Jumat, 07 Juni 2013

Catatan Perjalanan Menuju Muktamar Khilafah


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Halo saudara ku dan teman-teman sekalian, kali ini saya ingin berbagi kisah yang sempat diabadikan dalam foto-foto berikut ini. Foto-foto ini menjadi saksi sekaligus bukti persiapan yang kita lakukan dalam perjuangan penegakkan Khilafah, wa bil khusus teman-teman Nisaa dari Kampus UI.. yaitu untuk acara Muktamar Khilafah di Stadion Utama Gelora Bung Karno -> Ahad, 2 Juni 2013. Semoga dicatat oleh para malaikat sebagai  amal shalih.. Insya Allah, Allahu Akbar.. !!

Lihat Benderanya, jangan lihat matanya :D


Mulai.. 

Jum’at, 17 Mei
Saatnya ke Bekasi buat booking bis untuk akomodasi para peserta Muktamar dari Kampus Universitas Indonesia yang terletak di Depok menuju Senayan nanti. Tidak mudah ternyata memesan bis ini, harus tat, tit, tut, dan klak, klik, klak, klik menghubungi Perusahaan Oto Bus. Ternyata banyak bis yang fullbooked untuk pemesanan Ahad, tanggal 2 Juni 2013. Alhamdulillah setelah nyari-nyari kurang lebih 3 hari, akhirnya dapat juga :-).





Bacaannya: Nahnu akadimiyuna wa thulaba jami’atu Indunisiya muwafiquna bi iqomati Khilafah ma’a Hizb ut-Tahrir à Artinya: Kami, Civitas Akademika dari Universitas Indonesia menjawab seruan dari Hizbut Tahrir untuk berjuang bersama menegakkan Khilafah.



 
Ini adalah file hasil kreasi kita sebelum nanti dicetak dalam spanduk. Spanduk dengan contoh foto seperti ini nantinya akan kita bawa dan dibentangkan selama acara Muktamar Khilafah di Gelora Bung Karno. Spanduk dengan dua bahasa, Arab dan Inggris. Kurang lebih arti dan maksudnya sama, menyatakan bahwa kita, Civa Akademika dari Universitas Indonesia menjawab seruan dari Hizbut Tahrir untuk berjuang bersama menegakkan Khilafah. Subhanallah, Allahu Akbar!!
Semoga Brothers dan Sisters dari belahan negeri yang lain bisa menangkap pesan yang kita sampaikan ini, Amiiinnn Allahumma Amiiinn.. :-).




Nah, apa ini? Hehe.. ini adalah plank logo untuk memudahkan kita tetap berada dalam satu barisan di tengah-tengah massa yang nantinya akan tumpah ruah di Stasion GBK. Peserta Muktamar Khilafah (MK) Nisaa/perempuan dari UI terbagi dalam 4 sektor sebenarnya, Platinum, VVIP, VIP, dan Reguler. Tapi kita hanya menyediakan 3 logo saja, karena buat ibu-ibu tokoh dari UI yang berada di sektor Platinum jumlahnya juga hanya beberapa orang, sepertinya kecil kemungkinan juga di sektor Platinum ada penyusupnya, iya kan..? hehe... :D

Oya, selain logo ini, kita juga membuat beberapa tatib (tata tertib) untuk memudahkan saling mengingat, mengenal, dan sama-sama nyaman mengikuti acara. Yaitu, memakai kerudung seragam berwarna putih, agar supaya tidak kegerahan di tribun nanti; juga masing-masing kita mengenakan syal batik cirebon warna mega mendung. Pokoknya unyu-unyu deh.. :D :D

 

 Waktu itu, saat berkunjung ke rumah teman, eh malah dikasi oleh-oleh spanduk ini. Padahal ke rumah beliau awalnya hanya mengantarkan tiket Muktamar. Yaudah deh, langsung aja dipasang di pintu garasi kos-kosan, taraaaa :-).

