjadi bagian dari gerakan al-jihad al-Quds yang mengikuti jamaah H. Amin al-Huseini.

Sikap Masyarakat kala itu kepada Syaikh Taqiyudin dan kepada Hizbut Tahrir
Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani terkenal di masyarakat sebagai pendiri Hizbut Tahrir. Sampai-sampai Hizb pada awalnya disebut oleh masyarakat awam dengan sebutan “an-Nabhaniyun”. Sebagian mereka menyebut Hizb dengan sebutan “attâ’ûn ad-dawlah” yakni “rijâl ad-dawlah”.
Sebutan ini dinisbatkan kepada seruan paling menonjol yang diserukan Hizb yaitu tegaknya Daulah Islamiyah. Khususnya setelah Hizb mengeluarkan buku “ad-Dawlah al-Islâmiyyah”. Meski berbagai sumber menyerang dan membantah Hizb dan meremehkan seruan penegakan daulah al- Khilafah, namun pendiri Hizb, Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, tetap mendapat penghormatan yang tinggi dan kemuliaan dari seluruh lapisan masyarakat. Karena beliau termasuk generasi awal pengajar yang mukhlish ketika pada tahun 30-an beliau menjadi pengajar di Madrasah ar-Rasyidiyah di al-Quds. Beliau juga sangat terkenal di seluruh bagian Palestina sebagai seorang alim alamah diantara ulama ulama yang terkenal dan sebagai seorang yang mulia yang lembut baik hati dan akhlak seorang yang jujur (benar) diantara orang yang paling jujur. Beliau sebagai contoh seorang alim yang bertakwa dan wara’. Syeikh Taqiyuddin tidak pernah sekalipun dicela perilaku beliau dari kelompok atau arah manapun. Bahkan hingga orang yang paling keras memusuhi Hizb sekalipun, memuji Syeikh Taqiyuddin akan kewara’an dan ketakwaan beliau. Begitu pula amir Hizb yang kedua Syeikh Abdul Qadim Yusuf Zallum. Beliau adalah seorang syeikh yang lembut dan murah hati, lulusan al-Azhar dan pengajar di Madrasah al-Husein bin Ali di kota al-Quds –ayah beliau, Syeikh H. Yusuf Zallum seorang hafizh al-Quran yang terkenal- yang mendapat penghargaan dan penghormatan yang tinggi serta kecintaan dari masyarakat secara umum dan khususnya para syaikh.

Perlakukan Ikhwanul Muslimin kepada kadernya yang berinteraksi dengan Syaikh Taqiyudin
Berikut akan saya nukilkan salah seorang generasi awal syabab hizbut tahrir yang sebelumnya merupakan kader Ikhwanul Muslimin yakni Syaikh Abu Arqam (penulis buku ahbabullah/kekasih-kekasih Allah) yang mengisahkan kisah nya ketika keluar dari ikhwanul muslimin dan bergabung dengan hizbut tahrir. Beliau termasuk generasi pertama dalam barisan aktifis Hizbut-Tahrir (HT) yang pernah mendapatkan halqah dari Syaikh Taqiyiyuddin an-Nabhani rahimahullâh, pendiri Hizbut Tahrir. Berikut ini sekilas memoar beliau, sebagaimana dituliskan oleh Syaikh Thalib Audhullah dalam buku, Ahbâbullâh.

Awal Pertemuan dengan HT
Sejak tahun 1950 saya telah bolak-balik di Dar al-Ikhwan al-Muslimin (Rumah/Sekretariat Ikhwanul Muslimin). Pada saat itu Syaikh Abdul Qadim Zallum, H. Abdul Qadir Zallum dan yang lain juga suka bolak-balik ke sana. Ketika kami berkumpul di sana, terjadi diskusi dan tanya jawab. Saat itu saya sangat tertarik dengan pemikiran-pemikiran baru yang dilontarkan Syaikh Abdul Qadim Zallum.
Sebelumnya bersama Ikhwanul Muslimin kami tidak terbiasa dengan pemikiran seperti itu. Hal itu membuat saya dekat dengan beliau rahimahullâh.
Kemudian kami mulai berdiskusi dengan saudara-daudara kami di Jamaah (Ikhwan). Hal itu membuat mereka berkata kepada kami, “Kalian membicarakan sesuatu yang asing bagi kami.” Akhirnya, terjadi keterasingan antara kami dengan Ikhwan di sekretariat itu.
Setelah itu kami mulai berkumpul di rumah Syaikh As’ad Bayaudh bersama Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani ketika beliau hadir di al-Khalil. Ketika itu kami tidak lebih dari dua puluh orang. Saya ingat sebagian dari mereka seperti Syaikh Ibrahim asy-Syarbati dan saudaranya Ya’qub asy-Syarbati, H. Abdul Qadir Zallum, Ahmad Ibrahim Misik, Ibn al-Baladah al-Qadimah dan yang lain. Pertemuan biasanya berlangsung hingga azan subuh. Setelah kami menunaikan shalat subuh secara berjamaah lalu kami pulang ke rumah masing-masing. Ketika kami bertolak untuk menyeru masyarakat, mereka mengatakan kepada kami, “Kalian adalah pengikut ‘Nabi-Hani’ (plesetan dari Nabhani).” Sebagian yang lain menyebut kami ‘Nabhaniyun’.
Wallahu A’lam bisshowab. []

Sumber tulisan :
Buku Kekasih-Kekasih Allah, penulis Syaikh Abu Arqam
Buku Hizbut Tahrir Al Islamiy, penulis ‘Auniy Al Judu’ Al ‘Abidy
Boklet DARI MASJID AL-AQSA MENUJU KHILAFAH:SEJARAH PERJALANAN HIZBUT TAHRIR
http://adivictoria.wordpress.com/2013/03/27/kala-sebagian-pemimpin-dan-anggota-ikhwanul-muslimin-jatuh-hati-kepada-hizbut-tahrir/

htpartaiislamjp8
HIZBUT-TAHRIR-AL-ISLAMI-‘ARDHUN-TARIKHI-DIRASAH-‘AMMAH