Kalau ini foto agak berbeda, sebenarnya yg mau difoto itu danau, pohon, atau balairung UI sih? Ga jelas ya? Memang iya.. karena waktu ngambil foto ini tuh lagi broken heart banget :(. Begini ceritanya, saat sedang mengisi halqah bareng ibu-ibu, ga sengaja ada pesan wasap yang masuk. Isinya kabar dari teman yang memohon maaf karena mendadak tidak bisa ikut MK, deadline UAS harus turlap (turun lapangan) hari Ahad pagi tanggal 2 Juni 2013. Heumm.... dalam hati aku berdo’a “Ya muqallib al-qulub, thabbit qalbi ‘ala dinik” yang artinya “Wahai Tuhan Yang Membolak-balikan hati, tetapkan hati ini di atas agama Mu”.



 

Akhirnya, Ahad tanggal 2 Juni 2013 pun tiba. Tepat pukul 03.00 wib, kita mulai berkumpul di Jalan Margonda Raya, Depok; tepatnya di depan TB. Gramedia. Langsung bergerak sigap tempel-menempel di bis, mulai dari beberapa buah spanduk, Liwa-Royah, ga ketinggalan juga famplet logo Nisaa UI di Bis. Mungkin pada banyak yang berpikir, Depok-Senayan kan dekat, ngapa mesti pagi bener berangkatnyah? :-).

Secara pesertanya lebih kurang 100.000, jangan sampai kita telat masuk stadion karena harus ngantri markir Bis. Akhirnya sholat subuh pun dilakukan di tengah perjalanan, di Masjid deket-deket Kalibata Jaksel gitu deh.. :-D



Alhamdulillah, pukul 05.30 wib kita udah nyampe di GBK-Senayan. Senayan udah rame ternyata, tapi masih sangat leluasa tanpa berdesak-desakan. Langsung deh menuju sektor dan pintu masing-masing. Teman-teman Reguler kebagian di pintu 3, VIP di pintu 4, VVIP dan Platinum di pintu 6. Yak, pose dulu di depan pintu untuk diabadikan sambil megang spanduk yang udah kita siapin jauh-jauh hari ^_^. Semuanya semangat walau sudah berlelah-lelah sejak dini hari.. xixixi.

Peserta dari Nisaa UI ini ada yang berasal dari Fakultas Ilmu Budaya, Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Teknik,  Fakultas Hukum, Vokasi UI, dan seterusnya.. Semua bersatu dalam perjuangan, untuk Songsong Perubahan Besar Dunia Menuju Khilafah. Takbiiirr... Allahu Akbar !!




Subhanallah, walau masih amatir dalam jepret-jepret foto dan hanya mengandalkan kamera HP saja, paling tidak kumpulan foto yang kita ambil dari tribun di atas cukuplah untuk menggambarkan semarak dan gegap gempitanya Muktamar Khilafah ini. Pastinya tiap peserta dari masing-masing wilayah sekitar ibu kota Jakarta punya kisah tersendiri dalam mempersiapkan dan mengikuti acara ini, seperti kita juga tentunya.

Enam tahun yang lalu kita berkumpul di sini dalam KKI 2007 (Konferensi Khilafah Internasional), kini kita berkumpul lagi di tempat ini dalam MK 2013 (Muktamar Khilafah). Tentu dengan visi yang lebih besar, opini yang lebih kuat dan matang untuk menyongsong Khilafah, dan jumlah massa yang jauh lebih besar tentunya, karena MK-Jakarta adalah puncak Muktamar di lebih dari 31 Muktamar serupa di seluruh nusantara.

Sebentar, kenapa foto saya tidak seperti teman-teman lain yang berkerudung putih? Hemm.. tentu ada sebabnya, coz memang sengaja tampil dengan warna mencolok supaya mudah dikenali, ga lucu juga kan kalo Amiroh Rombongan yang badannya kecil dan imut menghilang entah kemana ditengah kerumunan karena tidak kelihatan...? :D :P.




Setelah acara Muktamar berakhir, Alhamdulillah pada malamnya saya dapat kesempatan untuk menghadiri Pertemuan pasca MK di Hotel Grand Sahid, Jakarta. Walau lelah, tapi para pembicara pasti jauh lebih lelah dari kelelahan yang saya rasakan. Ada bro Taji Mustafa (UK), Okay Pala (Holland), Abdul Moemin (Yaman), Syaikh Hisyam Albaba (Suriah).. juga ada brothers lainnya dari Pakistan, India, Tunisia, Libanon, Malaysia, dan.. Subhanallah, semoga nanti bisa ketemu mereka lagi di Jannah-Nya, amin, Allahumma Amiiinn..

Oya, terimakasih buat dik Liya, sahabat dan adik tersayang dari CMO (Center Media Office) yang dengan senang hati membagi foto-foto di Hotel Sahid kemarin, nanti ku bagikan script rekaman acaranya ya dek.. Jazakillah khairan katsir :-) :-).


~ Salam ~



Oya, dua foto ini selalu buat aku terharu, bahkan sampai menitikkan air mata, saudaraku.. saksikanlah, kami di sini berjuang untuk membebaskan kalian dari Penguasa Diktator dan sistem Thagut.. Allahu Akbar.



(kiri: “O people of Al-Sham, One Ummah, One Flag, One War”) -> oleh Ustadz Shiddiq Al Jawi

(kanan: “ To the Islamic Brigades: be the supporters of Allah by working to implement his shariah by establishing the Khilafah”) -> oleh syabab Ausyie kayaknya -_-‘

(bawah: "The rest of the world may have forgotten you. But the Ummah is with you, oh Muslims of Burma, and we are working for Khilafah to liberate you!")

Subhanallah... !!

Rabu, 08 Mei 2013

Sillah Ukhuwah

Kurang lebih 2,5 tahun sudah lamanya aku belum ke Medan lagi, alhamdulillah kemarin ada hajatan pernikahan abang, jadinya aku bisa mudik ke Medan. Ayo kita lihat dokumentasinya selama perjalanan :-)






Tiga foto di atas diambil sewaktu memasuki bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng-Jakarta. Jum'at pagi tanggal 26 April 2013, sesaat sebelum menaiki pesawat menuju Medan :-)



Setibanya di Medan, seusai bang Rahmad jum'atan, kita berdua ziarah ke makam mamak dan ayah, foto yang di atas makamnya mamak, yang di bawah itu makamnya ayah. Subhanallah.. sejak mamak meninggal jum'at pagi di akhir Desember 2010, ini adalah ziarah ku yang pertama kali ke makam beliau, sementara ayah sudah lebih dulu mendahului di september 2006 yang lalu.. heuheu.. semua kita akan menyusul, hanya siapa duluan dan siapa belakangan :')



lagi-lagi foto saya lagi, hehe :D. Foto ini kenang-kenangan terakhir sebelum kita anak-anak perempuan almarhumah mamak ngebagi warisan kalung dan gelang milik beliau.. heu.. sedih T_T





Nah, foto-foto yang ini pastinya bukan di Medan, ini waktu aku berkunjung ke Tiga Binanga, Tanah Karo ke rumah kak Hadjrah, kakak perempuan ku yang paling tua. Apalagi kalau bukan silaturahmi dan ngunjungin dua orang keponakan yang lucu-lucu dan ngangenin.. ternyata mereka lebih kangen dari aku, nungguin aku dari pagi sampai bosan ternyata akunya datang menjelang maghrib... maafkan bi uda ya sayang. Yang perempuan itu namanya Nazwa, kalau yang laki-laki itu adiknya, Fikri :-). Oya, Tiga Binanga ini adalah kampung kelahiran almarhumah mamak ku, bagus ya foto pemandangannya.



Xixixi.. ini nih ikon kampung Tiga Binanga, desa kecil penghasil jagung dari Tanah Karo Simalem :D





 Di Tiga Binanganya cuma semalam, besoknya langsung balik ke Medan bareng kakak dan abang iparku, ibu dan ayahnya Nazwa. Soalnya sudah H-2 acara pernikahannya bang Rahmad. Di jalan menuju Medan kita melewati Kaban Jahe dan Brastagi, singgah sebentar di Pasar Tradisional Kaban Jahe. Oya, kalo di Medan ini, pasar disebut "Pajak" oleh masyarakat sekitar, ga ada kaitan sama sekali sama kantor perpajakan lho ya.. hehe :D. Subhanallah.. pasar tradisionalnya nyejukin banget... beragam sayur mayur, ikan, buah, bunga, semua ada.. ckckckck.. Subhanallah, subhanallah... :D :D


xixixi.. di Brastagi, singgah sebentar di Penatapan. Sesuai nama tempatnya, di sini kita bisa melihat kota Medan dari puncak gunung. Sayang nyampenya udah kesorean, pemandangannya malah udah ketutup kabut awan.. yah, ga rejeki  ^^"



 Nah, ini di USU (Universitas Sumatera Utara) Medan. H-1, aku naik motor bareng Nazwa dan Fikri ngambil foto akad nikahnya bang Rahmad. Berhubung tokonya belum buka, jadinya kita jalan-jalan ke USU lihat small zoo, tuh lihat deh mereka, kayak ga pernah lihat bebek dan ayam aja.. serius banget sampai susah diajakin balik -_-"


Yaudah deh, kita langsung aja ke foto-foto acara nikahannya bang Rahmad ya, Kamis 2 Mei 2013. Ini dia...

Empat orang akhwat adik-kakak mengapit yang punya hajatan >> Bang Rahmad, sang pengantin pria :-)

Subhanallah, setahun sekali juga jarang ngumpul bertujuh abang-kakak-adik kaya gini... Momen Langka :D, Alhamdulillah...

Sama Eda Ifah, sang pengantin wanita. Semoga jadi istri yang shalihah ya kak.. ^^b

Ini dia, berempat :D


Alhamdulillah, acara resepsi pernikahannya berjalan lancar. Seusai resepsi, tepatnya Jum'at, 3 Mei 2013 aku berangkat ke Takengon-Aceh Tengah, berkunjung ke rumah kak Ayu di Bener Meriah. Kangen sama Reza keponakanku, beliaunya ga bisa ikut ke Medan karena harus persiapan UN kelas 6 SD di hari senin tanggal 6 Mei. Eh malah waktu akunya ke Takengon, si Reza minta ikut jalan-jalan.. ckckck, yasudahlah biar dia rileks sedikit menghadapi UN. Yuk kita lihat hasil jepret-jepretnya :-)


Ini Reza, my oldest nephew dan adiknya Abdillah. Hebat banget dia, bisa naik motor cross kaya gitu, soalnya medan tempuh dari rumah ke sekolahan di Bukit Menderek, Bener Meriah memang terjal.. Subhanallah.
Tuh, saking sulitnya buat nyari bensin, jadinya sedot bensin dari motor yang lain deh.. Masya Allah ponakan ku, tangguh sekali hidup di kota kecil nan terpencil di balik gunung Aceh sana.. :'-)

 Dia memang hebat, salut sekali.. selesai mengisi bensin, kita motoran bareng-bareng dari Simpang Lancang Bener Meriah menuju kota Takengon, kurang lebih sejauh 40km, fiuh... pegeelllll. Tapi apa yang didapat sebanding tentunya :-). Yuk, mari...

Masjid Raya Ruhama, Takengon-Aceh Tengah


Dulu waktu masih SD, aku TPA-nya di Masjid ini nih... Subhanallah, sudah banyak berubah.


 

its me :D
Pasar tradisional di mana-mana hampir sama ya, di Kaban Jahe, Medan, dan Takengon, semua menjual buah dan sayur produk lokal. Kalau foto yang ini di Pasar Inpres Takengon.



Kurang lebih seperti ini pemandangan gunung di Takengon-Aceh Tengah. Hmm.. semoga bisa capture lebih baik lagi, dengan kamera yang lebih bagus tentunya.. :-)

Nah, ini ngambil foto di Singgah Mata-Takengon, kelihatan sedikit Danau Laut Tawar dari sini, ikonnya Takengon :D


Kurang lebih perjalanan dari Medan ke Takengon  menghabiskan waktu 10 hingga 12 jam, kalau ke Simpang Lancang-Bener Meriah lebih singkat 2 jam dari jarak Medan-Takengon. Jarak Simpang Lancang ke Bukit Menderek juga dekat, mungkin sekitar 3-4 km saja, tapi tunggu dulu.. jalan yg beraspal hanya setengahnya, walhasil kalau naik motor harus ekstra hati-hati. Apalagi di pagi hari saat rerumputan masih ditutupi embun, licin.

Aku yang belum banyak pengalaman naik motor di medan seperti ini berulang kali jatuh hingga memar-memar. Ya Allah, aku yang masih shock karena jatuh malah keheranan melihat kedua keponakanku yang santai seperti tidak terjadi apa-apa. Tertegun aku mendengar dan mengambil kesimpulan kalau mereka memang tangguh, apa katanya? "Kami udah biasa bik wen tiap hari pun jatuh naik kereta (motor), ga ada takut lagi" ucap si kecil Abdillah dengan logat bahasa gayo. Eeuu... o_o


Akhirnya, sewaktu pulang ke Medan, aku minta diantar sama Reza dengan jalan kaki saja. Hup hup... semangat hiking mendaki bukit Menderek sejauh 4 km menuju Simpang Lancang.

Nah, ini dia sudah hampir sampai di Simpang Lancang bertepatan dengan Azan Maghrib. Foto dulu sebagai kenang-kenangan. Seusai sholat Maghrib dan makan malam, aku berangkat naik bis kembali ke Medan, lebih senang perjalanan malam biar nyampe di Medannya hari sudah terang. Walau ada sedikit longsor, Alhamdulillah bisa sampai di Medan dengan selamat. Next destination, Jakarta.


Sudah cukup jalan-jalannya, semoga postingan berikutnya bisa lebih bermakna lagi, reportase kesibukan persiapan Muktamar Khilafah, 2 Juni 2013. Insya Allah, mudahkan dan ridhoilah ya Allah, amin...

Sampai Jumpa.. :-)

Minggu, 28 April 2013

...

Hari ketiga di Medan, di rumah sendirian dari pagi sampai malam.. ko' rumahnya jadi berasa gini ya? kegedhean, sepi, sunyi, dan sedih.. ditambah tadi hujan turun lebat disertai angin dan petir, khawatir sekali, dan listriknya sempat mati sebentar.. walo hari masih siang, tapi.. :'(

mamak, ayah.. ima takut T_T

Kamis, 18 April 2013

Know Khilafah


Emot penasaran ^^". Sumber http://tutyonstar.blogdetik.com/files/2011/09/smile-question1.jpg 


Hai.. salam ukhuwah, kali ini bertemu dengan saya ukhti sholihah dalam rubrik Know Khilafah. Rubrik ini memberi ruang buat kamu-kamu untuk mengenal Khilafah lebih dekat, kira-kira sudah pada tau ga ya apa itu Khilafah? Kenapa sih harus dibahas? Yoyoyo.. pastinya kita pingin kenalin apa itu khilafah biar kamu-kamu ga pada awam dengan kata yang satu ini, tentunya dengan bahasan yang menarik coz hari gini ga tau Khilafah..? oh no.

Wel.. wajar juga sih kalau banyak dari kita yang ga kenal dengan Khilafah ini, bukan cuma kaum muda, para tetua juga ada lho yang ga tau. Ko’ bisa sih? Iya bisa, bisa karena banyak hal, bisa karena ga pernah menyaksikan khilafah itu diterapkan, bisa juga karena ga pernah dengar khilafah, atau ga tau sejarah tentang khilafah, dan ada juga lho karena ga mau tau.. ups. Hehe, moga-moga aja kita bukan yang terakhir ya kawan.

Ga tau khilafah karena ga pernah menyaksikan khilafah itu diterapkan? Please deh, emangnya khilafah itu apaan sih pake diterap-terapin segala? Emangnya khilafah itu ‘peraturan’ yang perlu diterapkan? Hmm.. lebih tepatnya adalah sistem aturan, yup, khilafah itu adalah suatu sistem yang menerapkan seperangkat aturan yang lengkap, aturan apa tuch? Aturan dari Ideologi Islam. Hoooh.. berat nih bahasannya... -_-“. Tenang kawan, jangan alergi dulu, keep on reading okey? 

So, kalau selama ini diantara sistem pemerintahan yang kita kenal ga jauh-jauh dari demokrasi, republik, monarki, atau parlementer, ternyata khilafah itu merupakan sistem pemerintahan juga lho. Buktinya, kalau sistem lain punya kepala negara atawa pemerintahan dengan sebutan presiden, perdana menteri, kaisar/raja, maka khilafah juga punya sebutan khusus untuk kepala negaranya yaitu khalifah. Oya, sebelum dilanjutin mbacanya, kamu-kamu harus kasi ruang dulu ya untuk ngisi memory mu tentang pembahasan khilafah ini, yang biasanya hanya keisi pembahasan tentang republik, parlementer, demokrasi, dll, come on guys.. you’ve got to give space to know about khilafah.

Khilafah itu adalah suatu sistem yang menerapkan seperangkat alat sholat aturan yang lengkap. *Maaf, typo*. Betul, seperangkat aturan lengkap yang diterapkan oleh khilafah itu tujuannya untuk mengatur negara. Jadi sebagai suatu sistem kenegaraan, pastinya ada banyak pilar (subsistem) yang menyangga khilafah tegak berdiri. Diantaranya sistem pemerintahan, politik, hukum, militer, sosial, ekonomi, juga kesehatan. Nah, kesemua pilar penyangga ini berasal dari sumber yang satu, yaitu akidah Islam. Makanya wajar kalau menyebut khilafah akan disandingkan dengan kata Islam, jadilah sistem ini kenal dengan sebutan Khilafah Islamiyah.

Secara politik, kekuasaan khilafah Islamiyah pernah membentang dari jazirah arab sampai afrika, asia hingga eropa selama lebih dari 1000 tahun lamanya. Waw, keren. Benar, sejak Rasulullah saw. pertama kali hijrah ke Madinah sampai kemarin tahun 1924, khilafah terus berdiri memimpin dunia dengan menerapkan Islam. Coba kita bayangin, kira-kira apa jadinya kita sekarang ya bila dulu tidak ada khilafah yang menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia? Bisa-bisa kita ngikut agama nenek moyang yang animisme bin dinamisme. Hiiiiii takuuuut...

Nah secara politik pemerintahan lagi, sejarah mencatat banyak kisah-kisah inspiratif dari para pemimpin kaum muslimin. Oke, berhubung bulan ini orang-orang pada rame bahas tentang perempuan, saya jadi tertarik ngejelasin kayak apa sih kontribusi politik perempuan di masa khilafah? Ada kisah menarik nih sob dari seorang perempuan dimasa pemerintahan khalifah Umar bin khathab. 

Kala itu khalifah Umar melihat banyak lelaki yang membujang, selidik punya selidik ternyata para lelaki banyak yang membujang karena tidak mampu melamar akibat perempuan-perempuannya netapin mahar yang guedhe alias tinggi or minta maharnya mahal-mahal cuy. Jadilah para lelaki itu ngebujang dulu. Khalifah Umar merasa harus memberi solusi supaya para jomlowan bisa menikah. Solusinya dengan jalan mengeluarkan kebijakan kepada para perempuan supaya membatasi jumlah mahar mereka biar ga kemahalan. Sontak ada seorang perempuan yang protes karena ga terima dengan kebijakan khalifah, gimana bentuk protesnya? Doski ngomong langsung sob ke khalifah Umar. Apa? Ngomong langsung? Pegimana ceritanye? Umar pan kepala negare, nah die cuma perempuan biasa? Kagak pake ngumpulin perempuan rame-rame tapi langsung protes sendirian? Ape die kagak takut kalo protes bakal dipenjarain sama Umar? Hadoh.. cari perkara nih cewe.
Sabar sob, khilafah Islam ga separah itu. Saat doski mempertanyakan kebijakan Umar yang membatasi jumlah mahar sementara Allah telah membebaskan kaum perempuan untuk menetapkan berapapun mahar yang dia inginkan, jleb.. khalifah Umar langsung terdiam dan menyesali diri. Umar menyadari kealpaannya dan membenarkan apa yang disampaikan perempuan ini. Akhirnya khalifah mengambil solusi dengan meluaskan lapangan pekerjaan supaya para jomlowan ga kekurangan harta lagi.

Dari kisah ini kita jadi kegambar jelas kayak gimana kontribusi politik perempuan untuk controlling kekuasaan pejabat tinggi negara supaya berjalan sesuai aturan Allah, aturan Islam. Kehormatannya sebagai perempuan tetap terjaga sob, walaupun kritik ditujukan pada orang nomor satu saat itu, doski ga khawatir untuk menyampaikan dan dia tetap dilindungi. Kerennya lagi, Umar meminta seluruh rakyatnya untuk mencontoh apa yang doski lakukan. Subhanallah..subhanallah.

Sebenarnya masih banyak yang mau diceritain, apa daya kita dibatasi oleh lembar-lembar halaman. Ada segudang lebih pembahasan untuk kenal khilafah lebih dekat. So, segera buka lembaran berikutnya untuk meluaskan fikirmu tentang Islam. Sampai ketemu di edisi berikutnya, bye-bye. ^.^v


PS:
Tulisan pertamaku untuk salah satu rubrik minimagz yang insya Allah akan diluncurin april tahun ini (2013). Semoga lulus meja editor.. ganbate (^,^)9

Selasa, 02 April 2013

Kilas Singkat Dakwah Rasul

Kemarin itu hari ahad pagi di kosan, seorang teman minta bantuan saya untuk menjelaskan buku MPK Agama yang dibacanya buat persiapan UTS. Sedikit kita kupas tentang pengertian manusia, dan sebenarnya masih banyak yang ingin didiskusikan. Namun karena harus pergi jadinya kita cukupkan bahas tentang Gharizah, Hajatul Udlowiyah, dan apa itu Aqal.

Malam sesampainya di kosan, saya tanyakan kembali padanya sudah sejauh apa persiapan buat UTS senin pagi, apa masih ada yang bisa dibantu? Dia menjawab, "Ini aja kak.. tolong jelaskan bagaimana perkembangan Islam di masa Nabi sejak beliau menerima wahyu. Soalnya di buku ini singkat sekali penjelasannya" dia berkata.

Baiklah, dengan semangat saya mulai menjelaskan. Begini dek, memang benar apa yang ditulis dalam buku ini bahwa daur atau marhalah dakwah Rasulullah saw. ada dua, yaitu marhalah Makkah dan marhalah Madinah. Namun bila diamati lagi secara mendalam, sebagaimana pendapat ijtihad seorang ulama Syaikh Taqituddin An-Nabhani, ternyata dalam dua marhalah itu Rasulullah melalui tiga tahapan dakwah. Dua tahapan terjadi di Makkah, dan satu tahapan lagi terjadi di Madinah.

Marhalah Makkah sendiri berlangsung selama 13 tahun, selebihnya hingga beliau wafat terjadi setelah hijrah ke Madinah. Tahapan pertama berlangsung selama tiga tahun, dikenal dengan tahap pembinaan (tatsqif), lalu tahap kedua dikenal dengan tahap interaksi ke tengah-tengah ummat (tafaul) yang berlangsung kurang lebih 10 tahun. Selanjutnya berpindah ke tahapan dakwah berikutnya yaitu penerapan hukum Islam di Madina (tathbiq).

Pada tiga tahun pertama tahapan tatsqif, Rasulullah saw. berhasil membina 40 orang sahabat. Dimulai dari orang-orang terdekat seperti istri, paman, keponakan, hingga sahabat-sahabatnya. Setiap malam secara sembunyi-sembunyi (sirri) mereka mempelajari Islam langsung dari Rasulullah di rumah Arqom, mendengar Rasulullah membacakan Al Qur'an, dan juga sholat berjamaah. Fase ini bertujuan untuk membentuk kader yang siap berdakwah ke tengah masyarakat Makkah. Walau jumlah mereka tidak sebanding dengan banyaknya penduduk Makkah, namun dengan kekokohan pemahaman Islam dan kekuatan Syakhsiyah dalam diri kaum muslimin, mereka siap menghadapi segala tantangan.

Setelah tiga tahun, dakwah berpindah secara alami ke tahapan berikutnya, tafaul. Rasulullah bersama para sahabat secara terang-terangan menyeru penduduk Makkah untuk beriman kepada Allah. Fase tahapan ini ditandai dengan keluarnya kaum muslimin berbaris rapi menuju ka'bah, tawaf sambil meneriakkan kalimat-kalimat tauhid, dan mendakwahi setiap orang yang mereka temui. Rasulullah telah beralih dari menyeru individu kepada menyeru masyarakat untuk mengimani Allah serta meninggalkan kekufuran. Walhasil benturan pemikiran antara keimanan dan kekufuran datang menghadapai, tidak sedikit sahabat yang mengalami siksaan dari kafir Quraisy karena Islam yang mereka dakwahkan. Bahkan Rasulullah juga mengalaminya, salah satunya ketika hendak shalat beliau saw. dilempari kotoran unta hingga fathimah anaknya datang membersihkannya.

Tahapan berdakwah ke tengah-tengah umat ini adalah tahapan dakwah yang paling berat. Secara pemikiran, orang-orang arab di Makkah mengetahui kebenaran Islam yang disampaikan oleh Rasulullah bersama kelompok dakwahnya. Namun mayoritas mereka adalah orang-orang yang beku dengan kekufuran, mereka tidak mau melepas ajaran jahiliyah dari nenek moyangnya, ditambah lagi penguasa-penguasa arab mempertahankan kelangsungan kondisi "beku" ini. Akibatnya mereka memilih untuk mengisolasi dan tidak berinteraksi dengan kaum muslimin. Islam akhirnya hanya berkembang di kalangan sahabat saja.

Musim haji tahun ke 8 masa kenabian, beberapa orang Madinah dari suku Aus dan Khajraj datang ke ka'bah, Rasulullah tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mendakwahi siapa saja yang berhaji, termasuk sekelompok kecil penduduk Madinah ini. Ternyata mereka mau memeluk Islam dan berjanji untuk mengajarkan Islam ke penduduk Madinah. Setahun kemudian mereka kembali berhaji dan menemui Rasulullah. Mereka meminta seorang utusan dari sahabat Rasul untuk mengajarkan Islam di Madinah, maka di utuslah Mus'ab bin Umair.

Subhanallah, hanya dalam waktu setahun Mus'ab mampu berdakwah dan memahamkan Islam pada penduduk Madinah. Beliau mengabarkan pada Rasulullah bahwa tidak ada satu rumah pun di Madinah yang di dalamnya tanpa seorang muslim, dan tidak ada satu orang pun yang tidak membicarakan Islam di sana. Masyarakat Madinah telah sedemikian siap untuk menerima Islam dan meminta Rasulullah menerapkan Islam secara kaffah di Madinah. Ya, Rasulullah telah menempuh jalan untuk menyiapkan masyarakat Madinah sebelum menegakkan Negara Islam. Diutusnya Mus'ab untuk membentuk kesadaran masyarakat adalah jalan yang beliau tempuh. Maka, perintah itu pun turun. Kaum muslimin secara bergelombang mulai berhijrah dari Makkah ke Madinah. Yang terakhir berhijrah adalah Rasulullah.

Sesampainya di Madinah, yang beliau saw. lakukan adalah menegakkan negara Islam (tathbiq ahkamul islam), kaum muslimin mengangkat Rasulullah sebagai Khalifah atau kepala negara, dan hukum Islam sebagai aturannya. Kita melihat Rasulullah pertama sekali membangun Masjid. Masjid yang tidak hanya sebagai pusat ibadah, namun juga tempat membicarakan pengaturan urusan ummat, memikirkan strategi perang, dan juga pusat syiar Islam. Beliau juga mengangkat dua orang sahabatnya sebagai pembantu beliau menjalankan pemerintahan, yaitu Abu Bakar dan Umar.

Hal berikutnya yang beliau lakukan adalah membuat perjanjian dengan orang-orang yahudi di Madinah, mengikat perjanjian dengan mereka agar sebagai warga negara, mereka (yahudi) bisa hidup secara damai berdampingan dengan kaum muslimin dengan jaminan keamanan dan keselamatan dari Negara Islam, tanpa ada perlakuan tidak adil atau menjadikan mereka warga negara kelas dua. Jadi, di dalam Negara Islam itu ternyata penduduknya heterogen, ada berbagai macam suku yang berasal dari Madinah dan Makkah, juga beragam agama dan keyakinan (Islam, Musyrik, Yahudi, dan Nasrani). Namun semuanya berhasil disatukan dalam satu masyarakat Islam.

Wallahu'alam. []